>Analisis Kritis terhadap kitab Ta’limul Muta’allim 44


>Catatan kecil ini merupakan telaah terhadap sebuah kitab yang cukup terkenal karya Az Zarnuji. Biasanya, dengan di cetak di kertas kuning dan ditulis tanpa harokat (Gundul), kitab ini beredar di berbagai institusi pendidikan islam, khususnya yang berlabel pesantren meskipun itu pesantren modern sekalipun.Hal ini memang tidak mengherankan, karena di dalam kitab ini terdapat banyak hal yang memang harus dipatuhi oleh seorang, apalagi dalam kapasitas seorang murid, namun di dalamnya terdapat pula hal yang sejatinya kurang sesuai dengan Islam, sehingga kitab ini mendapat kritikan yang tidak sedikit dari masyarakat, khususnya kaum moderat dan terpelajar.Sejatinya ada apa di balik kitab ini? Mengapa kitab ini menjadi objek pro kontra? Bagaimana jika kita tetap mempelajari dan mengamalkan kitab ini? Hal inilah yang akan penulis sampaikan dalam catatan ini.

A. Riwayat Hidup Az-Zarnuji
Terlahir dengan nama Burhanuddin al-Zarnuji, sebagian menyebutkan bahwa namanya adalah Syeikh Ibrahim bin Isma’il Al Zarnuji. Jika dilihat dari nisbahnya, yaitu Az-Zarnuji, maka sebagian peneliti mengatakan bahwa ia berasal dari Zaradj, yakni suatu daerah yang kini dikenal dengan nama Afganistan. Adapula yang menyebutkan bahwa ia berasal dari daerah Ma Warâ’a al-Nahar (Transoxinia). Tidak diketahui secara pasti mengenai tanggal kelahiran meupun sejarah kehidupannya, namun ada dua pendapat yang menjelaskan tentang kematiannya, yakni Pertama, pendapat yang mengatakan beliau wafat pada tahun 591 H./1195 M. Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa Az-Zarnuji wafat pada tahun 840 H./1243 M.
Karya Az-Zarnuji yang berjudul Ta’allim al-Muta’allim ditulis dengan bahasa Arab. Kemampuannya berbahasa Arab tidak bisa dijadikan alasan bahwa beliau keturunan Arab. Beberapa referensi telah penulis telaah dan tidak ditemukan bahwa az-Zarnurji adalah bangsa Arab, namun bisa jadi hal itu benar, sebab pada masa penyebaran agama Islam banyak orang Arab yang menyebarkan agama Islam ke berbagai negeri, kemudian bermukim di tempat di mana ia menyebarkan agama Islam.
Az-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkan, yaitu ibu kota yang menjadi pusat keilmuan, pengajaran dan lain-lainnya. masjid-masjid di kedua kota tersebut dijadikan sebagai lembaga pendidikan dan diasuh oleh beberapa guru besar seperti Burhanuddin Al-Marginani, Syamsuddin Abdil Wajdi Muhammad bin Muhammad bin Abdul Satar, selain itu banyak guru Az- Zarnuji yang pendapat-pendapat mereka banyak diangkat dalam karyanya Ta’allim al-Muta’allim hinga kini banyak dikaji ulang oleh orang-orang Islam di berbagai negara Islam termasuk Indonesia.
Selain tiga orang di atas, Az-Zarnuji juga berguru kepada Ali Bin Abi Bakar Bin Abdul Jalil Al Farhani, Ruknul Islam Muhammad bin Abu Bakar yang dikenal dengan nama Khawahir Zada, seorang mufti Bukhara yang ahli dalam bidang fiqih, sastra dan syair, Hammad Bin Ibrahim ahli fiqih, sastra dan ilmu kalam, Fakhuruddin Al-Kasyani, Rukhnuddin al-Farhami ahli fiqih, sastra dan syair. Ia juga belajar kepada Al-Imam Sadiduddin Asy-Syirazi.

