Kompetensi Profesi Guru Pendidikan Agama Islam


Berbicara tentang profil guru PAI berarti berbicara tentang kualifikasi yang harus dimiliki oleh guru tersebut sehingga ia dapat digolongkan sebagai guru yang profesional. Adapun standar kompetensi profesionalitas guru di indonesia didasarkan pada analisis kompetensi yang lebih dikenal dengan istilah PGBK (Pendidikan Guru Berbasis Kompetensi). Untuk menjadi guru yang profesional, ia dituntut untuk memiliki tiga  kompetensi, yaitu :

http://2.bp.blogspot.com/_cv1XZyn0FHM/S_is-4bEaQI/AAAAAAAAAWI/4RIk9QgIgwg/s1600/slowdownwarn.jpg

a. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional mempunyai pengertian bahwa guru harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan. Selain itu, guru juga harus menguasai strategi pembelajaran dan mampu mengunakannya dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam hal ini kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru PAI adalah sebagai berikut:

1). Menguasai bahan pelajaran dan kurikulum

Yang dimaksud dengan menguasai bahan pelajaran adalah guru harus menguasai bahan yang sesuai dengan materi atau cabang ilmu pengetahuan yang dipegangnya, sesuai dengan kurikulum yang tertera dalam GBPP dan kurikulum sekolah. Agar dapat menyampaikan materi tersebut dengan lebih mantap, maka guru juga harus menguasai bahan pelajaran yang lain supaya dapat memberi pengayaan serta memperjelas dari bahan-bahan pelajaran yang dipegang guru tersebut.[1]  Selain itu seorang guru dituntut benar-benar menguasai dan memahami kurikulum, baik dalam pelaksanaan kurikulum maupun pengembangan kurikulum sekolah.

2). Kemampuan melaksanakan dan menggelola pembelajaran

Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru harus dapat memaksimalkan (mempergunakan) waktu yang ada dengan materi yang  ingin dicapai agar mencapai hasil yang memuaskan. Untuk itu, kemampuan mengajar sangat dibutuhkan sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Untuk dapat mengajar dengan efektif, guru dituntut menguasai metode-metode mengajar, kurikulum, membuat perencanaan mengajar, memberikan penyajian pelajaran yang menarik serta menguasai perangkat-perangkat mengajar lainnya yang menjadi penunjang bagi keberhasilan pembelajaran.

3). Kemampuan menggunakan media dan sumber pembelajaran

Media pembelajaran adalah perantara atau pengantar pesan dari guru kepada penerima pesan (peserta didik).[2] Sedangkan sumber pembelajaran adalah segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) yang memudahkan terjadinya proses belajar mengajar.[3] Pendayagunaan media dan sumber pembelajaran dapat berupa penggunaan alat (media) buatan guru, pemanfaatan laboratorium, buku dan papan tulis, pemanfaatan nara sumber serta pengembangan pengajaran di sekolah dan pemanfaatan fasilitas teknologi pembelajaran yang lain.

Dari pengertian tersebut, maka seorang guru diharapkan memiliki kemampuan:

  1. Mengerti secara mendalam tentang fungsi media dan sumber pendidikan.
  2. Menguasai pengunaan media pendidikan secara tepat dalam interaksi belajar mengajar.
  3. Membuat alat-alat media pendidikan secara murah dan sederhana.
  4. Memilih media dan sumber pendidikan yang sesuai dengan tujuan dan isi pelajaran yang diajarkan. 
  5. Memelihara atau mengglola media pendidikan dan menilai baik buruknya penggunaan media tersebut.
  6.       Mengembangkan media pendidikan.[4]

4). Kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajaran

Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses menentukan jasa, nilai atau manfaat pembelajaran melalui kegiatan penilaian atau pengukuran.[5]

Guru harus memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajaran karena penilaian pembelajaran merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran. Kegiatan penilaian yang seharusnya dikuasai guru meliputi: penyusunan alat ukur (tes), penyelenggaraan tes, koreksi jawaban peserta didik dan pemberian skor serta pengolahan skor dengan menggunakan norma tertentu.

Pengadministrasian proses serta hasil penilaian dan tindak lanjut penilaian hasil yang berupa pengayaan dan pengajaran remedial serta seluruh tahapan diatas, perlu diselaraskan dengan komponen sistem pengajaran yang lain.

5). Kemampuan melakukan penelitian kelas

Untuk menunjang pelaksanaan tugas sebagai guru yang profesional, idealnya guru harus memiliki kemampuan menganalisis, mensistesis proses serta hasil pengajaran secara ilmiah. Setidaknya guru mampu menyelenggarakan penelitian dengan sederhana yang mencakup pengamatan kelas pada saat mengajar, mengidentifikasi faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar dan hasil belajar, menganalisis alat penilaian dan mengembangkannya secara efektif.

b. Kompetensi Personal

Kompetensi personal adalah kemampuan guru dalam bersikap dengan mantap sehingga patut untuk diteladani, digugu dan ditiru. Seperti yang dikemukakan oleh  Ki Hadjar Dewantara: “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karsa, tut wuri handayani.”[6]

Menurut Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyan yang termasuk dalam kompetensi personal meliputi : 

   1). Adil, Jujur dan Obyektif.

