Ramadlan, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qodar serta Hukum Memperingatinya 24


Banyak ulama yang mencoba mengangkat spirit ramadlan sebagai tonggak kebangkitan (kembali) nilai-nilai qurani dalam kehidupan. Hal tersebut dikarenakan bulan ramadlan identik dengan bulan turunnya quran dan bulan yang di dalamnya terdapat malam yang istimewa yakni lailatul qadar. Catatan ini akan menjadi khulashoh sekaligus pengantar bagi kita untuk menambah khazanah islamiyah dengan memberikan uraian mengenai hubungan antara ramadlan, nuzulul quran dan lailatul qodar sekaligus memberikan gambaran kepada kita bagaimana hukumnya memperingati lailatul qodar dan peringatan nuzulul quran

================================================

 

1. Alquran turun pada bulan ramadlan.

Hal tersebut berdasarkan firman Allah pada Surat Al-Baqarah : 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ * – البقرة : 185 –

“ Bulan Ramadhan bulan yang didalmnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil “ ( QS. Al-Basqarah : 185 ).

 

Turunnya alquran pada bulan ramadlan tersebut adalah bersifat keseluruhan, yakni diturunkan ke langit dunia untuk kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur. Dasarnya adalah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, bahwa ia berkata :

أنزل القرأنُ جملةً واحدة ً إلى السمَاءِ الدنيا وكانَ بمواقعِ النجومِ وكان اللهُ يُنزله ُ على رسوله صلى الله عليه وسلمّ بعضه فى إثر بعضٍ . 

Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus ke langit dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur.Lalu Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya SAW bagian demi bagian . “ ( HR. Al Hakim dan al-Baihaqi ).

Dalam riwayat Ibnu Abbas ra yang lain, beliau berkata :

أنزلَ القرأنُ فى ليلةِ القدرِ فى شَهرى رمضان إلى السماء الدنيا جملةً واحدةً ثم أنزل نجوماً . 

Al-qur’an diturunkan pada malam lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu ia menurunkan secara berangsur-angsur “. ( HR. Al-Tabrani ).

 

Kamudian dasar dari proses turunnya alquran dari langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur adalah firman Allah :

 

 

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا * – الإسراء : 106_

Dan Al-Qur’an telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur, agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian-demi bagian . “ ( QS. Al-Isra’ : 106 ).

 

Perbedaan turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dan berangsur-angsur disebabkan karena merujuk kepada dua kata anzala dan nazala dalam ayat surat al-Isra’ : 105.

وَبِالْحَقِّ أَنزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * – الإسراء : 105 – 

Dan Raghib al-Asfahani mengatakan : perbedaan dua kata tersebut, kata inzal dan tanzil, Yaitubahwa kata tanzil ( التنزيل ) dimaksudkan berkenaan turunya Al-Qur’an secara berangsur-angsur ( مفرّقا ),atau ( منجما )Sedangkan kata inzal ditujukan berkenaan turunya al-qur’an secara sekaligus ( جملة ).

 

========================================

2. Malam turunnya alquran (nuzulul quran) diistilahkan pula dengan lailatul qadr 

Dasarnya adalah firman Allah :

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan

Disebutkan pula bahwa malam tersebut adalah lailatin mubarokah. Dasarnya adalah firman Allah surat adh-Dhukhan ayat 3.

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahidan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

 

===========================================

3. Belum (atau tidak) diketahui secara pasti kapan malam yang istimewa sebagai saat turunnya quran tersebut

Hal tersebut dikarenakan RAsulullah tidak pernah memberikan referensi yang pasti mengenai hari dan tanggal turunnya quran. Nabi shallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kepada kita tentang kapan akan datangnya malam Lailatul Qadar. Beliau pernah bersabda:

 

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

Beliau shallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

“Berusahalah untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang fit, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dengan demikian telah jelas bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau 29. Maka gugurlah keyakinan sebagian kaum muslimin yang menyatakan bahwa turunya al-Quran pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan.

Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarokfury dalam kitab sirohnya menguatkan pendapat bahwa nuzulul quran bukan pada malam 17, namun pada malam 21. Katanya “Kami menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21, sekalipun kami tidak melihat orang yang menguatkan pendapat ini. Sebab semua pakar biografi atau setidak-tidaknya mayoritas di antara mereka sepakat bahwa beliau diangkat menjadi Rasul pada ahari senin, hal ini diperkuat oleh riwayat para imam hadits, dari Abu Qotadah radliyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari senin. Maka beliau menjawab,

 

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ  فِيْهِ

“Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.”

Dalam lafdz lain disebutkan, “Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun wahyu kepadaku”

Lihat shahih Muslim 1/368; Ahmad 5/299, Al-Baihaqi 4/286-300, Al-Hakim 2/602.

Hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu adalah jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat yang shahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qodar tidak jatuh kecuali pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Jadi jika kami membandingkan antara firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qodar”, dengan riwayat Abu Qotadah, bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada hari senin, serta berdasarkan penelitian ilmiah tentang jatuhnya hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu, maka jelaslah bagi kami bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada malam tanggal 21 dari Bulan Ramadhan. (Lihat Kitab Siroh Nabawiyyah oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury Bab Di Bawah Naungan Nubuwah, hal. 58 pustaka al-Kautsar)

 

Jadi posisi yang akurat dari malam lailatul qodar tidak diketahui, namun rasul malah memerintahkan kita untuk meraba-raba dan mencari di antara tanggal ganjil pada 10 hari terakhir. Maknanya adalah agar kita meningkatkan kualitas puasa pada tanggal tersebut dan bukan terjebak dalam satu rutinitas yang terpusat pada satu hari saja mengabaikan hari yang lain.

 

=============================================

4. Hukum Memperingati Nuzulul Quran atau Lailatul Qodar

Ulama lagi-lagi berada dalam perselisihan dalam menentukan hukum dari peringatan lailatul qodar maupun peringatan nuzulul quran. Ada sekelompok tertentu yang menyatakan bahwa memperingatinya adalah bid'ah karena tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam catatan ini kiranya perlu kita pahami bersama bahwasannya amalan memperingati lailatul qodar dan nuzulul quran adalah murni amalan ghoiru ta'abbudi alias bukanlah sesuatu hal yang bersifat ibadah, sehingga asalkan cara dan tujuannya adalah untuk kebaikan maka dapat saja dilaksanakan tanpa perlu ada dalil pendukung.

Terkait masalah nuzulul quran, maka menurut saya perlu untuk diperingati untuk mengembangkan semangat mengaji dan mengkaji alquran agar generasi bangsa khususnya para pemuda tidak gampang melupakan dan melalaikan quran.

Nasrun minallah wallahul muwafiq.

Leave a comment