B. Analisa Objektif Kitab Ta’limul Muta’allim
Buku Ta`lim al-Muta`allim adalah satu-satunya karya Az-Zarnuji. Namun bukan berarti tidak ada karya beliau yang lain. Sebab logikanya seorang alim seperti Az-Zarnuji yang selalu berkecimpung di dunia pendidikan bahkan seluruh hidupnya ia gunakan untuk pendidikan. Di samping itu, guru-guru Az- Zarnuji dan orang-orang seangkatan dengannya banyak menulis kitab. Jadi menurut penulis mungkin saja Az-Zarnuji menulis kitab lain dari yang disebutkan tetapi tidak diterbitkan.
Di Indonesia, kitab Ta`lim al-Muta`allim Thuruq al-Ta`alum dikaji dan dipelajari hampir di setiap lembaga pendidikan Islam, terutama lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren, bahkan di pondok pesantren modern sekalipun, seperti halnya di pondok pesantren Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Pada dasarnya ada beberapa konsep pendidikan Zarnuji yang banyak berpengaruh dan patut diindahkan, yakni :
1) Motivasi dan penghargaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan ulama
2) Konsep filter terhadap ilmu pengetahuan dan ulama
3) Pendekatan-pendekatan teknis pendayagunaan potensi otak, baik dalam terapi alamiyah atau moral-psikologis.
Point-point ini semuanya disampaikan Zarnuji dalam konteks moral yang ketat. Maka, dalam banyak hal, ia tidak hanya berbicara tentang metode belajar, tetapi ia juga menguraikannya dalam bentuk-bentuk teknis. Namun walaupun demikan, bentuk-bentuk teknis pendidikan ala Zarnuji ketika dibawa ke dalam wilayah dengan basis budaya modern, terkesan canggung. Saat itulah, Ta’lim kemudian banyak dipandang secara “tidak adil” (baca: apriori), ditolak dan disudutkan. Tetapi menurut penulis, terlepas dari pro-kontra kelayakannya sebagai metodologi pendidikan, yang jelas Zarnuji dalam cermin besarnya telah memberikan sebuah nuansa tentang pendidikan ideal; sebuah pendidikan yang bermuara pada pembentukan moral.
Secara umum kitab ini berisikan tiga belas pasal yang singkat-singkat, yaitu;
1) Pengertian Ilmu dan Keutamaannya
2) Niat di kala belajar
3) Memilih ilmu, guru dan teman serta ketahanan dalam belajar
4) Menghormati ilmu dan ulama
5) Ketekunan, kontiunitas dan cita-cita luhur
6) Permulaan dan intensitas belajar serta tata tertibnya
7) Tawakal kepada Allah
8) Masa belajar
9) Kasih sayang dan memberi nasehat
10) Mengambil pelajaran
11) Wara (menjaga diri dari yang haram dan syubhat) pada masa belajar
12) Penyebab hafal dan lupa, dan
13) Masalah rezeki dan umur.
Dari ke 13 bab pembahasan di atas, dapat kita lihat bahwa dari segi metode belajar yang dimuat Zarnuji dalam kitabnya itu meliputi dua kategori. Pertama, metode bersifat etik. Kedua, metode yang bersifat strategi. Metode yang bersifat etik antara lain mencakup niat dalam belajar; sedangkan metode yang bersifat teknik strategi meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar. Apabila dianalisa maka akan kelihatan dengan jelas Zarnuji mengutakan metode yang bersifat etik, karena dalam pembahasannya beliau cenderung mengutamakan masalah-masalah yang bernuansa pesan moral.
Menurut pengamatan penulis, setidaknya beberapa hal berikut merupakan beberapa materi penting yang terdapat dalam kitab Ta’lim Muta’allim, dengan tanpa mengesampingkan materi lain, dimana materi berikut ini menjadi materi yang sangat penting dalam proses pembelajaran seorang muta’allim. Diantara materi tersebut adalah :

