Pembodohan Dalam Kisah Berisi Larangan Mengucapkan Selamat Natal 25


Lagi, masih beredar sebuah kisah fiktif dalam dunia maya yang beberapa hari yang lalu sempat saya coba mencari dimana kisah tersebut bersumber lalu mencoba meluruskan permasalahan yang ada di dalamnya. Dalam kisah tersebut saya membaca terdapat sebuah pembodohan dan upaya melemahkan ummat islam sembari menunjukkan bahwa muslim itu bodoh. Berikut kisahnya :

Muslim : bagaimana natalmu ?
David : baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?
Muslim : tidak, agama kami menghargai orang lain, termasuk anda, tapi masalah ini, agama saya melarangnya..
David : tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?
Muslim : mungkin mereka belum mengetahuinya… David, kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ?
David : oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya… Itu akan mengganggu kepercayaan saya…
Muslim : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah ;)…
David : sekarang, saya mengerti.. 😉

————

Ketidaktepatan pada cerita di atas adalah menyandingkan ungkapan selamat natal dengan syahadat. Tentu saja umat agama lain tidak mau mengatakan syahadat karena namanya saja syahadat, maknanya adalah pengakuan, sedangkan ungkapan selamat adalah bentuk penghargaan, penghargaan dengan pengakuan tentu memiliki makna yang jauh berbeda.





Ketidaksambungan dan tidak adanya standart dalam sebuah komparasi ini membuat metode analisis yang digunakan menjadi tidak tepat. kalau hendak mengukur ungkapan selamat natal maka bandingkan dengan ungkapan selamat lebaran, selamat siang, selamat tidur dan ungkapan lain yang senada. Adapun syahadat dapat dibandingkan dengan pengkudusan, pembaptisan atau yang setingkat

Harusnya kacamata yang digunakan adalah kacamata perdamaian dan keindahan, misalnya dengan kata2 berikut Karya wan Iqbal Mansur Arif.

……….
David: Kamu tidak ucapkan selamat natal kepadaku?
Muslim: Lho? Emangnya ente Kristen? Ente kan atheis?
Case closed.

————-

David: Kamu tidak kirimkan SMS selamat natal kepadaku?
Muslim: Pulsa ane habis.
Another case closed.
———————–

David: Kamu tidak kirimkan ucapan natal kepadaku?
Muslim: Tapi ini kan bulan April?
Again, another case closed.
—————————–
David: Kenapa kamu tidak kirimkan ucapan natal kepadaku?
Muslim: Eh, situ siapa ya?
David: Oops! Salah orang. Maaf.
Another case. Closed again.
—————————-
David: Tumben kamu tidak kirim ucapan selamat natal kepadaku.
Muslim: Dilarang Habib Rizieq. Katanya haram.
David: Habib Rizieq itu siapa sih?
Muslim: (terdiam) Iya ya. Siapa sih dia? Selamat natal.
David: Terima kasih. Salam sejahtera.
Another case closed. Again.
—————
Muslim: Kamu tidak ucapkan selamat natal kepadaku?
David: Lho? Bukannya terbalik?
Muslim: Oh, iya. Selamat natal.
David: Terima kasih. Salam sejahtera.
Case closed. Again.

———————-

david : kamu tidak ucapkan selamat natal padaku?

Muslim : ashadu alla illa ha illallah wa ashadu anna muhammaddarrasulullah.

David : itu kan ucapan syahadat, goblok!

———————–

David: kamu ga ucapin selamat natal padaku?

Muslim: ga sabaran amat sih, kan masih beberapa hari lagi?

*kasus ditutup*

—————————

D : km ga ucapin selamat natal kepadaku?

M : mmh, ucafin ga ea..

D : kenapa skarang tidak ucapkan selamat natal padaku ?

M : mau tau banget? Apa mau tau aja?

D : nanya aja sih, biasanya km selalu ucapin kan..

M : cungguh? Ciyus? Miapah?

D : biasanya kita kan selalu saling mengucapkan pada yg sedang merayakan hari besar keagamaan..

M : terus, gw harus fentung sambil bilang take beer gitu?

D : *pengsan*

——————–

 

saling membantu itu indah, bukan?? dan saya haturkan SELAMAT HARI NATAL bagi anda yang merayakannya, salam hangat.

 

Leave a comment