>Aku selingkuh (lagi), true story 41


>

Kata Kahlil Gibran, pasangan yang sempurna itu hanya ada dua di dunia ini. Yakni yang satu ada di dalam angan, dan yang satu lagi belum lahir.

Puji tuhan atas karunia-Nya, Keselamatan semoga teruntuk Rasul Utusan-Nya.

Sobat, pagi ini aku ingin menangis. Menangisi kebodohanku yang membuatku tak bisa lagi menepati janji suci yang aku jadikan pengikat hubungan antara aku dengan pasanganku. Apa yang dahulu pernah kami ikrarkan bersama ternyata harus musnah di tengah jalan, karena aku memilih jalanku untuk berselingkuh.

Sejatinya tak ada yang kurang dari pasanganku. Ia adalah sosok yang cantik, pintar, keibuan, dan pantas untuk menjadi pendamping hidupku. Namun naluri kelelakianku menuntutku untuk mencari sosok yang lebih dari pasanganku itu. Dengan sosok itulah aku lantas menjalin hubungan hingga berujung pada perselingkuhan.

Mungkin anda akan menuduhku sebagai lelaki pengecut, tidak bertanggung jawab dan tuduhan semakna yang lain, namun aku melakukan perselingkuhan ini bukan tanpa alasan, meskipun alasanku akan tetap menjadi salah di mata anda. Satu-satunya alibi yang aku punya adalah aku menghargai komitmen hubungan yang dulu telah aku jalani, namun aku akan mencari sosok yang sempurna untuk kemudian nantinya aku jadikan pasanganku menjadi sebagaimana sosok yang aku katakan sempurna tersebut.

Namun kenyataannya berbelok terlalu jauh. Hubunganku dengan sosok tersebut semakin erat, dan tanpa diketahui oleh pasanganku, aku semakin sering melakukan hubungan perselingkuhan dengan sosok tersebut. Maksud hati ingin menjadikan pasanganku berperilaku sebagaimana sosok tersebut, namun justru nafsuku menjadikanku terbuai, terlena dan tergoda oleh sejuta gairah kenikmatan saat aku berselingkuh dengan sosok tersebut.

Sosok tersebut begitu sempurna dimataku. Ia begitu cantik, anggun, lucu, cerdas, imut, keibuan, manis, tinggi, semampai, langsing, berbadan indah, wangi, mempesona, pandai dan tiada banding di dunia ini. Berbeda jauh denganku yang kecil, pendek, jelek, bau asem, bodoh, dungu dan culun ini. Ia mau memandangku saja sudah menjadi anugerah tak terkira bagiku, apalagi saat ini ia sedang berselingkuh denganku, berduaan denganku, tanpa sepengetahuan pasanganku.

Namun perselingkuhan tersebut menjadi buyar ketika sebuah buku melayang tepat di kepalaku, ternyata itu adalah buku karangan kahlil gibran, dan saat aku membuka terdapat tulisan sebagaimana kutipan di atas. Lantas barulah aku sadar kalau sosok sempurna yang aku selingkuhi itu hanyalah angan-angan.

Mungkin lamunanku saat ini boleh buyar, namun esok aku akan melamun lagi, dan yang pasti akan selingkuh lagi…

Leave a comment