1. Hakikat ilmu dan keutamaannya (Fi Mahiyah al-‘Ilmi wa al-fiqhi wa Fadlih)
Dalam kitab Ta’lim al Muta’allim karangan Zarnuji ilmu adalah suatu sifat yang dengannya dapat menjadi jelas pengertian sesuatu yang disebut. Ia mengatakan, tidak ada ilmu kecuali dengan diamalkan dan mengamalkannya adalah meninggalkan tujuan duniawi untuk tujuan ukhrawi. Setiap orang sebaiknya tidak sampai melupakan dirinya dari hal-hal yang berguna, agar akal dan ilmu tidak menjadi dalih dan menyebabkannya bertambah maksiat.
Dalam Islam, mencari ilmu adalah kewajiban yang tidak dapat ditawar mulai dari buaian sampai liang lahad. Menuntut ilmu wajib bagi muslim dan muslimat. Hal ini juga sesuai dengan konteks pendidikan yang telah dikonsep oleh UNESCO bahwa orang hidup harus mencari ilmu (long life education). Zarnuji dalam kitabnya menjelaskan bahwa bukan semua ilmu yang wajib dituntut oleh seorang muslim, tetapi yang wajib baginya adalah menuntut ilmu hal (ilmu yang menyangkut kewajiban sehari-hari sebagai muslim, seperti ilmu tauhid, akhlak dan fikih) dan lain sebagainya.
Wajib pula bagi muslim mempelajari ilmu yang menjadi prasyarat untuk menunaikan sesuatu yang menjadi kewajibannya. Dengan demikian wajib baginya mempelajari ilmu mengenai jual beli bila berdagang. Wajib pula mempelajari ilmu yang berhubungan dengan orang lain dan berbagai pekerjaan. Maka setiap orang yang terjun pada suatu profesi harus mempelajari ilmu yang menghindarkannya dari perbuatan haram di dalamnya. Kemudian setiap muslim wajib mempelajari ilmu yang berkaitan dengan hati, seperti tawakkal (pasrah kepada Allah), inabah (kembali kepala Allah), khauf (takut kepada murka Allah). dan rida (rela atas apa yang ditakdirkan Allah atas dirinya).
Dalam kitabnya ini, Zarnuji membagi ilmu pengetahuan kepada empat kategori.
Pertama, ilmu fardhu `ain, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim secara individual. Adapun kewajiban menuntut ilmu yang pertama kali harus dilaksanakan adalah mempelajari ilmu tauhid, yaitu ilmu yang menerangkan keesaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Baru kemudian mempelajari ilmu-ilmu lainnya, seperti fiqih, shalat, zakat, haji dan lain sebagainya yang kesemuannya berkaitan dengan tatacara beribadah kepada Allah.
Kedua, ilmu fardhu kifayah, ilmu yang kebutuhannya hanya dalam saatsaat tertentu saja seperti ilmu shalat jenazah. Dengan demikian, seandainya ada sebagian penduduk kampung telah melaksanakan fardhu kifayah tersebut, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Tetapi, bilamana seluruh penduduk kampung tersebut tidak melaksanakannya, maka seluruh penduduk kampung itu menanggung dosa. Dengan kata lain, ilmu fardhu kifayah adalah ilmu di mana setiap umat Islam sebagai suatu komunitas diharuskan menguasainya, seperti ilmu pengobatan, ilmu astronomi, dan lain sebagainya.
Ketiga, ilmu haram, yaitu ilmu yang haram untuk dipelajari seperti ilmu nujum (ilmu perbintangan yang biasanya digunakan untuk meramal). Sebab, hal itu sesungguhnya tiada bermamfaat dan justru membawa marabahaya, karena lari dari kenyataan takdir Allah tidak akan mungkin terjadi.
Keempat, lmu jawaz, yaitu ilmu yang hukum mempelajarinya boleh karena bermamfaat bagi manusia. Misalnya ilmu kedokteran, yang dengan mempelajarinya akan diketahui sebab dari segala sebab (sumber penyakit). Hal ini diperbolehkan karena Rasullah Saw. juga memperbolehkan.
Adapun mengenai keutamaan ilmu, Zarnuji menyebutkan keutamaan ilmu hanya karena ia menjadi wasilah (pengantar) menuju ketakwaan yang menyebabkan seseorang berhak mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT. dan kebahagiaan yang abadi. Dengan ilmu, Allah memberikan kemuliaan kepada Nabi Adam as. atas para malaikat dan Allah menyuruh mereka sujud kepada Adam, mereka sujud kecuali Iblis yang angkuh.

