Hikmah Diharamkannya Riba 4


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

Dalam ilmu fiqih juga mejelaskan tentang pengertian Riba secara terperinci atau mendalam melalui panduan Al-Quran. Sabda nabi bahkan pendapat ulama agar bisa tercapainya suatu kesepakatan dan keputusan yang benar dan lurus sejalan dengan ajaran Al-Quran dan syariat islam. Terkadang kita sebagai manusia menilai bahwa hukum fiqih itu semuanya mudah termasuk didalamnya Riba kita tidak tau bahwa hal-hal yang sekecil inilah yang selalu membuat kita menjadi tersesat apabila kita tidak mengetahuinya secara terperinci, maka terjadilah penyimpangan–penyimpangan yang bertentangan dengan ajaran islam.

 

1.2 Rumusan masalah

  1.  Bagaimanakah gambaran tentang riba?

 

1.3 Tujuan

  1. Untuk memahami gambaran tentang riba

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Definisi riba

   Riba dalam arti bahasa berasal dari kata: “raba” yng sinonimnya: nama wa zada, artinya tumbuh dan tabah. Firman Allah S.W.T Dalam surat Al-hajj ayat 5 yang  Artinya:

Dan kamu lihat bumi ini kering kemudian apabila telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

       Dalam istilah syara’, pengertian riba adalah sebagai berikut.

  1. Abdurrahman Al-jaziri mengmukakan:

اما في اصطلاح الفقهاء فهو زيدة احد البد لين المثجا نسين من غير انيقا بل هذه الزيادةعوض

          Adapun dalam istilah fuqaha, riba adalah bertambahnya salah satu dari dua penukaran yang sejenis tanpa adanya imbalan untuk tambahan ini

  1. Syafiiyah definisi riba sebagai berikut,

وشرعا:عقد علي عوضمخصوص غير معلوم التما ثل في معيارالش ع حالةالعقد اومع تا خيرفي البد لين اواحد هما

          Menurut syara’riba adalah akad atas iwadh’(penukaran) tertentu yang tidak diketahui persamaannya dalam ukuran syara’ pada waktu akad atau dengan mengakhirkan (menunda) kedua penukaran tersebut atau salah satunya. 

 

Pendapat di atas dapat di pahami bahwa riba adalah suatu kelebihan yang terjadi dalam tukar-menukar barang yang sejenis atau jual beli barter tanpa disertai dengan imbalan, dan kelebihan tersebut disyaratkan dalam perjanjian . Dengan itu, apabila kelebihan tersebut tidak di syaratkan dalam perjanjian maka tidak termasuk riba. [1]

 

  1.    Dasar Hukum Larangan Riba

           Riba hukumnya haram, berdasarkan Alquran , sunnah, dan ijma. Dalam alquran di sebutkan antara lain:

  1. Surah Al-baqarah ayat 275

….. وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya; padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.[2]

 

  1. Surah Ali-imran ayat 130

يايهاالذينءا منوالاتاكلواالربوااضعفامضعفة وتقواالله لعلكم تفلحو ن

Artinya:hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakawalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

     Dalam ayat tersebut Allah dengan tegas melarang perbuatan riba. Dari  dalil As-sunnah  terdapat hadist yang melarang perbuatan riba.

  1. Hadist Abu hurairah

عن ابي هريرة عن نبي صلي الله عليه وسام قل: اجتنبو اسبع الموبقات قلوا :يا رسول الله وما هن؟ قا: اشرئ بالله, والشحر, وقتل النفس التي حرم الله الابلحق, واكل الربا, واكل مال اليتيم, والتولي يوم التولي يوم الزحف وقذف المحصنات الغافلات المؤمنلت

     Dari abu hurairah dari nabi SAW bersabda: jauhilah tujuh perbuatan  yang merusak. Para sahabat bertanya:”ya rasullah, apakah tujuh perbuatan tersebut?”Nabi menjawab: “menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang di haramkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada pertempuran (desersi), dan menuduh wanita yang mushan (bersih) lengah (dari perbuatan maksiat), dan mukmin (HR.Al-Bukhari)

