FILSAFAT : Akal Itu Tempatnya di Perut 8


Dalam dunia filsafat, baik itu mengenai filsafat ilmu maupun ilmu filsafat, perdebatan terkait dimana tempat akal masih menjadi lahan diskusi yang seakan tak ada habisnya. Satu sisi mengatakan bahwa akal itu berpusat di hati, sementara sebagian lain menyatakan bahwa akal itu terletak di otak. Kedua pihak tersebut memiliki rasionalisasi dilengkapi dalil yang sama kuatnya, sehingga perdebatan tersebut tidak pernah selesai begitu saja.

Filosof klasik berpendapat bahwa akal terletak di hati. Alasannya antara lain :

  1. Ketika seseorang berfikir dengan sangat dalam atau ada musibah maka ada rasa sesak muncul dalam dada
  2. Hati (Qalb) adalah kata yang banyak disebut dalam AlQuran berkaitan dengan pemahaman (Misal : Lahum qulubun la yafqohuna biha, mereka punya hati tapi tidak berfikir dengannya).

 

Sementara filosof modern berpendapat bahwa akal terletak di otak. Alasannya antara lain :

  1. Ketika seseorang berfikir, maka ada rasa berat di kepalanya.
  2. Otak adalah pusat dari sekumpulan syaraf yang tersebar di tubuh
  3. Apabila otaknya rusak namun hatinya baik, maka seseorang tidak mampu berfikir (Contohnya penderita stroke). Tapi jika hatinya yang bermasalah tapi otaknya masih sehat maka ia masih bisa berfikir (Contohnya penderita Liver)
  4. Ada ayat alquran yang menjelaskan tentang jidat seseorang yang tidak digunakan untuk berfikir

 

Yah, setidaknya beberapa alasan yang sama-sama kuat tersebut yang menjadikan perdebatan antara keduanya tidak akan pernah habis. Namun dikarenakan hal ini adalah masuk kategori ranah pemikiran, maka sayapun memiliki pemikiran filosofis mengenai dimana letak akal. Menurut saya, akal terletak di PERUT. Ya, perut, tempat mesin penggiling makanan. Alasan saya antara lain :

  1. Ketika perut seseorang kosong/Lapar, ia menjadi sulit konsentrasi dan berfikir dengan baik. Semakin rasa lapar itu melilit, semakin sulit seseorang untuk berfikir. Jelas sekali perut berkaitan erat dengan akal, sehingga perut identik dengan akal.
  2. Saat seseorang berfikir dengan sangat dalam, terkadang dapat mengakibatkan sakit perut. Ini juga terjadi di hati maupun otak. Hal ini yang biasa dialami saat seseorang berfikir dalam kemudian ia merasa ada sesuatu dalam perutnya yang hanya dapat dituntaskan dengan BAB, artinya memang akal sebagai alat berfikir itu sejatinya berada di perut.
  3. Saat berusaha menghilangkan rasa sakit di perut akibat berfikir, dengan cara BAB, tidak jarang seseorang kemudian mendapatkan ide yang cemerlang. Artinya saat beban di perut berkurang maka perut dapat bekerja dengan lancar dan berfikir dengan tenang. Itulah kenapa banyak orang yang mencari inspirasi dengan semedi di WC, dibumbui aroma sedap khas toilet plus rokok sebatang dijamin inspirasi akan muncul secara lancar dari akalnya, yang terletak di perut.
  4. Banyak orang yang berfikir mati-matian demi perutnya. Jarang ada orang yang mau berfikir mati-matian untuk memperjuangkan otaknya ataupun hatinya. Tapi banyak orang yang siap berfikir siang malam demi perutnya. Ini menjadi salah satu bentuk konsep trilogi “dari perut, oleh perut, untuk perut”.

Nah, banyak sudah alasan yang mendasari penelitian yang telah saya lakukan selama ini. Saya yakin anda juga merasakan dan mengalaminya. Berarti jelas sudah bahwa akal sebagai tempat berfikir itu adanya di perut, bukan di hati, dan bukan di otak.

 

Salam Filsafat Humor dan Humor Filsafat.

Leave a comment