2. Niat Waktu Belajar (Finniyati fi al-Hal at-Ta’alum)
Zarnuji menjelaskan bahwa niat adalah azas segala perbuatan, maka dari itu adalah wajib berniat dalam belajar. Konsep niat dalam belajar ini mengacu kepada hadis Nabi saw yang artinya “Hanyasanya semua pekerjaan itu harus mempunya niat, dan hanyasanya setiap pekerjaan itu apa yang ia niatkan”.(HR. Bukhari)
Dengan demikan amal yang berbentuk duniawi seperti makan, minum dan tidur bisa jadi amal ukhrawi dengan niat yang baik. Dan sebaliknya amal yang berbentuk ukhrawi seperti shalat, membaca zikir jadi amal duniawi dengan niat yang jelek seperti riya. Zarnuji berpendapat bahwa belajar adalah suatu pekerjaan, ia harus mempunya niat belajar.
Zarnuji menjelaskan bahwasanya dalam belajar hendaklah berniat untuk:
• Mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla
• Memperoleh kebahagiaan akhirat
• Berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan kaum yang bodoh
• Mengembangkan dan melestarikan Islam
• Mensukuri nikmat akal dan badan yang sehat. Sebagaimana kutipan Syekh Burhanudin yang artinya Sungguh merupakan kehancuran yang besar seorang alim yang tak peduli, dan lebih parah dari itu seorang bodoh yang beribadah tanpa aturan, keduanya merupakan fitnah yang besar di alam semesta bagi orang-orang yang menjadikan keduanya sebagai pedoman. Ini mengisyaratkan bahwa orang yang pandai tetapi kependaiannya hanya untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain itu tidak berarti, begitu juga orang bodoh beribadah ibadahnya bias batal atau ia akan mudah terjerumus ke aliran sesat.

Di samping itu Zarnuji menyebutkan agar penuntut ilmu yang telah bersusah payah belajar, agar tidak memanfaatkan ilmunya untuk urusan-urusanduniawi yang hina dan rendah nilainya. Untuk itu kata Zarnuji hendaklah seseorang itu selalu menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Jadi yang perlu dicamkan adalah bahwa dalam mencari ilmu harus dengan niat yang baik sebab dengan niat itu dapat menghantarkan pada pencapaian keberhasilan. Niat yang sungguh-sungguh dalam mencari ilmu adalah keridhaan Allah akan mendapatkan pahala. Tidak diperkenankan dalam mencari ilmu untuk mendapatkan harta banyak.

