>Menutup Lembar Agama 28


>Membaca sekilas tentang hiruk pikuk di kompasiana perihal penghapusan rubrik agama, memunculkan berbagai opini dalam fikiran saya dan beberapa kompasianer. Mungkin, apa yang tertulis di sini hanyalah coretan belaka yang bersumber dari apa yang saya fikirkan berdasarkan hasil diskusi semalam di warung kopi bersama kompasianer lain di sekitar saya. Opini yang muncul tersebut diantaranya :

Pertama, Memang isu perihal keagamaan adalah isu yang tidak ada matinya. Hal tersebut dikarenakan agama merupakan sebuah sistem kepercayaan (believe system), yang harus diyakini secara kuat oleh pemeluknya, kapanpun dimanapun. Apapun yang terjadi harus ditinjau dari sudut agama, mulai dari hal politik, ekonomi, budaya, sosial dan sebagainya. Ini menjadikan topik agama tidak pernah mati

Kedua, Kurangnya rasa menerima perbedaan dalam kehidupan manusia, khususnya kompasianers yang membuat isu agama menjadi isu yag dipenuhi pertentangan. Pada kalangan atas dan cerdik cendekia, perbedaan menjadi indah dengan diskusi dan wacana ilmiah, namun pada kalangan bawah, perbedaan menjadi kusam dengan menjadikannya ajang caci maki, menghina, mencemooh, dan sebagainya. Ketika antar kelompok merasa paling benar, maka etika diskusi tidak lagi digunakan, tata tertib diabaikan demi membela agama yang ia yakini kebenarannya.

Ketiga, Bagaimanapun juga, admin adalah manusia. Rasa subyektifitas masih melekat pada sosok admin. Mungkin rasa tersinggung menderanya ketika ada orang yang mencoba memperburuk citra agama yang ia anut. Kriteria yang ada hanyalah nilai, sedang perasaan dan fikiran admin adalah alat yang dapat menerjemahkan nilai tersebut. Admin tak suka? Dibabat saja.

Keempat, mungkin itu hanya syok terapi dari admin agar para kompasianers lebih berhati-hati saat memasuki ruang agama. Salah sedikit, maka akan tergelincir dalam jurang penghapusan.

Apa yang tertulis di atas hanyalah rangkuman dari opini saya beserta kawan kompasianer lain di warung kopi. Lantas bagaimana dengan opini anda???

Leave a comment