Dari hadist tersebut dinyatakan bahwa riba di larang oleh agama islam. Disamping  Al-qur’an dan As-sunnah, umat islam sejak zaman dahulu sampai sekarang sepakat tentang diharamkannya riba. Hanya saja orang-orang yahudi tidak melarang pemungutan riba dari selain bangsa yahudi. [3]

 

 

  1. Hikmah Dilarangnya Riba

Sebab dilarangnya riba ialah dikarenakan riba menimbulkan kemudaratan yang besar bagi umat manusia.kemudaratan tersebut antara lain:

  1. Riba menyebabkan permusuhan antara individu yang satu dengan yang lain, dan menghilangkan jiwa tolong menolong diantara mereka.
  2. Riba mendorong terbentuknya kelas elite, yang tanpa kerja keras mereka mendapat harta, seperti benalu yang setiap saat mengisap orang lain.
  3. Riba merupakan wasilah atau perantara terjadinya penjajah di bidang  ekonomi, dimana orang-orang kaya mengisap dan menindas orang-orang miskin.
  4. Islam mendorong umatnya agar mau memberikan pinjaman kepada orang lain yang membutuhkan dengan modal “qardhul hasan”atau pinjaman tanpa bunga. [4]

 

  1. Pembagian Atau Macam-Macam Riba

Menurut pendapat sebagian  ulama, riba itu ada empat macam:

  1. Riba fadli (menukarkan dua barang yang sejenis dengan tidak sama)
  2. Riba qardi (utang dengan dengan syarat ada keuntungan bagi yang memberi utang)
  3. Riba yad (berpisah dari empat akad sebelum timbang terima)
  4. Riba nasa (disyarakat salah satu dari kedua barang yang dipertukarkan ditangguhkan penyerahanya)

sebagian  ulama membagi riba itu tiga macam yakni, riba fadli, riba yad dan riba nasa’riba qardi termasuk kedalam riba nasa’. Barang-barang yang berlaku riba,emas, perak, dan makanan yang mengenyangkan atau berguna untuk yang mengenyangkan.

  1. Riba fadli

Hanafiah memberikan definisi riba fadhal yakni:

ربا الفضل بانه زيادةعين مالفي عقدبيع علي المعيارالشرعي (وهوالكيل او الوزن) عنداتحاد الجنس

          riba fadhli adalah tambahan benda dalam akad jual beli (tukar menukar) yang menggunakan ukuran syara’ (yaitu literan atau timbangan) yang jenis barangnya sama.

          Riba fadli yaitu tambahan yang di syaratkan dalam tukar menukar barang yang sejenis, tanpa adanya imbalan untuk tambahan. Riba fadhal hukumnya [5]haram berdasarkan sunnah rasullah  saw, diantara sunnah  tersebut yakni:

  • Hadits  Abu barkah:

عن ابي بكرةرضي الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: لاتبعواالذ هب الاسوء والفضة بالفضة الاسواء بسوء,وبيعواالذهب بالفضة با تادهب كيف شعتم.

          Dari abu bakar R.a ia berkata: Rasullah saw, bersabda:janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sam timbangannya, dan perak dengan  perak kecuali sama timbangannya. Dan jualah emas dengan perak dan perak dengan emas sesuai dengan kehendakmu. (HR.Al-bukhari)

          Bahwa dalam jual beli atau barter atau tukar menukar yang sejenis ukurannya harus sama, baik takarannya maupun timbangannya. Apabila terdapat kelebihan dalam perjanjian maka termasuk riba. Enam jenis barang yang termasuk ribawi yaitu:

  • Emas
  • Riba
  • Gandum
  • Jagung
  • Kurma, dan
  • Garam[6]

     Apabila dilihat illat dari keenam jenis barang mak yang termasuk kelompok ribawi ada dua macam yaitu

  1. Barang-barang yang bias ditakar (makilat)
  2. Barang-barang yang biasa ditimbang (mauzunat)

     Semua jenis barang yang biasa di timbang dan ditakar termasuk dalam kelompok ribawi, apapun jenisnya. Barang seperti beras, gula, kopi, terigu dan sebagainya, termasuk dalam penukarannya harus sama, tidak boleh ada kelebihan dan pennyerahannya harus tunai, tidak boleh utang. Dilihat dari segi jenisnya barang yang temasuk dalam kelompok ribawi , ada dua macam:

