>UNTUK APA SAYA BERAGAMA??? 14


>Segala puji bagi tuhan penguasa jagad raya dan pengatur alam semesta, puja dan doa keselamatan bagi utusan pembawa wahyu dan penyelamat bagi kita pada hari kiamat kelak.

Kata orang bijak, Percuma engkau hidup jika tidak mempelajari agama. Percuma engkau mempelajari agama jika tidak mempelajari kitab suci. Percuma engkau mempelajari kitab suci,jika tidak mempelajari tuhan.

Apa yang tertulis di atas sejatinya merupakan gambaran singkat mengenai nilai luhur yang harus dilakukan manusia dalam hidupnya. Poin di atas sejatinya saling berhubungan antara satu dengan lainnya, dan bersifat sistematis. Artinya, seseorang layak melaju ke peringkat berikutnya apabila peringkat sebeumnya telah ia lalui. Alangkah tidak pantas apabila seseorang mengamalkan hal diatas secara melompat, acak dan ngawur, karena hal tersebut akan fatal jadinya.

Pertama, jelas hdup manusia tidak berguna jika tidak mempelajari sebuah agama. Agama, yakni a (tidak) dan gama (kacau), sebuah kata yang menunjukkan arti keteraturan, keindahan dan perdamaian, adalah pelajaran maha luhur yang harus dipelajari oleh seorang manusia. Pemaknaan mempelajari jelas berbeda dengan mengerti, sebab mengerti bermakna bahwa orang tersebut sudah berada di titik tepi pengertian, sedang dalam mempelajari, seseorang akan selalu berada dalam proses dan pembelajaran terhadap apa yang sedang ia pelajari. Dalam hal ini, mempelajari agama memang tiada bertepi. Selalu ada hal yang baru seiring dengan perubahan zaman. Inilah yang menuntut manusia untuk terus menerus mempelajari agama. Dalam menyikapi persoalan hidup, agama tetap perlu dijadikan sebagai salah satu sudut pandang, disamping berbagai sudut pandang yang lain. Dan dalam beragama, manusia harus mempertimbangkan aspek sosial dan tata kehidupan yang berlaku secara umum.

Kedua, mempelajari kitab suci menjadi kewajiban bagi orang yang ingin mempelajari agama. Hal tersebut dikarenakan kitab suci adalah dasar dan pokok ajaran agama tersebut. Ketika seseorang buta akan kitab suci, maka ia benar-benar akan buta terhadap agama. Pengetahuannya tentang agama menjadi sangat tipis, bahkan menjadi nihil. Mempelajari kitab suci tentu memiliki makna luas. Bukan hanya mempelajari secara tekstual, namun juga kontekstual. Al-Quran contohnya. Banyak ilmu yang dapat dipelajari untuk membedah kitab suci ummat islam tersebut. Diantaranya, ilmu alat (nahwu shorof), ilmu tajwid, asbabun nuzul, tafsir dan sebagainya. Semakin dalam pengetahuan seseorang akan ilmu-ilmu tersebut, maka bermakna semakin mantap pulalah posisinya sebagai orang yang dapat ditimba pengetahuannya tentang kitab suci. Agar berurutan, maka orang harus mempelajari kitab suci melalui sudut pandang agama. Mempelajari alquran ya harus dengan ilmu islam, dan mempelajari bibel ya harus dengan ilmu kristen. Sebaliknya pula, mempelajari agama ya harus dengan memperhatikan ajaran yang terkandung dalam kitab suci, sebab pastinya agama didasarkan pada kitab suci agama tersebut.

Ketiga, tergambar peran tuhan sebagai sosok yang menurunkan kitab suci tersebut. Mengenal tuhan sampai saat ini masih menjadi diskusi yang panjang. Hal tersebut dikarenakan seseorang yang berusaha membatasi akal fikirannya untuk mengenal tuhan. Sampai di sini terdapat sebuah ketidak sinkronan. Katanya tuhan adalah maha tidak terbatas, namun mengapa harus membatasi akal untuk mencoba menemukan yang tidak terbatas?. Bukankah apa yang tidak terbatas itu sepantasnya ditelaah dengan cara yang tidak terbatas pula?. Inilah yang masih menjadi perdebatan panas selama ini. Satu hal yang pasti, mempelajari tuhan adalah suatu kewajiban bagi orang yang menganut suatu agama dan kitab suci, karena mustahil orang dapat loyal menganut suatu ajaran jika ia kurang mengenal sang pemberi ajaran tersebut. Kaitannya dengan kitab suci adalah, kita dapat menebak validitas kitab suci dari validitas tuhan. Jika tuhan yang dianut oleh suatu ajaran itu layak dan pantas dijadikan tuhan, maka mungkin saja kitab suci yang diajarkan adalah benar. Di sisi lain, seseorang akan dapat menemukan tuhan dari kitab suci yang diajarkan, apabila dalam kitab tersebut terdapat gambaran akan tuhan.

Ketika seseorang mencoba mengamalkan salah satu poin di atas, namun belum mengikuti poin sebelumnya, maka orang tersebut akan bertindak fatal dan ngawur. Saatnya kita coba untuk lebih sistematis dalam mempelajari suatu hal, agar kita tidak sembrono, gegabah dan ngawur yang akan berdampak buruk bagi kita sendiri.

Jika saat ini saya hidup, lantas mengakui suatu agama, namun saya tidak faham akan agama tersebut dan tidak tahu tuhan dari agama tersebut, maka untuk apa saya beragama?

Sekian, harap maklum dan terima kasih.

Leave a comment