Pluralitas Dalam Pergerakan 15


 

PLURALITAS DALAM PERGERAKAN

(Upaya Rejuvenasi Spirit Organisasi Kemahasiswaan)

 

 

Assalamualaikum Wr. Wb

Salam sejahtera untuk kita semua.

Ikatan ini telah mencapai masa yang tidak lagi dapat dihitung dengan jari. Meskipun demikian, prestasi (capaian) dan prestise (sanjungan) yang kita raih selama ini rasanya belumlah pantas untuk disandingkan dengan istilah “Organisasi Besar” yang sebagaimana banyak dilontarkan oleh aktivis organisasi ini. Setidaknya dikarenakan empat ciri organisasi belum terwujud sempurna, yakni formalisasi, hierarkhi, kompleksitas dan duration (Berelson & Steiner, 1964:5). Dalam ikatan ini, keempat pilar tersebut belum terlalu kuat. Dampaknya secara otomatis kepada organisasi kita, IMM Kom. FAI mewarisi kelemaham empat pilar tersebut.

“Mangan gak mangan sing penting kumpul” sebagaimana pepatah jawa tempo dulu adalah salah satu poin yang menghambat tumbuh kembangnya ikatan kita tercinta ini. Falsafah tersebut hanya membuat ikatan kita ini menjadi sebuah gerombolan, organisasi happy, kelompok bermain dan jauh dari apa yang dinamakan sebagai sebuah pergerakan. Akan menjadi lebih tepat apabila falsafah tersebut diubah menjadi “Mangan, mikir lan mergawe bebarengan”, tidak ada yang berjalan sendiri, tidak ada yang merasa tertinggal maupun mendahului, semua berjalan secara sinergis dan simultan.

Sebuah organisasi memang (dan harusnya selalu) dibangun dari pondasi sebuah visi yang kuat beserta misi yang hebat.  Sebuah organisasi yang tidak memiliki visi yang jelas tak ubahnya gerombolan pemabuk yang berjalan di tengah hutan dan tak tahu apa yang akan mereka lakukan. Jika ada rusa lewat maka akan ia kejar, jika ada hartawan lewat maka akan dirampok dan jika ada wanita cantik lewat maka akan diperkosa. Jika tidak ada satupun yang lewat, ya diam saja menikmati botol minuman dan kartu gaple dihadapannya. Itulah gambaran kelompok yang memiliki keakraban yang erat namun tidak memiliki visi yang kuat. Penanaman visi tersebut bukan hanya direpresentasikan melalui teks hasil rumusan sidang tahunan. Lebih dari itu, sebuah visi akan tertancap dan tergambar dari setiap aktifitas organisasi. Meskipun program kerja berganti, misi organisasi berubah, namun arah gerak menjadi visi yang tidak boleh terlupakan.

Organisasi tempat kita bernaung ini adalah organisasi dengan kultural dan struktural yang jelas. Secara kultural, kita bernaung di bawah pergerakan Muhammadiyah secara umumnya, dan di payung FAI-UMSurabaya khususnya. Secara struktural kita adalah salah satu dari pimpinan komisariat yang berada di bawah pimpinan cabang yang juga berada di bawah pimpinan di atasnya. Ini yang harus kita mafhumi bersama. Menjadi sebuah kewajiban kolektif (fardlu kifayah) dalam sebuah kelompok bernama organisasi untuk aktif dalam struktur hirarki pergerakan. Bukan merupakan kewajiban individual (fardlu ‘ain), namun harus ada salah satu atau beberapa yang siap untuk turut serta menggerakkan organisasi ini dari jalur struktural. Lagi-lagi hal tersebut dikarenakan organisasi kita bukan sekedar kelompok happy dan organisasi grudak gruduk yang tak punya arah. IMM punya tujuan yang jelas. Di lingkup komisariat-pun pasti pimpinan sudah memiliki visi yang jelas. Jalankan visi tersebut dari berbagai lini. Bukan hanya dari kaca mata seorang aktivis biasa saja. Lebih dari itu, dorong visi tersebut melalui komunikasi aktif dengan beberapa sahabat kita di lingkungan hingga organisasi lain. IMM tidak hanya ada di tempat anda duduk saat ini, namun dari ujung timur negeri ini hingga sisi paling barat Indonesia telah berkibar di atasnya bendera merah IMM. Maka menjadi sangat naif jika anda hanya menjadi katak yang dengan santai berkata “Ah, aku telah menjelajah dunia” padahal ia tidak pernah sejengkalpun keluar dari tempurungnya.

