Jangan Sakiti Allah 219


 

Dari Abu Hurairah RA, Bahwasannya Rasulullah SAW Bersabda, Allah Ta'ala Berfirman, : “Manusia menyakiti Aku, dia mencaci maki masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa. Akulah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (HR Bukhari Muslim)

 

Mencaci maki masa merupakan tradisi yang cukup lama di bangsa Arab. Bahkan setelah Rasulullah SAW diutuspun tradisi ini masih belum dapat hilang seratus persen. Demikian pula saat ini, masih sering kita temui seseorang yang mencaci maki masa, terlebih saat bencana dan kesusahan melanda mereka. Hal ini sebagai ekspresi keputus asaan serta ketidak ridloan terhadap taqdir Allah

Menurut Syaikh 'Utsaimin dalam kitabnya, Qaulul Mufid, dijelaskan bahwa ada tiga model cacian terhadap masa. Pertama, Seseorang yang mengucapkan murni sekedar mengabarkan keadaan yang ia alami. Seperti kalimat “Kami merasa capek karena cuaca hari ini memang panas”.  Hal ini tidak mengapa asal ia tidak berniat mencaci maki masa. Kedua, Dia mencela masa karena menurutnya, waktulah yang membuat sesuatu menjadi berubah adanya. Misalnya ia berkata “Gara-gara hujan turun, aku tidak jadi berangkat kesana. Jika hal ini ia lakukan dengan niatan menyalahkan hujan karena hujan telah menggagalkan agendanya, dengan mengesampingkan peran dan fungsi Allah dalam hal ini, maka ia dapat terjerumus dalam kekufuran. Ketiga, mencela masa meski dia meyakini bahwa kreator sesungguhnya ialah Allah. Misalnya ia berkata “Alangkah sialnya pagi itu,” dan ungkapan lain yang senada.

Sesungguhnya, orang yang mencela masadalah orang yang menyakiti Allah, dan bagi orang yang menyakiti Allah, maka laknat dunia akhirat dan siksa yang menghinakan adalah pantas baginya atas apa yang telah ia lakukan (Baca QS AL Ahzab, 57

 

–catatan lama,, dimuat oleh media Istabiq edisi IX

Leave a comment