Sebait Catatan Hari Bahagia 10


Hanya satu kata, Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Itulah salah satu kalimat yang menggambarkan perasaan saya saat itu. Sebuah pernyataan kepasrahan total kepada Allah saya haturkan, mengiringi segenap puji syukur atas dapat dilangsungkannya hari yang teristimewa.

DSCF5304 -up

Tanggal 25 Desember 2012, pukul 09.00, tepat dengan peristiwa perayaan natal yang menurut sebagian orang diyakini sebagai lahirnya juru selamat dan penebar kasih sayang, saya secara resmi dan sah mengikat diri dalam ikatan kasih. Libur panjang adalah salah satu alasan dipilihnya tanggal tersebut, selain memang tanggalnya yang cantik sekaligus terletak di akhir 2012 yang konon katanya merupakan detik-detik jelang kiamat alias doomsday.

DSCF4832 -up

Seluruh proses pernikahan berlangsung dengan sangat singkat. Hubungan “pacaran” memang berlangsung cukup lama, sekitar tiga tahun tepat, yakni dimulai sekitar bulan Dzulhijjah 1430-1433 H. Sekitar bulan ramadlan 1433 H, keinginan serta wacana untuk mengakhiri hubungan pacaran dan menginjak jenjang yang lebih serius menjadi semakin menguat. Akhirnya pada bulan Syawal dimulailah komunikasi serius dan aktif antara dua keluarga. Bulan Dzulqo’dah 1433 H sekira tanggal 14 Oktober 2012 dilangsungkanlah pertemuan singkat yang diistilahkan oleh orang lain sebagai lamaran, kunjungan atau apapun itu.

Pertemuan ini dilaksanakan oleh keluarga rombongan pengantin pria kepada pengantin wanita. Dua pekan kemudian pada hari yang sama, dilangsungkanlah kunjungan balik sekaligus menentukan kapan dilaksanakannya prosesi pernikahan. Setelah semua urusan beres, pertengahan bulan Nopember alias satu bulan sebelum dilangsungkannya prosesi mulai berjuang kesana kemari mengurus segala bentuk persuratan. Akhirnya tibalah hari tersebut, libur natal 2012 bertepatan dengan 11 Shafar 1434 H sebagai momentum dilaksanakannya akad nikah, pengikat hubungan yang erat, mitsaqon gholidho.

Kusus -up

Usai akad dilangsungkan tasyakuran kecil bersama keluarga besar istri. Sepekan kemudian, tepatnya tanggal 30 Desember 2012 kami berkeliling mengunjungi seluruh saudara di berbagai kota, sampai saat tahun baru. Efek sampingnya, malam tahun baru saat yang lain asyik merayakannya maka saya memilih meringkuk di bawah selimut dengan badan yang demam plus panas dingin.

Sepekan kemudian, 6 Januari 2013 dilangsungkan tasyakuran di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya. Terngiang nasehat penceramah, yakni muballighot cilik, adik Defa tentang apa itu esensi dari pernikahan yang sakinah mawaddah warrahmah.

DSCF5348 -up

Yah, sebuah catatan singkat mengenai bagaimana ikatan atas hubungan ini dimulai. Terimakasih kepada semua pihak, khususnya orang tua kami berdua atas restu, doa dan jerih payahnya dalam menyatukan kami. Kepada seluruh kawan yang telah membantu mulai dari awal proses semenjak lamaran hingga akhir tasyakuran, terimakasih. Juga kepada semuanya atas doa dan hadiah yang mengalir kepada kami, semoga tetap kami kenang dan semoga dibalas dengan yang lebih baik. Teruntuk semuanya, Jazakallahu Khairan Katsiran.

 

Kini, kami telah memulai lembaran hidup yang baru. Dengan kehidupan yang baru, bersama orang baru serta kebiasaan baru, maka semoga kami dapat menemukan semangat baru dan jiwa baru untuk melahirkan generasi baru yang akan menjadi sosok penerus bangsa baru dengan membawa pencerahan dan pembaharuan yang benar-benar baru.

——

Owh, iya, ada kisah yang belum terungkap, tentang malam pertama. Ah, tak usah diceritakan, paling ya gitu deh…

Leave a comment