>Pluralitas dan Fanatisme Beragama


>Malam ini, 20 Juni 2011, bertempat di Vihara Budhayana, berlangsung diskusi terbuka bertajuk “Pluralisme Dalam Perspektif Agama Budha”. Menjadi pembicara dalam agenda tersebut seorang bhikku Nyana Suryanadi Mahathera (Dosen STIA Budha) dan Drs. Kunawi Basyir, M.Ag (Dosen IAIN Supel) dan yang menjadi peserta adalah perwakilan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat antar agama se-Surabaya. Di sini, saya termasuk salah satu peserta dalam diskusi tersebut.

Dalam diskusi tersebut, terungkap kupas tuntas permasalahan puralitas dalam perspektif budha dan islam. salah satu hal yang mempengaruhi terciptanya pluralitas dalam kehidupan bermasyarakat adalah keterbukaan masyarakat terhadap pemikiran lain di luar apa yang ia fikirkan. Sikap eksklusif yang maksud hati ingin menutup diri dari keterbukaan agar ajaran agamanya menjadi tampak lebih luhur sejatinya malah dapat memperkeruh agama itu sendiri. Berbeda dengan sikap inklusif yang bukan hanya mampu menerima keberadaan kelompok lain, bahkan juga mampu mengangkat citra kelompok tersebut di hadapan kelompok lainnya.

Seseorang perlu memunculkan rasa fanatik terhadap kepercayaan yang ia anut, itu demi loyalitas dan kuatnya keimanan yang ia miliki. Di sisi lain, ia harus memiliki rasa menerima perbedaan agar dapat hidup rukun di masyarakat, karena beragama bukan hanya mengandung unsur penyembahan dan peribadatan saja, namun juga mengandung nilai kemasyarakatan dan kehisupan sosial.

Dalam diskusi itu juga, dijelaskan mengenai pentingnya penggunaan etika yang tepat saat berdiskusi masalah keagamaan. Dalam diskusi yang berujung pada pencarian kebenaran, ada perbedaan antara kebenaran logika dan kebenaran transendental, ini yang harus dipahami bersama. Jika sejak awal digariskan bahwa ini adalah diskusi logika, maka unsur ketuhanan dan wahyu sebaiknya agak dikurangi, namun jika diskusi tersebut adalah diskusi dengan metode transendental, maka unsur wahyu berikut pemahaman dan keimanan kepada tuhan yang seharusnya lebih ditingkatkan.

Bagaimanapun juga, setiap orang akan merasa ia dan pendapatnya yang paling benar, namun sikap yang perlu dimunculkan adalah bagaimana ia tidak dengan mudah menyalahkan pendapat orang lain dari sudut pandangnya saja, bukan dari sudut pandang orang lain. Bukankah jeruk itu akan tampak menguning pada sisi yang menghadap anda dan tampak hijau pada sisi yang menghadap saya??

Oleh karenanya nilai pluralitas perlu dikembangkan baik antar personal kelompok, agama dan antar dua kepentingan yang berbeda. Ini sangat bermanfaat demi terciptanya kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

Acara ini diawali dengan makan-makan, keudian diakhiri dengan mangkal di warung kopi dan melanjutkan diskusi bersama teman sejawat sembari menulis hingga tulisan ini selesai diketik dan diupload, saat saya masih berada di warung kopi.

Salam.

Leave a comment