>Cinta yang Islami 129


>Cinta, kata ini begitu menarik untuk diperbincangkan, terutama oleh para remaja dalam masa-masa pubertas. Dan jika membahas cinta seolah tak pernah ada habisnya, karena cinta menyimpan sejuta pesona, sehingga berbagai macam karya bisa lahir karena terinspirasi oleh cinta.
Namun di kalangan remaja, cinta itu diidentikkan dengan hubungan asmara antara lawan jenis yang biasanya menyeleweng dari ajaran Islam. Karena seolah mereka sudah tidak lagi mengindahkan berbagai macam aturan Islam yang seharusnya mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan hal-hal semacam ini mengakibatkan terjadinya penyelewengan makna cinta dari makna yang sebenarnya, dan seolah kata cinta merupakan kata yang pasaran karena sudah biasa didengar bahkan sudah dijadikan sebuah senjata untuk mengeluarkan rayuan-rayuan gombal yang tak bernilai sama sekali.
Padahal Islam tidak hanya memandang cinta dari sekedar alat untuk menjalin hubungan lawan jenis yang menjurus kepada hal-hal yang berlawanan dengan ajaran ataupun aturan-aturan Islam. Lantas bagaimanakah pandangan Islam terhadap cinta???

“Berbelas kasihlah kalian kepada semua orang yang ada di atas bumi, tentulah akan dibelaskasihani pula kalian semua oleh Dzat dan semua yang ada di langit.” (HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud)
Dari hadist tersebut, kita dapat mengetahui bahwa mahabbah atau rasa cinta mencintai satu kepada yang lain adalah suatu perkara yang diperintahkan di dalam Islam, dan ini bisa dimengerti karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Yang menyebarkan cinta atau rahmah bagi seluruh alam, karena dengan adanya cinta di seluruh belahan bumi ini akan bisa menghadirkan persatuan di antara sesama manusia, terutama di antara umat Islam tentunya. Dengan tujuan agar kebahagiaan dan persatuan umat Islam dapat tercapai secara sempurna. Karena mustahil jika kebahagiaan umat bisa terwujud tanpa adanya persatuan dan persatuan pun tidak akan bisa terwujud tanpa adanya mahabbah dari ummat Islam itu sendiri. Alangkah indahnya jika umat Islam bisa saling mencintai satu sama lain sehingga tidak akan ada permusuhan dan pertikaian dan yang ada hanyalah kedamaian dan kerukunan. Lalu bagaimana cara kita untuk mewujudkan angan ini agar tidak menjadi angan kosong tanpa kenyataan?
Saudaraku! Setengah dari jalan yang menguatkan mahabbah adalah dengan ifya’ussalam, yaitu memberi salam kepada yang lain.

“Sungguh manusia yang paling bakhil adalah siapa yang paling bakhil mengucapkan salam. Dan manusia yang paling lemah adalah manusia yang tidak mampu mengucapkan do’a.” (HR. Ibnu Hiban)
Jika kita tidak ingin menjadi orang yang bakhil dan paling lemah maka bermurah hatilah memberikan salam, karena unsur yang terdapat dalam salam itu adalah do’a. Hal ini sesuai dengan arti salam, yaitu: Semoga engkau mendapatkan perlindungan dan jaminan dari Allah, yang mirip dengan ungkapan: Semoga Allah menyertaimu, yang berarti menolong dan menyayangimu (Abu Abidillah Faisol Al-Hasyidi: 2006). Bagi orang yang sendirian mengucap salam hukumya fardhu hukumnya fardhu ‘ain, sedangkan mendahului mengucap salam hukumnya adalah sunah.
So…., marilah kita amalkan sunah ini, karena dengan melakukan hal demikian akan lebih melanggengkan cinta dan ikatan persaudaraan di antara kita.
Seorang penyair mengatakan:
Bermurah hatilah menyampaikan salam kepada kami.
Jika engkau tidak berkunjung menyampaikan salam itu, setengah dari kunjungan tulislah kalimat cinta dengan air mata, agar lestari sebagai tanda atau bukti bagi orang-orang yang mencintai.
Saudaraku!!! Marilah kita senantiasa menyebarkan salam, agar mahabbah senantiasa ada di dalam hati kita. Karena sesungguhnya cinta itu bukanlah kedok nafsu, melainkan cinta Yang maha Penyayang agar kita senantiasa mengasihi antara satu dengan yang lain. Sehingga tidak akan terjadi kerusakan, karena kita adalah khoiru ummah yang diciptakan untuk menjaga bumi ini dari kerusakan.
Semoga Allah melindungi dan senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, agar kita selalu beristiqomah di jalan-Nya.

Artikel ini hasil karya aktivis IMM Kom. FAI UMSurabaya

Leave a comment