>Menjadi “The Idol Mam” 121


>

Seorang ibu pasti akan merasa senang dan bangga bila berhasil menjadi idola bagi anaknya. Bagaimana tidak, karena sebagai idola berarti tokoh ibu menjadi sosok yang disenangi atau dicita-citakan oleh anak. Sebagai sosok idola maka karakter ibu menjadi suatu hal yang melekat dalam jiwa anak dan sangat berpengaruh atau berperan dalam kehidupan anak. Dengan menjadi idola, seorang ibu akan lebih mudah untuk mengarahkan anaknya, sekaligus juga sebagai suri tauladan bagi sang anak guna pengembangan potensi-potensinya di kemudian hari. 
Sosok ibu yang secara kodrati “dekat” dengan anak – karena telah melahirkan, merawat dan menyusui anaknya – ternyata tidak secara otomatis bisa menjadi tokoh idola anak. Penyebab utamanya biasanya terletak pada kurangnya ketrampilan dan wawasan pengetahuan ibu dalam mengurus dan membesarkan anak. Adanya perbedaan karakter tiap anak, perbedaan usia dan tahapan perkembangan anak serta perbedaan zaman menuntut adanya wawasan pengetahuan yang luas, kesediaan diri untuk terus memperbaiki diri, kreativitas serta ketrampilan seorang ibu dalam memberikan pengasuhan yang terbaik bagi anak-anaknya. 

Penyebab lain yang dapat menjadikan seorang ibu sulit untuk menjadi tokoh idola bagi anaknya adalah lingkungan di sekitar anak yang sangat berpengaruh. Misalnya anak terlalu banyak menonton TV atau membaca komik sehingga tokoh-tokoh yang dijadikan idolanya adalah tokoh-tokoh utama dalam film yang ditontonnya atau tokoh-tokoh yang ada dalam komik yang dibacanya. Sejauh tokoh-tokoh yang diidolakan anak itu memang memiliki karakter yang baik, mungkin tidak menjadi masalah. Namun apabila karakter yang diidolakan anak ternyata kurang baik, maka hal ini tentunya akan mempengaruhi perkembangan pribadinya kelak. 

Untuk menjadi ibu yang diidolakan anak, memerlukan proses berkesinambungan yang dilandasi oleh kemauan serta kasih sayang yang besar. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa ibu lakukan: 

1.. Selalu berusaha mendekatkan diri pada anak dengan selalu menjalin interaksi dan komunikasi yang positif dan akrab dengan anak. Misalnya berbincang-bincang bersama mengenai hal-hal yang dialami anak di sekolah pada hari itu, dimana ibu sekaligus bisa menggunakan momen tersebut untuk menyelipkan pesan moral di dalamnya. 
2.. Tanggap dan sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan fisik anak yang dirasa penting – tanpa diminta anak – namun tetap harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang ada. Misalnya saja mengganti kaos kaki anak yang sudah kendur, mengupayakan asupan makanan yang bergizi namun disukai anak, melengkapi peralatan sekolah anak, dsbnya. Dengan cara ini, anak merasa sangat “istimewa” diperlakukan demikian sehingga merasa nyaman dan bangga memiliki ibu seperti ini. 
3.. Tampilkan sifat-sifat khas seorang ibu, yang telah dianugrahkan Tuhan seperti sifat “keibuan”, lemah lembut dan mengayomi sehingga kebutuhan psikologis anak seperti rasa aman, nyaman dan kasih sayang dapat terpenuhi. Kemampuan ibu untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak, disamping kebutuhan fisiknya, membuat ibu menjadi sosok yang sangat dibutuhkan, dikagumi sekaligus disenangi anak. 
4.. Sediakan waktu untuk bersama-sama anak menikmati berbagai aktivitas yang menyenangkan anak, seperti bermain di lingkungan rumah, rekreasi ke pantai , dsb. Kebersamaan yang terjalin akrab akan membuat anak bahagia dan merasakan bahwa kehadiran ibu merupakan sosok yang menyenangkan baginya. 
5.. Bersedia menjadi tempat “curhat” bagi anak. Jadilah pendengar yang baik bagi anak sehingga anak bisa bebas mengekspresikan perasaan-perasaanny a. Pahami pola fikir anak sesuai dengan tahapan usianya, berusahalah untuk empati dan menerima anak apa adanya, hindari kritikan yang berlebihan, celaan atau sesuatu yang membuat anak merasa tak nyaman, terancam, terpojok dan selalu disalahkan. 
6.. Memperluas wawasan pengetahuan dan ketrampilan dalam pengasuhan anak, misal melalui membaca buku, ikut seminar tentang pengasuhan anak, konsultasi dengan para ahli yang berpengalaman dalam pengasuhan anak atau dengan ibu-ibu yang dianggap telah berhasil menjadi tokoh idola bagi anaknya, dsb. Dengan bertambahnya wawasan dan informasi, diharapkan akan membimbing ibu untuk mampu bertindak bijaksana, berfikir kreatif dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul dan mampu memberikan yang terbaik bagi anaknya, sehingga anak benar-benar merasakan manfaat adanya ibu, misalnya ibu bisa menjadi sumber inspirasi dan pemberi semangat bagi anak. 
7.. Bersedia untuk introspeksi atau terus memperbaiki diri agar tercipta kedekatan dengan anak. Hindari sikap merasa paling benar dan tidak peduli terhadap pendapat atau kritikan anak karena hal ini justru akan membuat ibu “jauh” dari anak. 
8.. Jangan biarkan anak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang dapat memperkecil kesempatan ibu menjalin interaksi dengan anak dan menanamkan nilai-nilai yang baik bagi anak. Misalnya dengan tidak membiarkan anak menonton TV terlalu lama tanpa didampingi ibu, bermain games komputer terus menerus, dsb.

Leave a comment