Seorang guru dituntut memiliki sifat adil, jujur dan obyektif dalam  memperlakukan dan juga menilai peserta didiknya pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Sifat– sifat itu harus ditunjang dengan penghayatan dan pengalaman nilai–nilai moral serta nilai-nilai sosial budaya yang diperoleh dari masyarakat.

Adil berarti memberikan hak yang sama kepada orang,[7] sedangkan jujur adalah tulus ikhlas dalam menjalankan fungsinya sebagai guru, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Obyektif adalah tidak berat sebelah dan dipengaruhi oleh pemikiran atau perasaan orang lain.[8] Tidak memandang bahwa peserta didik itu anaknya, kerabatnya, atau anak si A, si B dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut dimiliki agar guru dapat  mencapai tujuan belajar yang telah di harapkan. Dalam hal ini Allah telah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 8  yang berbunyi :

ولا يجرمنكم سنان قوم الاتعدلوااعدلوا هواقرب لتقوى واتقواالله ان الله خبيربما تعملون

 

Artinya:‘Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.’[9]

  2). Simpatik, Luwes dan Bijaksana.

Dalam proses belajar mengajar, Seorang guru hendaknya mempunyai sikap yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Disini seorang guru jangan mengekspose atau menyebarluaskan kesalahan yang dilakukan peserta didiknya di depan umum.[10] Dan jika ini terjadi dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung bagi terlaksananya proses belajar mengajar. Selain itu, keluwesan merupakan faktor pendukung agar disenangi oleh peserta didik. Sebab dengan begitu guru akan mampu bergaul, berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik dengan peserta didik. Disamping keluwesan, kebijaksanaan dalam membuat keputusan juga menjadi faktor penentu bagi peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

   3). Sabar, Tegas dan Demokratis.

Sebagai pendidik hendaknya dalam mengajarkan ilmunya mempunyai sifat penyabar. Dengan begitu, ketika dia harus berulang-ulang mengulangi pelajaran  kepada peserta didiknya, maka dia harus melakukannya dengan penuh keikhlasan serta kesadaran, bahwa setiap orang  memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Dalam hal ini  Al Qur’an juga menyinggung sebagaimana yang termaktub dalam surat Ali Imran ayat 200 yang berbunyi :

ياايهاالذين امنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقواالله لعلكم تفلحون

Artinya:‘Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.’[11]

Selain itu, pendidik juga hendaknya bersikap tegas dalam memutuskan segala sesuatu. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh guru adalah sikap demokratis, dalam artian mampu mengakomodasi dan menghargai setiap pendapat peserta didik hal ini akan mendorong keaktifan dalam berfikir dan mengeluarkan pendapat atau ide.

   4). Disiplin, Ulet dan Tekun.

Disiplin lahir dari kebiasaan hidup dan kehidupan belajar yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaannya. Kedisiplinan merupakan penentu kesuksesan (keberhasilan) guru dalam melaksanakan pendidikan dan merupakan salah satu ciri dari orang yang profesional. Tanpa kedisiplinan, akan sulit mencapai tujuan yang diinginkan, jadi sifat disiplin mutlak dimiliki oleh setiap guru.

Disamping sifat disiplin, seorang guru juga harus memiliki keuletan dan ketekunan dalam bekerja. Guru harus ulet dalam menghadapi problem yang dihadapinya, tidak mudah putus asa apabila menghadapi kegagalan, karena putus asa merupakan perbuatan yang melanggar norma agama. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yusuf ayat 87 yang berbunyi :  

 

انه لايايئس من روح الله الا القوم الكفرون

Artinya: ‘Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.’[12]

c. Kompetensi Sosial

Mempunyai arti bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi sosial. Dengan kata lain, guru harus menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai pihak guna mencapai tujuan yang diharapkan.

Adapun kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh guru adalah:

   1). Mampu berinteraksi dengan Kepala Sekolah.

Kepala sekolah merupakan atasan guru, sehingga ia harus mampu melaksanakan segala perintah dan kebijaksanaan atasannya, menghormatinya, menyimpan rahasia jabatan, segala saran dan kritik kepada atasan harus diberikan melalui prosedur yang telah ada dan yang terpenting adalah dalam menjalin interaksi antara keduanya harus didasarkan pada upaya meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan.[13] Dengan demikian akan tercipta kondisi yang kondusif yang akan membantu kinerja guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

  2). Mampu berinteraksi dengan sesama guru.

Rekan seprofesi merupakan lingkungan yang menyebabkan guru dapat merasakan hidup dalam satu lingkungan yang eksistensinya akan memantapkan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya. Rasa kesetiakawanan dan kebersamaan antar guru dapat membentuk iklim organisasi yang kondusif dan menyenangkan sehingga pada akhirnya akan terbentuk satu team work yang solid yang akan mepunyai dampak positif yaitu memberikan dorongan dan motivasi kerja. Kesemua itu akan berguna untuk memantapkan, meningkatkan serta memperkuat kualitas dan etos kerja para guru. Dengan lingkungan kerja yang kondusif para guru akan memperoleh ketenangan dalam bekerja dan dapat saling membantu guna memecahkan kesulitan yang dihadapi.[14]

Dengan terjalinnya keharmonisan antar sesama guru, seorang guru dapat saling bertukar dan mengambil pengalaman dari guru yang lain, saling mengingatkan apabila terjadi kesalahan dan lain sebagainnya.