3. Memilih Ilmu, Guru dan Kawan
Menurut Az-zarnuji; bahwasanya seluruh penuntut ilmu, baik pelajar maupun mahasiswa hendaklah memilih ilmu yang terbaik baginya, berguna untuk agama, di waktu itu dan di masa-masa yang akan datang (mendatang). Salah satu ilmu yang perlu diprioritaskan adalah ilmu tauhid dan ma’rifat karena menurut Zarnuji beriman secara taklid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya), meskipun sah tetapi tetap berdosa, karena tidak berusaha mengkaji dalilnya.
Menurut Zarnuji seorang pelajar perlu bermusyawarah dalam segala hal. karena Allah memerintahkan Rasulullah Saw. untuk bermusyawarah dalam segala hal, padahal tak seorangpun yang lebih cerdas darinya. Rasulullah bermusyawarah bersama para sahabatnya, bahkan dalam urusan kebutuhan rumah tangga. Ali ibn Abi Thalib mengatakan: ada orang yang utuh (rajul), setengah orang (nisf rajul) dan ada orang yang tidak berarti (la syai`). Orang yang utuh adalah orang yang memiliki pendapat yang benar dan mau bermusyawarah. Setengah orang adalah orang yang memiliki pendapat yang benar, tetapi tidak mau bermusyawarah atau mau bermusyawarah tetapi tidak mempunyai pendapat. Sedangkan orang yang tidak berarti adalah orang yang tidak mempunyai pendapat dan tidak mau bermusyawarah.
Zarnuji mengatakan kesabaran dan keteguhan merupakan modal yang besar dalam segala hal. Seorang pelajar harus sabar menghadapi berbagai cobaan dan bencana. Di samping berjiwa sabar dalam menuntut ilmu, juga diperlukan bekal yang memadai dan waktu yang cukup serta kemampuan otak.

