>Jangan Menangis Bidadariku 27


>

Pagi yang hangat merengkuh bumi, mengusir hawa dingin yang menusuk-nusuk tulang. Sang Surya mulai menggeliat di ketiak bukit, pekat samping rumahku, ya…. perbukitan yang mempunyai sejarah yang legendaris. Konon, bukit itu jelmaan dari dodol yang dibawa seorang jejaka pada bunga desa ini. Ajaib, tapi aku meragukan kebenarannya.

Pagi ini aku berharap ada jepretan pelangi terpampang di langit. Aku butuh cakrawala cerah yang berhias mega-mega putih, siulan burung yang berirama teratur. Aku kesepian, hatiku hampa bak tak bertuan. Apakah ini karena aku selalu berkubang dalam lumpur dosa? Maksiat yang selalu mengisi agenda harianku? Umur yang telah beranjak dewasa ini hanya kuisi dengan tipuan-tipuan belaka. Aku ragu, aku kalah]. Bagaimana caaranya aku memenangkan pertempuran ini? Terus terang aku masih terlalu rapuh untuk berlaga.

Pag ini, kusapa hari dengan shalat dhuha. Kupanjangkan sujudku kepada-Nya, kuuluk salam dengan suaraku yang paaa….ling lembut dan tiada berdaya kepada-Nya. Kuakhiri pertemuanku dengan Yang Maha Kuasa dengan untaian do’a dan harapan. Aku berharap tenang dan perjalanan hidup yang selalu diridhai-Nya. Bukankah ini kunci kebahagiaan? Atau surga dunia. Walau fisikku kuat, namun aku masih belum tegara menjalani waktu. Aku wanita yang lemah. Aku ingin tantangan, tapi aku juga masih khawatir. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan yang lebih bermakna.

Akhirnya kusadari kesalahanku, kekhilafanku pada-Nya. Aku selalu banyak menuntut Allah, mengatur kodrat-Nya, dalam sisi hidupku. Termasuk cinta. Bukankah ini sebuah kesalahan? Dan kesalahan itu berbuah dosa. Aku mencintai manusia, melebihi cintaku pada Allah. Lebih mengagungkan cinta pada si Firman (kekasihku). Bukankah ini sebuah kesalahan? Aku bisa mencintai Allah tapi aku tidak tahu dari mana akan kumulai percintaan ini. Itulah kebodohanku. Beda dengan rasa cintaku pada si Firman, yang menurutku cinta pada Firman penuh dengan logika. Namun aku menemukan sisi-sisi kekurangan dan keganjalan. Mengapa cintaku hanya berbuah air mata? Hanya menubuhkan kegundahan, kegelisahan, kekhawatiran yang selalu menghantuiku setiap saat. Padahal, semua orang tahu dan pasti merasakan cinta. Kata mereka, cinta itu indah dan pasti melahirkan kesenangan, kebahagiaan. Apalagi jika yang dicintainya juga mencintainya. Padahal orang yang kucintai, juga mencintaiku, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

Hubunganku dengan Firaman sudah lama, dua tahun yang lalu. Aku tak menyangka aku akan bisa sedekat ini. Waktu itu dia jadi tenaga sukarelawan di desaku ini. Desaku terkena musibah, 90% warganya menderita penyakit cikungunya. Termasuk aku. Kesimpulannya, Firman adalah pahlawan desaku, juga pahlawanku. Aku tak tahu kekurangannya, atau sisi jelek dia. Sehingga saat Firman menyatakan cinta padaku, aku takluk. Walau sebelumnya aku tidak punya perasaan sama dia. Memang aku manusia yang bodoh. Mengapa aku tidak mempersulit dia memperoleh cintaku? Bukankah cinta itu identik dengan perjuangan. Dengan memberi tantangan pada dia, mungkin aku bisa lebih kenal perangai dia yang sebenarnya. Atau pandanganku sudah gelap, mengingat sejak SMP kuimpikan kekasih seorang dokter. Lantas saat Firman meluncurkan serangan, tak dinyana langsung gol.

Aku bahagia ketika Firman bersamaku. Berdua di bibir pantai sambil menyaksikan sunset kesukaanku. Bolam raksasa berwarna kuning keemasan yang bergerak perlahan-lahan di ufuk barat, lalu tenggelam di perut pantai dan di kaki langit. Setelah itu Firman menggandeng pundakku mengajak pulang. Sebenarnya aku masih enggan pulang. Melihat reaksiku begitu, dia pasti ngomong, “Say, sudah maghrib, entar orang tuamu marah sama aku, kita tidak diizinkan lagi.” Mendengar kata-kata itu aku langsung beranjak bangun. Kata-kata itu ampuh, walau sebenarnya aku ingin berlama-lama di pantai bersamanya. Tapi aku takut juga sama ayahku, tipikal orang tua yang keras.

