Jurnal Kinerja Karyawan, Tak Ubahnya SP Jilid 1 17


 

Hari ini, Jumat, tanggal 20 April 2012, adalah hari pertama dimana saya (dan beberapa pegawai lain di lingkungan tempat saya mencari nafkah) mengisi sebuah buku yang dalam kafer-nya dinamai "Jurnal Kinerja Karyawan". Entah apa sebenarnya makna dari kata-kata tersebut, namun sepemahaman saya ini akan berisi tulisan tentang kegiatan yang terjadi dan dilakukan selama bekerja dalam sebuah institusi.

Jurnal bermakna catatan. Kinerja berarti prestasi, dan karyawan bermakna pekerja. Jurnal kinerja karyawan adalah sebuah catatan yang berisi prestasi dari para pemburu upah pada sebuah organisasi tertentu. Dari jurnal tersebut “harusnya” akan di-breakdown dalam sebuah lembar evaluasi dan penilaian kinerja karyawan, kemudian di-follow up-i dengan pemberian reward hinga sanksi sesuai dengan fluktuasi dari prestasi yang telah dilakukan.

Proses penjurnalan hingga pemberian reward ini hanya akan mulus jika dilakukan dalam ruang organisasi yang sehat dan bersahabat. Memang budaya persaingan kerja menjadi hal yang wajar dan bahkan menurut beberapa pakar hal tersebut wajib dimunculkan, namun kebersamaan dalam perbedaan harusnya menjadi poin yang dijunjung tinggi. Ibarat kata pepatah kuno, “makan, tidak makan yang penting kumpul”. Nah, apakah suasana di sini sudah melambangkan hal tersebut? Entahlah. Saya masih muda,dan baru di lingkungan ini, sehingga saya tidak tahu apa-apa (setidaknya begitulah kata orang yang merasa tahu). Namun yang saya pasti tahu di lingkungan ini, untuk makan saja susah, tidak mau kumpul pula.

 Saya tidak menafikan bagaimana profesionalisme yang dimiliki orang-orang hebat dibalik semua ini. Namun saya juga tidak bisa mengesampingkan unsur “like and dislike” yang pasti dimiliki. Jangan-jangan jika sudah “like this” maka mulai urusan jurnal, pangkat hingga upah akan sangat mudah, dan berbanding terbalik dengan yang “dislike”. Dan sudah pasti saya akan digolongkan kepada kelompok “dislike”, apalagi jika ia tahu tentang tulisan ini.

Ah, rasanya memang kali ini saya berlebihan dalam ngelantur. Namun setidaknya ini adalah hasil obrolan dengan para “wong cilik”. Kembali ke jurnal kinerja, memang akan ada dua alur sungai yang tak pernah bertemu. Yakni perbedaan keyakinan antara wong cilik dengan para bos.

  • Keyakinan wong cilik = kalau diberi gaji yang besar maka semangat kerja akan meningkat
  • Keyakinan bos = kerja yang bener baru ane kasih gaji besar

Yah, kedua hal ini memang tidak akan bernah bertemu ibarat ujung dan pangkal. Entah apa yang ada di otak saya saat mengisi jurnal kinerja hari ini, namun setidaknya isian yang ada di jurnal ini saya anggap “pantas” untuk menjawab apa yang telah saya terima.

 

Salam hangat.

Leave a comment