Menghidupi dan Mencari Hidup, Tafsir Baru Gerakan KHA Dahlan 2


“Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah”

-Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah-

 

Pesan tersebut selalu terngiang, tertancap dan tertanam di hari setiap aktivis pergerakan Muhammadiyah, organisasi islam yang telah menginjak masa seabad. Petuah dari KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri sekaligus ketua pertama organisasi tersebut rasanya memang sangat tepat untuk menjunjung tinggi nilai organisasi dan persyarikatan. Namun realitanya, petuah tersebut rasanya tingal hanya susunan huruf dan kata saja dan terkesan amat jauh dari realita kehidupan masyarakat.

 

PETUAH VERSI KHA DAHLAN

Menurut saya, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab diucapkannya petuah tersebut. Berdasarkan berbagai kajian sejarah, faktor tersebut antara lain :

  • –          Saat itu, Organisasi Muhammadiyah masih tergolong muda, sehinga masalah aset dan finansial dirasa sangat minim. Ini menuntut kadernya untuk secara total menghidupi Muhammadiyah, bukan malah mencari hidup di Muhammadiyah.
  • –          Saat itu Muhammadiyah belum memiliki amal usaha yang besar sebagai sumber dana Muhammadiyah, sehingga mayoritas kadernya bekerja di luar, kemudian sebagian dari uangnya disumbangkan untuk berlangsungnya kehidupan Muhammadiyah
  • –          Dan berbagai faktor lain yang pada intinya pergerakan Muhammadiyah saat itu masih baru dan lemah sebagaimana bayi yang baru merangkak, sehinga harus disuapi dan “dihidupi” agar tetap tumbuh berkembang

Dalam kondisi baru berkembang, sangat wajar jika saat itu Muhammadiyah butuh asupan dari kadernya untuk tetap hidup. Dalam buku yang mengisahkan perjalanan KHA Dahlan, terdapat sebuah cerita dimana KHA Dahlan menjual beberapa barang pribadinya hanya untuk menghidupi sekolahan yang ada di rumahnya. Menjadi aktifis Muhammadiyah saat itu bukanlah menjadi sebuah aktifitas yang menguntungkan secara finansial, bahkan dapat mengeruk uang pribadi untuk kepentingan dakwah. Ini juga yang mungkin masih berlaku pada Pimpinan Muhammadiyah di daerah pelosok sebagaimana yang tergambar dalam film Laskar Pelangi. Bagaimana secara individu ia harus memberikan kapur hanya agar muridnya mau sekolah, inilah dakwah yang sebenar-benarnya.

 

TAFSIR BARU PETUAH KHA DAHLAN

Seiring perkembangan zaman, apalagi setelah usianya melampaui masa seabad, masih relevankah petuah tersebut? Jawabannya tentu kembali kepada pribadi masing-masing pembaca dengan melihat situasi dan kondisi lingkungannya. Menurut saya pribadi, petuah tersebut masih berlaku namun tidak dengan sepenuhnya ditelan mentah-mentah sesuai tekstual petuah itu.

Menurut saya, seiring perkembangan zaman dan tumbuh pesatnya perjuangan Muhammadiyah baik secara kualitas maupun kuantitas, baik dilihat dari unsur persyarikatan maupun amal usaha, sudah bukan zamannya lagi Muhammadiyah “minta dihidupi” oleh kader-kadernya. Memang di daerah pelosok yang memang perkembangan Muhammadiyah belum terlalu mekar, kebutuhan untuk bergantung kepada kader sangatlah besar. Namun di daerah perkotaan, ataupun daerah lain yang mana Muhammadiyah sudah memiliki power di masyarakat, maka Muhammadiyah sebaiknya jangan hanya berfikir untuk dihidupkan dan dihidupi oleh masyarakat, namun juga harus berfikir bagaimana agar dapat menghidupkan atau bahkan menghidupi masyarakat yang mau menghidupinya.