  1.  Kelompok mata uang (nuqud), yaitu emas dan perak.
  2.  Kelompok makanan, yaitu gandum, jagung kurma, dan garam. [7]

     Dapat dipahami bahwa illat diharamkannya riba dalam emas dan perak  adalah keduannya merupakan harga atau alat pembayaran. Illat larangannya adalah karena barang-barang tersebut merupakan makanan pokok yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Apabila illat tersebut terdapat pada mata uang yang lain, selain emas dan perak maka hukumnya sama dengan emas dan perak. Demikian pula apabila illat tersebut terdapat dalam jenis makanan selain gandum, jagung, kurma dan garam hukumnya sama dengan makanan-makanan tersebut, penukarannya yakni harus sama tidak boleh ada kelebihan.

  1. Riba Al-Yad

          Riba al-yad dikenal dikalangan syafi’iyah. Hanafiah memasukan riba yad ini kedalam kelompok riba nasi’ah, dengan istilah “fadlhul ‘ain ‘alad dain”(kelebihan barang atas utang).

Pengertian riba al-yad oleh Wahbah Zuhaili sebagai berikut:

وربا ا ليد وهو البيع مع تاخير قبض العوضين اوقبض احدهمامن غيرذكراجل اي انيتم بيع مختليف الجنس كلقمح بالشعير من غير تقابض في مجلس القد

Riba al-yad adalah jual beli atau tukar menukar dengan caramengakhirkan penerimaan kedu barang yang ditukarkan atau salah satunya tanpa menyebutkan masanya. Yakni terjadinya jual beli atau tukar menukar dua barangyang berbeda jenis, seperti gandum dengan jagung (sya’ir), tanpa penyerahan di majelis akad.

Bahwa dalam riba yad  jual beli atau penukaran terjadi tanpa kelebihan, tetapi salah satu pihak meninggalkan majelis akad sebelum terjadi pennyerahan barang atau harga. [8]

  1. Riba Nasi’ah

Riba nasi’ah di definisikan oleh Abdurrahman Al-Jaziri sebagai berikut

ربا النسيئة وهو انتكونالزيادةالمذكورة في مقالبة تاخير الد فع                                           

Riba nasi’ah adalah adanya tambahan yang disebutkan (dalam penukaran barang yang sejenis)sebagai imbalan diakhirkannya pennyerahan

Dapat dipahami bahwa riba nasi’ah adalah tambahan yang disebutkan dalam perjanjian dalam penukaran barang (jual beli barter atau muqaydhah) sebagai imbalan atas ditundanya pembayaran. Hanafiah juga memasukan dalam kelompok riba nasi’ah suatu bentuk jual beli barter (penukaran) diakhirkan. Misalnya menjual (menukar) satu kilogram kurma yang diserahkan secara langsung pada waktu akad dengan satu kilogram kurma juga, tetapi penyerahannya tempo. Ini termasuk riba nasi’ah.

Riba nasi’ah hukumnya jelas haram berdasarkan Alqur’an dan hadist-hadist. Riba nasi’ah juga dikenal dengan istilah riba jahiliyah,karena berasal dari kebiasaan orang-orang Arab jahiliyah. Kebiasaan tersebut  apabila mereka memberikan utang kepada orang lain, lalu ketika utang itu telah jatuh tempo. Apabila masa utang diperpanjang maka modal dan tambahanannya diribakan lagi, sehingga lama kelamaan utang tersebut akan beranak, dan bercicit dan habislah seluruh hartanya.

       Illat dari riba nasi’ah ini adalah salah satu sifat dari illat riba fadhal yaitu takaran atau timbangan, atau jenis yang sama. Dalam barter barang yang tidak sejenis, seperti membeli satu kilogram terigu dengan dua kilogram beras yang akan dibayarkan dua bulan yang akan datang, kelebihan satu barang sejenis atau tidak sejenis, yang dibarengi dalam penundaan pembayaran pada waktu tertentu termasuk riba nasi’ah.

