>CINTA DULU APA NIKAH DULU?? 6


>

Menikah tanpa cinta, atau cinta tanpa menikah?

Hampir 75 persen kawan yang saya Tanya tentang hal itu akan menjawab “Bukan Keduanya”, tanpa mampu memberi jawaban yang pasti apabila dihadapkan pada dua pilihan tersebut. Bahkan ada seorang kawan yang memberi gambaran ” Love is The Best of Marriage and marriage is the love a gun”. Namun, jika kita harus memilih maka apa yang akan kita lakukan?

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Alloh SWT di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana Firman Alloh SWT,


yang artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21)

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta Adalah Fitrah Yang Suci

Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik bisa jadi hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya. Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan. Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia. Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia. Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

Cinta tanpa menikah

Adalah sifat yang manusiawi apabila seseorang selalu menginginkan apa yang ia sukai. Begitu pulakah tentang urusan cinta? STOP!! Tunggu dulu. Banyak orang mengatakan “Mencintai tak berarti harus memiliki” walaupun statement tadi dirasa kurang tepat coz jika tidak memiliki maka apa yang dapat kita cintai? Lalu pendapat mana yang lebih tepat?

Kita tentu ingat banyak novel percintaan yang berakhir dengan ”Tidak memiliki”. Laila majnun salah satunya, Kisah yang terjadi antara si ”Gila” Qais dengan Laila yang saling mencintai namun mendapat tentangan ncukup keras dari lingkungan hingga hubungan mereka tidak sampai ke jenjang pernikahan justru berakhir pada hal yang cukup tragis. Berakhir pada kematian. Tidak jauh beda dengan Romeo-Juliet yang berakhir dengan tetesan racun yang meregangkan nyawa sebagai menu penutup cerita. Namun apa itu berarti cinta harus diakhiri dengan pernikahan?

Menikah Tanpa Cinta

Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh cinta. Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah pernikahan. Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan Al Hadist

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya” (QS. Al Baqarah: 232)

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka, lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)

Hal tersebut dikarenakan yang menjalani sebuah pernikahan adalah kedua pasangan itu bukanlah wali mereka.

Selain itu seorang yang hendak menikah hendaknyalah melihat dahulu calon pasangannya seperti termuat dalam hadist: “Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya” (HR. Imam Ahmad)

Dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah hal ini selalu terjadi, bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka pernikahan, kedua pasangan saling membenci dan saling mencaci maki satu sama lain. Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang dengan mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci yang diberikan Allah Subhanalhu wa Ta’ala. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan. Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang hakiki dalam mensikapi problematika rumah tangga nantinya.

Kita tentu ingat bagaimana perujangan Raihana dalam novel ”Pudarnya Pesona Cleopatra” yang mati-matian mencoba membangkitkan gairah cinta suaminya lewat berbagai macam cara namun tenyata hati suaminya yang menikahinya tanpa diawali dengan rasa cinta. Dan saat sang suami mulai luluh hatinya ternyata Raihana sudah berpulang.

Pilih Mana?

Kembali kepada pertanyaan awal, jika kita dibenturkan dengan dua hal tersebut maka mana yang akan kita pilih? Jawabannya adalah kembali pada pribadi kita masing-masing. Ada diantara kita yang sepertinya cukup mudah dlam menumbuhkan rasa cinta sehingga apabila dihadapkan pada pilihan kedua mungkin ia sedikit lebih santai. Namun apapun pilihan kita, selama itu baik maka insyaallah kebahagiaan akan tetap dapat menyelimuti kita.

Oleh : Gandhung Fajar Panjalu

Leave a comment