  3). Mampu berinteraksi dengan peserta didik.

Kerjasama antar guru dengan peserta didik mutlak dibutuhkan, karena keduanya saling berinteraksi secara langsung pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Guru harus berusaha agar dapat diterima diantara para peserta didik. Rasa percaya diri, rasa aman, rasa dilindungi, rasa diikutsertakan dan diakui merupakan pra syarat dalam menciptakan hubungan kerja yang penuh kehangatan (warmeness).

Selain tiga kompetensi diatas, seorang guru akan siap melaksanakan tugasnya sebagai guru jika ia telah memiliki seperangkat kemampuan tertentu. Setiap kemampuan dicapai melalui sejumlah pengalaman belajar yang sesuai. Berikut ini kemampuan dan pengalaman belajar yang telah dibakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis, sebagai berikut:[15]

a. Mengembangkan kepribadian

1). Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

a). Mengkaji ajaran agama/ kepercayaan yang dianut

b). Mengamalkan ajaran-ajaran agama/ kepercayaan yang dianut

c). Menghayati peristiwa yang mencerminkan sikap saling mengahargai antar umat yang berlainan agama

2). Berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila

a). Mengkaji berbagai ciri manusia Pancasila

b). Mengkaji sifat-sifat kepatriotan bangsa Indonesia

c). Menghayati urunan para patriot dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan

d). Membiasakan diri menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan

e). Mengkaji hubungan manusia dengan lingkungan alamiah dan buatan

f). Membiasakan diri menghargai dan memelihara mutu lingkungan hidup

3). Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru

a). Mengkaji sifat-sifat terpuji yang harus dimiliki guru

b). Membiasakan diri menerapkan sifat-sifat sabar, demokratis, menghargai pendapat orang lain, sopan santun dan tanggap terhadap pembaharuan

b. Menguasai landasan kependidikan

1). Mengenal tujuan pendidikan dasar untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional

a). Mengkaji tujuan pendidikan nasional

b). Mengkaji tujuan pendidikan dasar

c). Meneliti kaitan antara tujuan pendidikan dasar dengan tujuan pendidikan nasional

d). Mengkaji kegiatan-kegiatan pengajaran yang menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional

2). Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat

a). Mengkaji peranan sekolah sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan

b). Mengkaji peristiwa-peristiwa yang mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan

c). Berlatih mengelola kegiatan sekolah yang mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan 

3). Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar

a). Mengkaji jenis perbuatan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap

b). Mengkaji prinsip-prinsip belajar

c). Berlatih menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan belajar mengajar

c. Menguasai bahan pengajaran

1). Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar

a). Mengkaji kurikulum pendidikan dasar

b). Menelaah buku teks pendidikan dasar

c). Menelaah buku pedoman khusus bidang studi

d). Berlatih melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dinyatakan dalam buku teks buku pedoman khusus

2). Menguasai bahan pengayaan

a). Mengkaji bahan penunjang yang relevan dengan bahan bidang studi pendidikan dasar

b). Mengkaji bahan penunjang yang relevan dengan profesi guru

d. Menyusun program pengajaran

1). Menetapkan tujuan pengajaran

a). Mengkaji ciri-ciri tujuan pengajaran

b). Berlatih merumuskan tujuan pengajaran

c). Berlatih menetapkankan tujuan pengajaran untuk satu satuan pengajaran

2). Memilih dan mengembangkan bahan pengajaran

a). Berlatih memilih bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai

b). Berlatih mengembangkan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai 

3). Memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar

a). Mengkaji berbagai metode mengajar

b). Berlatih memilih metode mengajar yang tepat

c). Berlatih merancang prosedur belajar mengajar yang tepat

4). Memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai

a). Mengkaji berbgai media pengajaran

b). Berlatih memilih media pengajaran yang tepat

c). Berlatih membuat media pengajaran yang sederhana

d). Berlatih menggunakan media pengajaran

5). Memilih dan memanfaatkan sumber belajar

a). Mengkaji berbagai jenis dan kegunaan sumber belajar

b). Berlatih memanfaatkan sumber belajar yang tepat

e. Melaksanakan program pengajaran

1). Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat

a). Mengkaji prinsip-prinsip pengelolaan kelas

b). Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar

c). Berlatih menciptakan suasana belajar mengajar yang baik

d). Berlatih menangani masalah pengajaran dan pengelolaan

2).Mengatur ruangan belajar

a). Mengkaji berbagai model tata ruang belajar

b). Mengkaji kegunaan sarana dan prasarana kelas

c). Berlatih mengatur ruang belajar yang tepat

3). Mengelola interaksi belajar mengajar

a). Mengkaji cara-cara mengamati kegiatan belajar mengajar

<p style=%