Pada masa sekarang riba nasi’ah ini banyak di lakukan di lembaga-lembaga keuangan atau pebankan, yaitundengan model pinjaman uang yang pengambilannya diangsur dengan bunga bulanan atau tahunan seperti 7 %, 5%, atau 1% perbulan. Pada masa sekarang praktik riba nasi’ah yang banyak di temukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mengambil keuntungan atau kelebihan atas pinjaman uang yang pengambilannya di tunda. [9]

 

  1.  Sebab – Sebab Diharamkannya Riba

  Allah SWT melarang riba antara lain karena perbuatan tersebut dapat merusak dan membahayakan diri sendiri dan merugikan serta menyengsarakan orang lain

 

a. Merusak Dan Membayakan Diri Sendiri

  Orang yang melakukan riba akan selalu menghitung – hitung yang banyak yang akan diperoleh dari orang yang meminjam uang kepadanya. Pikiran dan angan–angan yang demikian itu akan mengakibatkan dirinya selalu was–was dan khawatir uang yang telah dipinjamkan itu tidak dapat kembali tepat pada waktunya dengan bunga yang besar.

       Jika orang yang melakukan riba itu memperoleh keuntungan yang berlipat ganda, hasilnya itu tidak akan memberi manfaat pada dirinya karena hartanya itu tidak akan memberi manfaat pada dirinya karena hartanya itu tidak mendapat berkah dari Allah SWT.

  1. Merugikan Dan Menyengsarakan Orang Lain Orang yang meminjam uang   kepada orang lain pada umumnya karena sedang susah atau terdesak.

       Karena tidak ada jalan lain, meskipun dengan persyaratan bunga yang besar, ia tetap bersedia menerima pinjaman tersebut, walau dirasa sangat berat. Orang yang meminjam ada kalanya bisa mengembalikan pinjaman tepat pada waktunya, tetapi adakalanya tidak dapat mengembalikan pinjaman tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Karena beratnya bunga pinjaman, si peminjam susah untuk mengembalikan utang tersebut. Hal ini akan menambah kesulitan dan kesengsaraan bagi kehidupannya. [10]

 

 

                              

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1.  Kesimpulan

 Riba adalah suatu kelebihan yang terjadi dalam tukar menukar barang sejenisnya atau jual beli barter tanpa disertai dengan imbalan. Dan kelebihan disyar/atkan dalam perjanjian. Adapun macam-macam  riba atau pembagiannya yakni: riba fadhli, riba ya,  dan  juga riba nasi’ah.

Sebab dilarangnya riba ialah dikarenakan riba menimbulkan kemudaratan yang besar bagi umat manusia. Allah SWT melarang riba antara lain karena perbuatan tersebut dapat merusak dan membahayakan diri sendiri dan merugikan serta menyengsarakan orang lain yakni:

Merusak Dan Membayakan Diri Sendiri, Merugikan Dan Menyengsarakan Orang Lain Orang yang meminjam uang  kepada orang lain pada umumnya karena sedang susah atau terdesak.

  1. Saran

Kami sebagai penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Maka dari kami sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran  khusunya dosen pembimbing dengan harapan pembuatan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.

 

 


[1] Ahmad Wardi Muslich, fiqih mu’amalat, (jakarta: Amzah 2010) 257-259

[2] Ahmad, fiqih mu’amalat, 260

[3] Ahmad, fiqih mu’amalat, 261-262

[4] Sulaiman Rasyid, fiqih islam, (Bandung: Sinar baru Algesindo 2007) 291

[5] Ahmad, fiqih mu’amalat, 262

[6] Ahmad, fiqih mu’amalat, 263

[7] Ahmad, fiqih mu’amalat, 264-266

[8] Ahmad, fiqih mu’amalat, 267

[9] Ahmad, fiqih mu’amalat 268-271

[10] Sabtu,19 mei 2012 http:// blogspot.com/2012/03/fiqih-riba-dan permasalahannya.html

Leave a comment