D. Analisis Kritis mengenai kitab Ta’lim Muta’allim.
Namun, dibalik sempurnanya konsep yang terdapat dalam kitab ini, sejatinya terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan agar tidak terlalu terjerumus dalam jurang kesalahan. Kekurangan tersebut sebenarnya lebih dikarenakan perputaran zaman yang sedemikian cepatnya, sehingga isi dari kitab tersebut yang berupa tuntunan praktis sudah tidak lagi dapat kita manfaatkan, namun hal yang bersifat teoritis masih layak untuk kita amalkan pada zaman ini.
Diantara beberapa hal yang perlu dikritisi dari kitab ini adalah sbb:
1. Proteksi Berlebihan
Adalah sesuatu yang berlebihan bila kita mengikuti anjuran Syeikh Zarnuji untuk hanya mempelajari ilmu yang ditinggalkan oleh Nabi Saw, para sahabat, tabiin, serta tabi’ tabi’in dengan menafikan cabang-cabang ilmu keagamaan yang datang setelahnya, seakan kita tidak mengakui adanya proses sayrurah (Perputaran) alam yang telah menjadi sunnatullah dimana jika kita tidak ikut berjalan maka kita akan ditinggalkan. Dari sini bisa dilihat cara berpikir Syeikh Zarnuji dengan keyakinannya bahwa masa-masa terbaik adalah pada dekade awal Islam, padahal kalau kita coba benar pahami perjalanan Islam selama ini justru akan kita temukan berbagai macam perbaikan yang mengacu pada ilmu-ilmu yang datang setelahnya, dengan tidak menafikan kerusakan yang diakibatkan.
Anjuran Syeikh Zarnuji diatas justru bertentangan dengan hadits Nabi Saw, yang dia kutip di halaman berikutnya : “Hikmah adalah perbendaharaan yang hilang dari orang beriman, dimanapun kalian temukan, ambillah”
Adapun kehawatiran Syeikh Zarnuji tentang menjauhnya umat dari agama, dan banyaknya pertentangan dalam pemahaman terhadapnya adalah suatu kehawatiran yang kurang berdasar. Karena dengannya Islam menjadi lebih berwarna, hingga umat mampu memilah mana yang terbaik dan sesuai bagi mereka, sesuai dengan hukum universalitas Islam. Islam benar-benar menjadi rahmah lil âlamîn.
2. Antara Maksiat Dan Belajar
Bisa ditilik dari sikap tidak sukanya Syeikh Zarnuji terhadap ilmu mantiq dan filsafat mengakibatkan rancunya metode kiyas dalam pengkiyasan antara perihal ma’nawî dengan sesuatu yang hakîkî. Hal ini dapat di temukan dalam nasehatnya bagi seorang murid untuk menjauhkan diri dari akhlak yang tercela, karena akhlak yang tercela bagaikan anjing secara ma’nawî, sedangkan Nabi saw pernah bersabda bahwa malaikat tidak akan masuk dalam suatu rumah yang didalamnya terdapat gambar ataupun anjing (dalam hal ini adalah anjing secara hakîkî), dan ilmu masuk kedalam otak manusia dengan lantaran malaikat
Nasihat ini yang kelihatan sepele dan amat masyhur ini sangat berefek bagi seorang yang sedang belajar, karena menurutnya bagi seorang yang masih merasa sering melakukan maksiat akan ogah-ogahan dalam belajar. Padahal tidak ada hubungan antara maksiat dan belajar, keduanya mempunyai wilayah sendiri-sendiri, belajar berada dalam wilayah metodologi pembelajaran sedangkan maksiat dalam wilayah syariat. Jadi penulis yakinkan bahwa maksiat tidak akan mempengaruhi belajar, kecuali apabila maksiat tersebut memberikan akibat pada saat proses belajar sedang terjadi, seperti seorang pelajar yang terbayang kekasihnya disaat dia sedang belajar
3. Ta’dhîm Dan Barakah
Terdapat sebuah keterangan dalam kitab ini, dimana seorang murid tidak akan mendapatkan ilmu serta manfaat dari apa yang telah dikajinya kecuali jika selalu dibarengi dengan rasa hormat terhadap ilmu yang sedang dikaji, juga guru yang telah mengajarnya. Bahkan dibumbui anjuran yang bersifat mitos bagi seorang yang menginginkan keturunannya menjadi seorang ‘âlim, untuk menghormati ulama dengan berbagai jalan diantaranya dengan memberikan sesuatu hal yang bermanfaat bagi para ulama
Anjuran tersebut memang tidak ada salahnya, hanya saja dalam metode penyampaiannya sangat membahayakan bagi para pembaca, karena disitu terdapat pencampuradukan antara mitologi dan moralitas. Bagaimanakah seseorang dengan menghormat guru bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat ?. Bermanfaat atau tidaknya suatu ilmu itu bergantung kepada si murid itu sendiri, bisa memanfaatkan ilmunya ataukah tidak. Walaupun menghormati guru wajib secara moral.
Sebagaimana tersirat dalam teks kitab ini, posisi guru seakan adalah penentu utama bagi keberlangsungan pembelajaran si murid dan masa depannya, mengusung sistem belajar siswa pasif (sebagai ungkapan sulitnya terjadi keaktifan murid) karena guru adalah penentu utama, semua kembali kepada guru, menentang berarti berhadapan dengan kuwalat (lawan ekstrim dari barakah)
Walhasil konsep yang dipaparkan oleh Syeikh Zarnuji terlihat sangat tidak adil (baca: seimbang) karena terkesan lebih sangat mengunggulkan hak guru dalam mengatur murid hingga pada hal-hal yang sangat spesifik, seperti sikap pasrah seorang murid untuk menentukan apa yang seharusnya dipelajarinya. Baik kalau si murid masih berusia muda, lalu kalau sudah dewasa ? Kiranya murid itu sendiri lebih tahu akan tabiat dirinya untuk mengambil apa yang sebaiknya dipelajari.
Dari membaca pemahaman konsep Syeikh Zarnuji terhadap hubungan timbal balik antara guru dan murid dapat dilihat sangat sesuai dengan konsep-konsep sebagian Sufi, yang mendudukkan murid seakan mayit dihadapan guru dan sangatlah tidak mengherankan jikalau alasan-alasan yang sering di kemukakan lebih diwarnai oleh mitos-mitos karena memang secara jujur harus kita akui bahwa menjamurnya mitos-mitos sangat banyak berkembang di dunia sufistik, dengan tidak menafikan tasawwuf yang logis.
Suatu hal yang terkadang menjadi kesalahpahaman diantara para pelajar dalam memahami suatu istilah disebabkan kerangka pemahaman yang di paparkan dalam kitab Syeikh Zarnuji ini, adalah berubahnya nilai horizontal menjadi sesuatu yang bersifat vertikal di dalam pemahaman terhadap konsep barakah seorang guru, peristiwa manusiawi menjadi perihal yang seakan metafisis, keadaan rasional menjadi tidak rasional lagi, barakah guru seakan sesuatu yang lebih besar daripada proses belajar itu sendiri, hingga terkadang proses belajar di nafikan demi mengejar sesuatu yang bernama “Barakah”
Barakah telah berubah dari makna aslinya, menjadi suatu mitos yang menyesatkan, bagaimanakah mungkin dengan mengabdi kepada guru demi mengharap barakah ilmunya, tanpa sedikitpun diajar ilmu nahwu dapat menjadi seorang yang ahli dalam bidang nahwu ? Omong kosong yang sama sekali tidak rasional.

