>Rahasia Warkop yang Menangis 32


>

jalan yang sepi dan gelap, membuat darah berdesir lebih cepat dan bulu kuduk menegang menahan dingin dan takut. itulah yang parman rasakan saat pertama kali memasuki desa tersebut. di gapura jalan masuk tadi, ia sekilas membaca nama desa ini adalah desa Karang Tegak, cocok dengan alamat yang diberikan pelanggannya, hanya ia tinggal mencari alamat pastinya.

 

Resiko bekerja di bagian pengiriman barang, bahasa kerennya Delivery (jangan dibaca Dipeleri) memaksa parman untuk siap siaga mengirim barang pesanan kliennya, 24 jam non stop sekalipun, termasuk malam itu. Meskipun waktu menunjukkan pukul 20.30 malam, dan parman harus melewati hutan rimba yang gelap untuk mengirim paket pesanan kliennya. Kali ini, paket tersebut berupa satu kardus kopi, untuk dikirim ke warung kopi “Menangis” di daerah Karang Tegak.

 

Ia terus masuk menyusuri jalan tersebut dengan motor bututnya, ditemani lampu motor yang sudah agak temaram berusaha menembus pekatnya malam, hingga parman menemukan sebuah tempat mirip gubuk, yang ternyata dari jauh terlihat tulisan “Warung Kopi Menangis”. Merasa senang karena lokasi yang dituju berhasil ia temukan, parman segera memarkir motornya lalu bergegas menuju warung tersebut.

 

Tiba-tiba, parman merasa urung untuk mengetuk pintu, karena ia mendengar suara perempuan menangis dari dalam warung tersebut. ditambah desiran angin malam dan suara binatang hutan menjadikan barang parman langsung berdiri. (maksudnya bulu kuduk-red). parman berada dalam kebimbangan. Apakah ia tetap melanjutkan tugasnya untuk mengirimkan paket pesanan kliennya, atau ia justru ingin segera kabur dari lokasi angker tersebut.

 

Namun, tanggung jawab dan khawatir dipecat oleh bosnya mengalahkan ketakutan parman. ia nekat dan memberanikan diri untuk maju setapak demi selangkah, lalu mengetuk pintu warung kopi tersebut.yang akhirnya dibukakan oleh seseorang yang ternyata seorang JAMU / Janda Muda, beranak satu, cewek pula. berikut percakapan keduanya :

 

P : Parman

W : Pemilik Warung Kopi

 

P : Tok,, tok,, permisi…

W : Iya,, sebentar.. (membukakan pintu), ow,, mari silahkan masuk mas..

 

P : Owh, tidak mbak, terima kasih,, saya cuman mau mengantarkan ini saja, paket barang, benar ini warung kopi menangis ya?

W : Iya mas,, owh,, ya, saya terima,,

 

P : Mbak, boleh tanya gak nie?

W : Ada apa mas??

 

P : Kenapa warungnya mbak ini dinamai warung menangis ya?? trus maaf mbak,, tadi sebelum saya ngetuk pintu, sya denger ada suara orang menangis,, apa itu mbak??

W : iya mas, itu memang saya, saya setiap malam selalu saja menangis, makanya warung ini saya namai warung menangis… mas mau tahu kenapa saya menangis?

 

P : Iya mbak,, kenapa??

W : Setiap malam saya selalu membaca sebuah buku, dan setiap saya membaca halaman terakhirnya, saya pasti langsung menangis,, tak usah membaca dari depan, baca endingnya saja pasti langsung menangis..

 

P : ow.. begitu ya mbak,, maaf, kalau boleh tahu, itu buku apa??

W : Itu lhow mas,, buku tabungan,, setiap malam itu selalu saya baca,, dan setiap saya baca saldo terakhirnya, saya pasti sedih,, lalu menangis…

 

 

 

 

@all.. gak tahu kenapa,, minggu2 ini ane bener2 ngarep fulus,, padahal THR masih lama, hutang udah terlanjur banyak.. hufh,, jadi curhat deh…

 

 

 

 

Leave a comment