Jelang 100 Tahun Titanic, Bagaimana Nasib Film Titanic Versi 3D? 49


Selamat sore pembaca sekalian. 15 April besok adalah tepat 100 tahun peringatan mengenang mengenang 1.517 penumpang dan awak kapal yang tewas dalam tragedi tahun 1912 silam, yakni tragedi tenggelamnya kapal titanic. Review mengenai film versi biasa pernah saya publish di web ini atau tepatnya klik link ini. Kali ini saya hendak berbagi sedikit bahasan mengenai film Titanic versi 3D alias tiga dimensi.

mau yang lebih jelas? klik gambarnya

Menurut berbagai sumber yang saya dapat, film 'Titanic' versi 3D ini dihadirkan seperti 15 tahun lampau saat rilis film titanic versi biasa. Kali ini, James Cameron, si sutradara film tersebut, memutarkan film itu dengan menggunakan teknologi 3D (tiga dimensi). Sekilas, meski sudah dibuat dalam format tiga dimensi, film 'Titanic 3D' ini tidak banyak memperlihatkan perubahan mencolok jika dibandingkan film 'Titanic' sebelumnya. Namun secara garis besar kisah yang terjadi di dalamnya tidak jauh berbeda. 

Inti cerita Titanic bukanlah tentang tenggelamnya kapal itu, tetapi ini tentang cinta yang tak pernah tenggelam. Cerita berpusat pada dua pecinta, Jack Dawson (Leonardo DiCaprio) dan Rose DeWitt Bukater (Kate Winslet)—nama yang perlu dicatat untuk diingat. Jack adalah pria miskin yang berkeliling dunia, melukis apa yang ingin ia lukis. Rose adalah gadis dari keluarga raja, yang hidupnya dikuasai sepenuhnya oleh calon suaminya, Cal Hockley (Billy Zane). Rose rela dijodohkan oleh ibunya (Frances Fisher), karena ayahnya meninggal hanya menyisakan hutang bagi mereka. Awal perkenalannya dengan Jack, membuat hidup Rose lebih berwarna, merasa lebih nyaman, dan mendapatkan perhatian yang selama ini ia inginkan. Jack hanya dianggap bakteria oleh Cal dan ibu Rose. Ini kisah cinta segitiga yang harus terputus karena sebuah kecelakaan besar.

 

Saat pertama kali dirilis, film ini meraup keuntungan sebesar US$1,8 miliar, dan menempatkan Titanic sebagai film yang merajai box office Amerika Serikat kala itu. Lantas bagaimana dengan Titanic versi 3D? apakah ia akan memikat hati penontonnya sebagaimana titanic versi layar lebar yang dirilis tahun 1997? entahlah, biar nanti waktu yang menjawabnya. Yang pasti saat ini saya belum memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menonton film tersebut. Namun jika suatu saat nanti saya mampu dan siap menontonnya, saya berharap agar film titanic 3D yang saya tonton adalah yang full alias tanpa sensor. Anda tahu mengapa?? you know me laah…

 

Leave a comment