Ini sejatinya sangat praktis. Seseorang akan mau melakukan sesuatu jika ada timbal balik yang ia terima dan besarnya pemberian seseorang akan berbanding lurus dengan apa yang ia terima. Hal tersebut adalah sebuah kodrat alam yang tak perlu menggunakan rumus dan teori njelimet untuk dapat memahaminya. Masalahnya adalah seringkali kita terpatok pada hal yang rumit dan berputar-putar hingga masalah yang sangat mudah itupun dianggap susah.

Kembali kepada masalah menghidupi dan mencari penghidupan, rasanya terlalu keras, ekstrim atau bahkan kolot jika petuah tersebut hanya dimaknai tekstual yang melahirkan kesimpulan bahwa seorang kader wajib menghidupi Muhammadiyah tanpa memperdulikan apa yang diberikan Muhammadiyah kepadanya. Petuah tersebut jika dimaknai secara tekstual semata hanya akan menjadi senjata untuk memeras keringat kader agar berjuang di amal usaha maupun persyarikatan kepada Muhammadiyah namun kesejahteraan kader tersebut kurang dipertimbangkan. Dengan dalih keikhlasan berjuang dan semangat amal Muhammadiyah, banyak kader yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah dengan upah yang minim, bahkan jauh dari UMR. Akhirnya yang terjadi adalah mereka berjuang di Muhammadiyah tidak secara total, karena harus bekerja di luar untuk memenuhi kebutuhan finansialnya. Padahal seandainya saja upah yang diberikan kepada buruh tersebut seimbang dengan kinerja dan kemampuannya, maka tidak mustahil jika buruh tersebut akan siap dan selalu siap aktif menghidupi Muhammadiyah, bahkan 24 jam perhari sekalipun.

Bukan masalah ikhlash atau tidak, namun apakah pantas sebuah amal usaha Muhammadiyah yang sangat besar kemudian menggaji karyawannya separuh UMR hanya dengan alasan ikhlash ataupun karena petuah KHA Dahlan tersebut. Petuah itu saat ini rasanya hanya menjadi sebuah justifikasi untuk memeras keringat kader yang bekerja menjadi buruh agar mau menyapu di amal usaha Muhammadiyah yang besar dengan gaji yang apa adanya, apalagi diembel-embeli kata “ikhlash”.

Belum lagi fenomena banyaknya kader Muhammadiyah yang “enggan” mengurusi amal usaha Muhammadiyah karena merasa di amal usaha tersebut upah yang diterima sangat kecil sehingga ia memilih untuk mencari penghidupan di luar Muhammadiyah. Pada saat tersebut, amal usaha Muhammadiyah sejatinya sedang membutuhkan orang untuk mengisi pos di dalamnya, namun karena para kader khususnya kaum muda tidak mau, akhirnya membiarkan amal usaha tersebut diduduki orang lain yang bukan kader, kemudian orang lain tersebut mendominasi, menguasai bahkan sampai merebut amal usaha Muhammadiyah. Jika hal tersebut yang terjadi baru Muhammadiyah akan menangis meraung dan meminta tolong kepada kadernya yang terlanjur hidup di tempat lainnya.

 

PENUTUP

Pada usia yang semakin tua, harusnya Muhammadiyah menjadi organisasi yang semakin kokoh dan mantap posisinya di hati masyarakat. Kekokohan tersebut bukan hanya diwujudkan dengan hidupnya persyarikatan dan amal usahanya saja, namun juga dapat diindikasikan dari seberapa mampu Muhammadiyah menghidupkan atau bahkan menghidupi masyarakat sekitarnya.

Secara lebih ekstrim, saya memaknai petuah KHA Dahlan tersebut ke dalam bahasa saya, yakni “Carilah penghidupan di Muhammadiyah, asalkan kau mau menghidupi Muhammadiyah”.

 

Salam.

Leave a comment