Dakwah Pada Anjing dan Pemulung 15


Apa yang akan kau lakukan saat anjing kesayanganmu jatuh ke dalam selokan kecil yang kotor dan berbau busuk? Akankah kau berteriak marah-marah kepada anjing itu sembari menjelaskan padanya betapa kotor dan busuknya bau selokan tersebut? Atau kau akan berteriak menyuruh anjingmu untuk keluar, dan meneriakinya lantas memaki dan membodohkannya jika ia gagal untuk keluar dari selokan itu?

Tentu tidak. Tanpa kau beritahu sekalipun anjingmu sudah tahu bahwa selokan bukan tempat yang nyaman baginya dan ia harus keluar, meskipun ia akan memandang dari perspektif berbeda. Kau memandang dari sudut pandang kebersihan, kesucian dan kesehatan, dan anjingmu memandang dari aspek kenyamanan pada dirinya. Tapi inti dari kedua sudut pandang itu adalah sama, intinya anjing harus keluar dari selokan tersebut. Lantas apakah ceramahmu yang panjang kali lebar kalau perlu dibumbui makian dan sedikit sindiran mampu membuat anjing tersebut keluar? Tidak akan pernah.

Kau harus turun ke bawah. Kau harus mengulurkan tanganmu untuk memegang anjingmu. Bahkan bila perlu kau harus turun dan membiarkan kakimu bercampur kotoran dan harum aroma selokan lalu angkat anjingmu, bawa dia ke air bersih kemudian bersihkan kakimu sekaligus cuci anjingmu itu. Ini adalah bentuk dari totalitas. Jangan pernah kemudian berfikir bahwa kau telah melarang anjing itu kemana-mana lalu ketika anjing kesayanganmu tercebur di selokan lantas kau meninggalkannya. Kau juga tak pantas mengatakan bahwa engkau sudah capek menasehati sang anjing untuk keluar lalu kau mempersilahkan si anjing untuk berusaha dan mencari jalan keluarnya sendiri. Jika kau menyuruhnya keluar, maka jangan sekedar menyuruh, tapi angkat dia, entaskan dia dari keterpurukannya kini. Jika tidak maka ya biarkanlah begitu saja apa adanya lalu kunci rapat-rapat mulutmu dan ikhlaskanlah anjing kesayanganmu yang kini membawa parfum selokan itu.

Pemerintah tidak akan pernah bisa mengurangi kemiskinan dengan hanya berkata "Wahai rakyatku yang miskin-miskin, sadarilah bahwa dirimu miskin. Lalu ketahuilah bahwa orang miskin itu tidak bisa sekolah, tidak bisa beli mobil, tidak bisa makan enak, tidak bisa masuk mall, tidak bisa beli pulau, dan tidak bisa korupsi -sudah miskin apa pula yang akan dikorupsi?". Akan menjadi tidak pantas dan menjadi sangat memuakkan jika pemerintah mengatakan hal itu pada kaum miskin di sekelilingnya. Tanpa dijelaskan sepanjang lebar itu si miskin sudah tahu bahwa dirinya adalah orang miskin yang tidak mampu sekolah, beli mobil ataupun beli pulau. Orang miskin dan goblok sekalipun tahu akan hal itu tanpa perlu dipertegas dengan kata-kata. Tinggal bagaimana orang yang berada di atas turun, lalu menunjukkan kepada si miskin "Wahai kawan, ikutlah denganku, nanti di sana kau bisa makan enak bersama keluargamu asalkan kau mau mengambil setiap botol bekas yang ada di tepian jalan. Jika itu kau ambil semenjak dari sini sampai ujung jalan nanti, maka itu dapat kau tukarkan dengan sepiring nasi. Jika kau mengumpulkan lebih banyak lagi maka kau akan mendapatkan lebih banyak pula dan itu akan menjadi tabungan bagimu untuk menikmati hidup esok hari".

Itulah bentuk dan menjadi sendi utama dari dakwah. Dakwah adalah mengajak, bukan menyuruh. Dakwah adalah mengentaskan kemiskinan, bukan melarang seseorang menjadi miskin. Dakwah adalah mengangkat anjing yang jatuh di selokan, bukan menggonggonginya agar keluar dari tempat bau tersebut. Mari berdakwah bersama.

 

 

Leave a comment