>VIRUS KAGETAN DAN MUTUNGAN 29


>
Jika kader Muhammadiyah itu “Kagetan”, maka Muhammadiyah akan redup sinarnya, lalu mati.
Jika kader Muhammadiyah itu “Mutungan”, maka Muhammadiyah akan redup pula sinarnya, lalu mati juga.

Dua baris kalimat di atas adalah kalimat sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Pemaknaan tersebut bukan hanya berkisar benar atau tidaknya kalimat di atas, namun juga berkaitan dengan posisi, apakah kita berada dalam salah satu golongan tersebut, ataukah kita masih berada di golongan yang lurus dan benar, ataukah justru kita membuat golongan sendiri yang baru dan berbeda, namun berujung sama, mematikan.

Kader kagetan merupakan istilah bagi seorang kader yang tidak dapat menempatkan diri pada posisi dimana ia berada. Baru menjadi ketua PCM saja sudah berfikiran bahwa pergerakan muhammadiyah berada di bawah kekuasaannya. Baru menjadi ketua IMM komisariat saja sudah merasa dirinya sebagai orang top di IMM. Di sisi lain, kader kagetan itu diartikan sebagai kader yang “lupa akan kulitnya”. Ketika ia menduduki jajaran penting, ia akan menjadi kaget, bingung, mencoba untuk eksis diselubungi kata totalitas, lantas melupakan ikatan dan persyarikatan. Biasanya, hal ini identik hubungannya dengan amal usaha. Ketika seorang kader sudah berada pada posisi nyaman di amal usaha, maka ghirohnya untuk berbhakti pada persyarikatan cenderung melemah. Apalagi amal usaha yang “profitable”, karena dirasa amal usaha tersebut lebih menguntungkan secara finansial daripada eksis di persyarikatan yang sifatnya sosial yang biasanya ia plesetkan menjadi “Ngo-sos & sial”.

Jika kader Muhammadiyah tersusupi virus ini, maka ia hanya akan menjadi benalu di Muhammadiyah. Menghisap makanan dan bergantung hidup di Muhammadiyah, namun sejatinya ia justru akan melemahkan Muhammadiyah. Berapa banyak kader amal usaha kita yang lupa akan garis perjuangan Muhammadiyah (Apalagi memang sebagian pengurus amal usaha bukan orang Muhammadiyah). Hal inilah yang akan melemahkan Muhammadiyah di masa mendatang. Banyak kader, namun hanya kader numpang yang pada akhirnya malah mematahkan pergerakan Muhammadiyah itu sendiri

Adapun kader mutungan adalah sosok kader yang merasa dirinya berjasa, namun ia merasa jasa tersebut kurang dihargai oleh orang lain maupun oleh persyarikatan. Karena merasa jasanya kurang dihargai, lantas ia menarik diri dan nyepi dari pergerakan atau bahkan mencari pergerakan lain yang ia anggap bisa lebih menghargainya. Biasanya, hal ini identik dengan majelis dan ortom. Bagaimana seorang ketua majelis dikdasmen yang sudah puluhan tahun membawa dan membina amal usaha pendidikan dengan sukses tapi koq tidak segera diangkat menjadi kepala sekolah misalnya. Atau tentang seorang mahasiswa yang memiliki kompetensi keilmuan dan konsep keilmuan yang matang, bahkan ia merasa telah berhasil mengajak banyak kader untuk bergabung di IMM, namun ia merasa setiap idenya tidak pernah disepakati teman-temannya, bahkan dipatahkan oleh kawannya sendiri.

Virus ini merupakan gabungan dari dua hal, yakni virus ‘ujub, dimana seseorang merasa wah dengan apa yang telah ia lakukan, lantas dibumbui virus suudzdzon, dimana ia menganggap kritikan orang lain sebagai unsur kebencian atas dirinya. Kedua virus ini mengakibatkan rasa jengah dalam pergerakan karena merasa tidak dianggap, lalu ia memilih untuk memutuskan hubungan dari pergerakan.

Sesungguhnya setiap penyakit ada obatnya, setiap virus ada antivirusnya. Lantas apa yang dapat menjaga dan menyembuhkan kita dari kejangkitan dua virus diatas?. Jawabnya adalah dengan kembali kepada khiththah pergerakan, serta sering menghadiri forum internal yang membahas tentang pergerakan agar ideologi kita senantiasa bersih dan lurus.

Leave a comment