Lagi, Fatwa Kontroversial Terkait Duduk Mengangkang di Sepeda Motor 23


Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe, Provinsi Aceh akan mengeluarkan peraturan yang melarang bagi perempuan duduk mengangkang saat diboncengi kaum laki-laki di sepeda motor. Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) atau DPRD siap mendukung. Namun lagi-lagi fatwa ini adalah merupakan fatwa yang kontroversial.

Salah satu pemicunya adalah alasan dibuatnya peraturan tersebut, Menurut Suaidi Yahya, walikota Lhokseumawe, hal itu diberlakukan dengan tujuan agar mengenal yang mana orang perempuan dan laki laki saat mengendarai sepeda motor. Ini tentu merupakan salah satu hal yang bias gender. Apa hubungannya antara posisi duduk saat berkendara dengan status gender seseorang? Tidak heran jika kemudian hal ini banyak mendapat kritikan dari aktifis gender.

Sementara itu, Di beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, terutama kawasan Asia, perempuan duduk mengangkang di atas sepeda motor bukanlah hal tabu. Di Malaysia misalnya, menurut pengakuan seorang warga Aceh yang lama menetap di sana, penumpang sepeda motor dilarang duduk menyamping ketika dibonceng. Peraturan itu sebagai salah satu upaya pemerintah di sana melindungi keselamatan warganya dalam berkendaraan.

Di negara itu, duduk menyamping dilarang karena rentan resiko jatuh dan penjambretan. Bahkan, saat mengurus surat izin mengemudi, pihak kepolisian Malaysia juga memberitahukan hal itu. Selain Malaysia, di beberapa negara lain yang malah terkenal dengan hukum Islamnya yang keras, perempuan duduk mengangkang ketika dibonceng sesuatu yang wajar. Berikut beberapa foto yang merekam perempuan di beberapa negara ketika dibonceng di atas sepeda motor:

Maroko (flickr.com)

Afghanistan (Reuters)
Iran (worldofstock.com)

Saudi Arabia (AFP)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu, secara kasat mata jelas bahwa sepeda motor memang dibuat untuk berboncengan dengan cara mengangkang. Dengan posisi footstep belakang yang ada dua kiri kanan, bukan hanya ada dua di sisi kiri saja, membuktikan kalau memang ia dibentuk untuk berboncengan secara mengangkang.

Selain itu, secara fungsional, berboncengan miring akan lebih berbahaya daripada mengangkang. Hal tersebut dikarenakan ketika berboncengan mengangkang maka beban akan terpusat dan berat akan seimbang. Berbeda dengan berboncengan miring yang tentu beban akan miring sebelah. Ini akan berpengaruh dan menyulitkan terhadap pengendara jika berponcengan dalam posisi beban yang tidak seimbang.

 

 

 

 

 

 

Source : http://news.detik.com/read/2013/01/02/131513/2131159/10/pemko-lhokseumawe-akan-larang-perempuan-mengangkang-di-sepeda-motor?n991102605 & http://atjehpost.com/read/2013/01/02/33817/0/51/FOTO-Potret-Perempuan-di-Beberapa-Negara-Islam-Duduk-Mengangkang-di-Sepeda-Motor

Leave a comment