Gus Ipul VS Najib Hamid, Serupa tapi Tak Sama


Dua orang remaja berdebat panjang kali lebar mengenai shalat tarawih. Pemuda A bersikeras bahwa shalat tarawin yang benar adalah 23 raka'at, sedangkan pemuda B bersikukuh bahwa tarawih yang benar adalah  11 raka'at. Berjam-jam keduanya berdebat dan beradu dalil. Namun sayangnya, mereka melupakan suatu hal, yakni mereka berdebat hinga lupa jika keduanya tidak melaksanakan shalat tarawih.

Itulah sebagian diantara "guyonan" Gus Ipul, atau nama lengkapnya Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur. Sebagai seorang Propesor (Protolan Pemuda Ansor), tentu beliau memiliki latar belakang ke-NU-an yang mantap, namun itu tak menjadi halangan baginya untuk tetap bergaul dan menjalin komunikasi aktif dengan Muhammadiyah. Bahkan tanpa tedeng aling-aling beliau menyampaikan bahwa NU dan Muhammadiyah itu sejatinya sama saja, hanya berbeda lahan garapnya, yakni satu mengurusi masyarakat perkotaan, dan satunya mengurusi masyarakat pedesaan. Menurut beliau, hal tersebut dapat dilacak pada sejarah awal pendirian, yakni antara KHA Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari yang tunggal guru namun akhirnya melahirkan organisasi yang berbeda. suara gerrr penuh gelak tawa terdengar riuh saat Gus Ipul menyampaikan orasinya. Beliau juga berpesan kepada mahasiswa agar tetap turut aktif mengawal dan mengontrol jalannya pemerintahan.

Ungkapan senada dengan gaya yang tidak jauh beda diungkapkan oleh Najib Hamid, sekretaris PWM Jawa Timur. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa perbedaan NU-Muhammadiyah itu ada tiga, yakni (1) muhammadiyah menggunakan istilah Milad (hari kelahiran), sedang NU menggunakan istilah haul (memperingati kematian) (2) implikasinya, Muhammadiyah lebih suka mengurusi yang hidup (pendidikan, kesehatan, teknologi) sedangkan NU lebih suka mengurusi yang mati (tahlilan, selametan, dll). (3) Muhammadiyah dalam hilal asal nilainya positif dihukumi sudah masuk ke bulan berikutnya (lebih cepat lebih baik) sedangkan NU harus menunggu dua derajat (lanjutkan!!).

Kedua pembicara tersebut menyampaikan apa yang menjadi pembahasannya dengan ringan, santai, namun penuh makna. Suara gelegak tawa terus menghiasi suasana acara. Usai sambutan, para pemateri memberikan kenang-kenangan kepada tiga orang peserta terbaik dari sekolah kebangsaan.

Leave a comment