4. Menjamurnya khurofat
Lebih dari itu, berlepas dari baik buruknya keterangan yang disuguhkan oleh Syeikh Zarnuji seringkali mengandung hal-hal yang berbau khurafat. Ini merupakan salah satu prioritas perjuangan Muhammadiyah yang memang sejak lahirnya bertujuan memberantas penyakit yang berbahaya ini
Diantara khurofat tersebut adalah keterangannya tentang perkara yang bisa mengakibatkan kefakiran, yakni tidur dan buang air dalam keadaan telanjang, makan disaat junub, menyapu rumah waktu malam, berjalan di depan orang yang sudah tua, menyebut kedua orang tua langsung namanya, dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan masalah kaya dan miskin dalam arti secara langsung.

E. Kesimpulan
Adalah suatu kebajikan apabila seseorang mau mengikuti perkataan ‘ulama. Bagaimanapun juga, ahli agama (‘Ulama) merupakan pewaris para nabi. Begitu pula dengan yang terjadi pada kasus ini, dimana pro kontra mengenai relevansi kitab ta’lim muta’allim terus terjadi.
Pada dasarnya, seluruh isi dari kitab ini mengarahkan kepada kebaikan. Hanya saja metode penyampaian yang digunakan pada beberapa hal terdapat masalah, sehingga tidak dapat lagi digunakan secara tekstual, namun lebih pada esensi dengan disertai pemahaman yang mendalam terhadap hal tersebut. Diantara permasalahan yang kurang tepat yang terdapat di dalam kitab ini adalah :
1. Terlalu berlebihan dalam memposisikan seorang guru, sampai-sampai guru adalah segalanya dan sekaligus penentu kesuksesan dan kemanfaatan ilmu seseorang.
2. Terlalu banyaknya khurofat dalam berbagai hal, khususnya yang mengarah kepada larangan dan anjuran yang mana alasannya terkadang sangat tidak logis, bahkan cenderung tidak berhubungan sama sekali.
3. Terlalu memposisikan murid pada posisi pasif, sehingga sangat sulit untuk berkembang.
Bagi seorang murid yang berwawasan moderat, menmpelajari ta’lim merupakan hal yang cukup memberatkan, karena seolah hanya menyudutkan posisi murid saja. Pertanyaannya, jika ada sebuah kitab bernama Ta’lim al Muta’allim (Pelajaran bagi para pelajar), maka adakah kitab bernama Ta’lim al Mu’allim (Pelajaran bagi para pengajar) ?.
Dalam pro kontra seperti ini, maka solusi dari penulis adalah bahwa kitab ini dapat dipelajari serta digunakan asalkan setelah ditelaah untuk mencapai saripati dan esensinya, karena secara tekstual jelas kitab ini tidak dapat digunakan, namun jika dapat dipahami secara mendalam Insyaallah dapat diambil manfaatnya.

Daftar Pustaka

Az-Zarnuji, Ta`lim al-Muta`allim, Terj. Aliy As`ad. Kudus : Manara Kudus, 1978
Nata, Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2003
Zuhari, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 1992

Leave a comment