Dibalik Tidur Seorang Gus Dur 5


 
Sepeninggal beliau Almarhum Gus Dur, gema pemikiran dan ide yang ia angkat masih saja mengiang di jutaan hati sanubari masyarakat. Bukan hanya oleh mereka yang pernah berguru secara langsung dengan beliau, namun juga oleh mereka yang hanya sekedar membaca dan tahu tentang pemikirannya dan mengamininya. Hal ini yang kemudian menjadikan Gus Dur menjadi sangat tepat untuk dinobatkan sebagai sulthonul ulama di Indonesia, atau bahkan dapat berdiri sebagai wali kesepuluh alias satu derajat di bawah walisongo.
 
Salah satu khas nyentrik beliau adalah "tidur". Kapanpun, dimanapun dan dalam kesempatan apapun kalau beliau merasa mengantuk ya tidur, tanpa perlu menutup-nutupi. Pernah suatu hari saya bersama bapak saya turut membantu sebagai pasukan Bantuan Komunikasi (BANKOM) dalam menyambut serta mengawal kunjungan Gus Dur untuk mengisi suatu acara di sebuah Wisma Blandong (rumah kayu). Beliau berpidato cukup lama, kemudian membuka sesi tanya jawab. Dalam sesi terebut terdapat lima pertanyaan baik dari kalangan mahasiswa, wartawan maupun masyarakat umum yang rata-rata menggunakan pertanyaan panjang kali lebar. Ternyata selama sesi tersebut Gus Dur melaluinya dengan tidur. Bahkan sampai dengkurannya terdengar meskipun lirih. Ketika salah seorang peserta ragu untuk melanjutkan pertanyaan, Gus Dur kemudian bangun dan mengatakan agar ia melanjutkan pertanyaannya. Setelah penanya kembali bertanya Gus Dur-pun kembali terlelap dalam tidur. Ini adalah salah satu khas Gus Dur yang masih menjadi misteri dan teka teki. Bagaimana bisa ia memahami banyak hal yang dikatakan oleh orang lain padahal ia dalam keadaan tidur, bahkan tak jarang sampai terdengar mendengkur.
 
Kisah lain tentang tidurnya Gus Dur antara lain sebagaimana dikisahkan oleh Pak Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi , mantan Menteri Pertahanan di Kabinet Gus Dur. Kata pak Mahfud MD, “selama saya duduk di kabinet, menjadi menteri Presiden Gus Dur, hal itu (tidur, tapi menyerap materi) juga saya saksikan. Saat sidang kabinet, biasanya Gus Dur membuka sidang dengan pengantar singkat, kemudian menyerahkan kepada Mbak Megawati (wapres) untuk memimpin sidang. Gus Dur kemudian tertidur. Tapi, begitu sidang kabinet selesai dan forum dikembalikan kepada presiden untuk ditutup, ternyata resume serta ulasan yang dibuat Gus Dur sangat cocok dengan yang dibicarakan dalam sidang kabinet itu. Padahal, Gus Dur tertidur ketika para menterinya berdiskusi. Ketertiduran Gus Dur tersebut tak terkecuali saat sedang bertemu resmi dengan pimpinan negara lain. Ketika pada 2001 Perdana Menteri India Rajvaje beserta rombongannya diterima resmi oleh rombongan Presiden Gus Dur, lagi-lagi dia tertidur. Padahal, PM India itu sedang berbicara serius persis di seberang meja Gus Dur. Ajudan Gus Dur mengantarkan permen kepada saya sambil berbisik. “Pak, ini berikan kepada presiden. Mohon presiden diajak berbicara agar tak tertidur,” kata ajudan itu. Saya yang memang duduk persis di samping kiri Gus Dur mencolek pahanya sambil ngajak bicara. “Gus, rencana kunjungan ke Mesir…,” Belum selesai saya berbicara, Gus Dur sudah memotong. “Ssst, tak usah laporan dulu, nanti saja. Ini ada tamu penting harus kita dengarkan,” ujar Gus Dur. Saya tertawa. Apalagi, Gus Dur tidur lagi, bukan mendengarkan. Tapi, begitu tiba giliran berbicara, Gus Dur menanggapi satu per satu dengan tepat masalah-masalah yang dikemukakan PM India dan para menterinya tersebut, bahkan memberikan arahan tertentu untuk menteri-menterinya tentang segi-segi penting yang harus ditindaklanjuti dari pertemuan itu
 
Kisah lain diangkat oleh Effendy Ghazali, Pakar Komunikasi Politik UI. Katanya, dalam sebuah diskusi Gus Dur tertidur pulas, saat itu banyak orang yang bertanya pada Gus Dur. “Saya sampai mencatat lengkap semua pertanyaan mereka,” kata Effendy yang takut Gus Dur tidak tahu ada yang tanya. Namun dugaan Effendy meleset, saat bangun Gus Dur tahu semua pertanyaan dan siapa yang bertanya. Mulai saat itu Effendy percaya tentang cerita misteri tidur Gus Dur.
 
Selain itu Gus Dur tidak neko-neko dalam tidur. Tidak harus di kasur empuk nan mewah, dimana ada kesempatan dan keinginan untuk tidur maka beliau akan tertidur. Bagi yang pernah berkunjung kerumah Gus  Dur semasa hidupnya, pasti akan menemukan sosok yang tertidur di kasur tipis di ruang tamu, tidak lain itulah Gus Dur, mantan Presiden yang tetap seperti sebelum jadi presiden, yakni sosok yang sederhana. Pernah diceritakan ajudan beliau (karena Gus Dur mantan presiden belia tetap mendapat pengawalan dari paspampres),sewaktu berpergian dengan kereta,Gus dur ketika ingin tidur,beliau menyuruh ajudannya menggelar koran dibawah,”kotor pak” begitu ucapan ajudannya,”Biar saja,ini kan sudah biasa dilakukan penumpang (bayangkan seorang mantan presiden tidur beralaskan koran) ucapan Gus dur merujuk seperti kebanyakan penumpang yg tidak kebagian tempat duduk,ketika ingin  tidur menggelar Koran seadanya.Gus Durpun dengan pulasnya tertidur,sekali lagi karena kesederhanaan.
 
Bagaimanapun juga, tidur ala Gus Dur memang masih tetap menjadi misteri. Bagaimana matanya tertutup sedang hati dan fikirannya tetap fokus untuk menyikapi sebuah permasalahan adalah hal yang luar biasa yang tidak sembarang orang dapat memilikinya. Semoga jasa baik beliau selama membangun ummat di negeri ini dapat menjadi titian menuju ridlo Allah ta'ala. Amin.
 
Source :
http://sosok.kompasiana.com/2011/11/26/catatan-kecil-gus-dur-kesederhanaan-416289.html
http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/03/cerita-yang-tercecer-sepeninggal-gus-dur/

Leave a comment