Hal vital dan mendesak yang harus kita wujudkan saat ini adalah perlunya konsep pluralitas dalam pergerakan. Ibarat pertandingan bola, sebuah organisasi tidak akan pernah jaya jika semua anggotanya menjadi kiper dengan alasan menyelamatkan gawang namun lupa mencari poin. Ikatan ini juga tidak akan bertahan lama jika seluruh anggotanya adalah penyerang dengan alasan mencari poin namun lupa dengan lemahnya sisi pertahanan. Pergerakan ini juga akan hancur jika seluruh anggotanya menjadi wasit sehingga hanya bisa saling menyalahkan dan mencari pembenaran. Apalagi jika seluruh anggotanya hanya menjadi penonton dan tim sorak sorai, lantas siapa yang akan bermain?. Berapapun banyaknya kader yang kita miliki, setidaknya kita harus mengisi 80% dari pos yang ada. Untuk itulah pluralitas menjadi perlu. Harus ada yang menjadi penyerang untuk fight dengan lawan, wajib ada gelandang yang dengan mudah menusuk jantung pertahanan lawan dan mencari informasi, harus ada back sebagai penjaga kalau-kalau ada virus yang menyerang, harus ada goal keeper sebagai benteng pertahanan terakhir, harus ada wasit yang ahli dan faham hukum juga harus ada penonton sebagai pendorong semangat. Resikonya adalah semua wajib belajar, bagaimana menjadi kiper yang baik, apa tugas striker, apa kewajiban bidang hikmah, apa makna organisasi dan lain sebagainya. Ini harus dibagi secara profesional dan proporsional. Secara profesional, dengan menentukan orang yang tepat untuk masing-masing pos, lalu secara proporsional dengan menentukan jumlah yang tepat untuk masing-masing pos. Lantas dimana peran ketua? Sebagaimana kapten, ketua bisa dimana saja, asalkan dia ikut bermain. Jangan pernah menyerahkan ikat lengan kepemimpinan kepada orang yang tidak mau mengikuti permainan dan hanya mau menonton saja.

Begitu pula dalam kemampuan dan tingkat intelejensi. Pasti ada perbedaan dan persamaan. Namun ingat, jangan pernah menjadikan perbedaan menjadi jurang pemisah. Juga jangan pernah menuntut lebih untuk menjadikan perbedaan itu menjadi sama. Namun wujudkanlah suasana perbedaan dalam kebersamaan. Memang Tuhan menjadikan manusia berbeda-beda, namun adalah ketetapan Tuhan pula untuk disatukan dalam kebersamaan. Begitu pula dengan organisasi. Jika ada anggotanya yang butuh uang, maka anggota lain yang “beruang” bisa menyumbang. Jika ada anggota organisasi yang sibuk, maka anggota lain siap membantu. Jika ada anggota organisasi yang pelupa, maka anggota lain ada yang siap mengingatkan. Terbayang jika seluruh anggota organisasi ini miskin semua, tentu sulit jalan karena sibuk mencari hidup. Jika anggotanya sibuk semua, pasti tidak akan jalan. Jika anggotanya pelupa semua, no reason for it. Jika pluralitas ini terwujud ditambah dengan tercapainya keempat ciri organisasi yakni Formalitas, Hierarkhi, Kompleksitas dan Duration, maka pasti ikatan kita semakin jaya.

Li kulli zamanin rijaluha. Saya telah lama berusaha untuk melepaskan diri dari post power syndrome. Saya tidak pernah berusaha mengutak atik apapun kebijakan yang dilakukan oleh “sang penerus”. Sering kali ada masukan dan curhatan, namun secara pribadi saya usahakan untk tidak mencampuri apapun putusan dari pengambil kebijakan, bahkan saya cenderung mengamini dan mengikuti putusan dari sang pengambil kebijakan serta lebih membenarkannya dan menyalahkan kader yang tidak menyetujuinya, dikarenakan ini adalah salah satu bentuk etika organisasi. Namun ada titik tertentu dimana saya merasa memiliki kewajiban untuk mengingatkan pelaku organisasi ini. Kaitannya dengan perputaran zaman, pergerakan IMM FAI dari tahun ke tahun akan memiliki problematika yang berbeda. Maka semuanya bergantung kepada anda, para musyawirin yang akan menggodok secara tuntas hasil musyawarah mulia ini.

 

 

Laud Point

  • Membentuk kesatuan massa yang solid, kompak dan erat
  • Memiliki “thaulul amal (mimpi yang panjang)” dan “raf’ul hamam (Cita yang tinggi)”

 

Gibe Point

  • Tertutup dari dunia pergerakan yang sebenarnya
  • Kurang greget untuk menjadikan organisasi sebagai miniatur kehidupan.
  • Kurangnya komunikasi aktif (secara hirarkis IMM, kepada alumni, instansi pemerintahan dan swasta, personalia)
  • Ketimpangan empat pilar ciri Organisasi.

 

Demikian catatan dari saya, selamat bermusyawarah dan semoga mampu melahirkan pemimpin, program dan masa depan IMM FAI yang lebih jaya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

–gfpanjalu–

 

(Disampaikan dalam Musykom FAI UMSurabaya 2012)

Leave a comment