Namun nuraniku yang paling dalam begitu merintih. Aku ingin selalu berada di sampingnya, ingin selalu di dekatnya. Aku ditimpa masalah yang krusial atau dilematis. Bukankah aku bukan muhrimnya? Jika berdua dengannya maka yang ketiga adalah syetan. Tapi aku selalu ingin bersamanya. Aku wanita yang pencemburu, aku khawatir jika aku jauh darinya, Firman akan selingkuh. Apalagi pekerjaannya yang selalu bergaul dengan bermacam-macam manusia, aku takut Firman kecantol cewek-cewek yang lebih cantik dariku yang jadi pasiennya. Aku ingin Firman hanya milikku, dia tak kusudikan berbagi cinta dengan siapapun. Lagipula aku bukan tipe gadis yang cerdik. Firman cowok kota yang pasti punya jurus ampuh untuk meruntuhkan hati cewek yang disukainya. Beda dengan aku, kubercinta hanya bermodal pasrah… .

Sudah dua minggu lamanya Firman tidak mengunjungi dan menelponku. Biasanya dia rutin tiap tiga hari sekali ke sini, mengajakku ke pantai atau sekadar mengantarkan sekuntum bunga atau makanan kesukaanku. Apakah dia sangat sibuk melayani pasiennya? Atau… barangkali dia telah berpindah hati. Tak terasa air mata meleleh dari kelopak mataku, aku tak rela jika tiba-tiba hubungan ini akan kandas di tengah jalan. Perahuku pecah tanpa sebab. Apakah sebentar lagi aku akan tenggelam? Karam bersama harapan yang tidak terwujud?

Di hari yang ke-15 ini, penantianku yang terakhir. Ku duduk di depan rumahku di bawah rimbunnya pohon delima yang sedang berkembang, pertanda akan berbuah. Kicauan burung-burung milik ayahku bak suara pengumuman kematian yang membuat sedih anggota keluarga yang ditinggalkannya. Aku begitu merindukan Firman. Tapi ia tak jua muncul. Kuhapus linangan air mata, sambil kupandangi lorong yang biasa ia lewati. Aku tak tahan, air mataku semakin deras mengucur.

“Assalamu’alaikum, sayang.” Tiba-tiba dari belakangku muncul suara. Aku menoleh ke belakang, ternyata Firman telah ada di dekatku. Aku kaget, ternyata dia datang tidak lewat depan rumah, tapi dari belakang.

“Say, kok nangis kenapa? Kangen sama aku ya?” Dia menghapus air mataku dengan sapu tangannya sambil menggodaku. Dia menatapku keheranan.

Aku tidak menjawab sepatah katapun, kualihkan pandanganku ke langit sana, lalu kutundukkan kepala melihat ke tanah. Kuberusaha untuk tidak menangis tapi ku tak bisa. Air mata semakin meluap-luap tak terkira menganak sungai di pipi, bak Bengawan Solo di musim hujan. Aku tak berani menatap wajah Firman, biarlah dia mau ngomong apa; cengeng, nangisan, atau bla… bla… bla… aku tak peduli. Aku rindu sama dia, tapi aku malah menangis. Mengapa aku tidak memeluknya? Namun rasa rindu dikalahkan amarahku padanya.

“Say, bukannya aku ingin mempermainkan kamu, tidak mengunjungi selama dua minggu, tapi aku ingin tahu seberapa besar rindumu padaku. Akhirnya kutemukan jawabannya. Ternyata kau memang wanita yang dikirimkan Tuhan untukku, mencintaiku dengan sepenuh jiwa.”

“Habis maghrib ayah ibuku mau ke sini. Barusan aku sudah ngomong sama ayah ibumu bahwa…. aku mau melamarmu hari ini juga.”

Aku kaget. Tidak salahkah keputusan dia memilihku sebagai calon pendamping hidupnya? Aku merasa seolah mimpi. Tiba-tiba dia mengambil kotak kecil dari saku celananya, isinya cincin. Dia meraih tanganku, memasukkan cincin bertulis “F” ke dalam jari manisku.

“Sekarang kita resmi tunangan, aku ingin satu bulan lagi kita menikah. Jangan menangis lagi bidadariku.”

Lidahku seakan terkunci, aku hanya diam menatapnya sambil tersenyum, menyunggingkan senyum yang semanis-manisnya. Firman tambah cakep dan kelihatan tambah alim hari ini, memakai baju koko putih plus topi hitam.

“Nak, sudah adzan, siap-siap untuk sholat maghrib berjama’ah. Nak Firman yang jadi imamnya ya?” Tiba-tiba ayahku memanggil dari beranda rumah, kelihatannya sudah siap untuk sholat.

“Itu lho, ayahku ngajak sholat. Aku ga’ sholat lagi libur. Aku mau nyiapin makan buat tamu malam ini.”

“Jangan ngomong tamu, bilang aja soulmate ama mertua, gitu aja kok repot.” Memang kebiasaan Firman adalah selalu menggodaku.

Aku hanya tersenyum mendengar omongannya. Oh…. ternyata begini perasaan orang punya tunangan. Dan mudah-mudahan mertuaku nanti tidak killer. Amin.

Leave a comment