Resensi Buku : Bisnis dan Kewirausahaan 5


Judul Buku      : Bisnis dan Kewirausahaan

Penulis             : Dr. Muhammad Syafii Antonio M. Ec

Penerbit           : TAZKIA PUBLISHING

Ttahun terbit   : 2010 / 2011

Cetakan           : ke 1 dan ke 2

Halaman          : 40-47

 

Dalam buku yang berjudul Busness is Ibadah And Jihad yang diulis oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio M.Ec terdapat beberapa bab yakni:

 

BAB I              : Entrepreneurship Environment: Mhammad Saw. Di antara lingkungan       bisnis dan budaya perdagangan Arab.

BAB II             : entrepreneurship Spirit: Membangun jiwa usaha sejak dini hingga   dewasa.

BAB III           : Rich is Good: Sikap Rasulullah saw terhadap harta, kekayaan, dan kemiskinn.

BAB IV           : Business is Ibadah and Jihad.

BAB V             : The Speed of Trust (AL-Amin)

BAB VI           : The tradition of Quality (itqan)

BAB VII          : Prophetic Business wisdom (siddiq, amanah, fatanah, dan tabligh)

BAB VIII        :Muhammad Saw Berbisnis dengan nilai-nilai mulia dan karakter terpuji.

BAB IX           : Halal oriented business dan transaction

BAB X             : Perang Rasulullah Saw terhadap korupsi

BAB XI           : Transaksi yang di Perkenankan Rasulullah Saw.

BAB XII          : Transaksi yang di Larang Rasulullah Saw.

BAB XIII        : Rasulullah Saw teldan kaya dalam Kesederhanaan.

BAB XIV        : Konglomerat Sahabat: Kaya lagi Taqwa, Zuhud dalam Berlimpah.

BAB XV          : Kebijakan Politik Ekonomi Rasulullah Saw.

BAB XIX        : Dinar: Mata Uang Rasulullah Saw dan Mata Uang Masa Depan.

BAB XX          : Baitul Mal Rasulullah Saw dan Setelahnya.

BAB XXI        : Pusat-pusat Perdagangan Arab Pra-Islam dan Masa awal Islam.

BAB XXII       : Kombinasi Perdagangan Arab Pra-Islam dan Masa Awal Islam.

 

I.1  BUSINESS IS IBADAH AND JIHAD

Dalam bab IV ini dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk mengoktimalkan jasmani dan rohaninya demi meningkan kualitas diri, termasuk dalam bekerja atau berbisnis. jadi sangat pntingnya mendapatkan rezeki secara halal, dikarenakan seorang muslim tidak boleh bermalas-malasan ia harus berusaha, beriktiar sekuat tenaga (jihad) karena yang halal itu ibadah. Beralasan sibuk beribadah dan bertawakal kepada Allah Swt tidak pantas dijadikan suatu alasan untuk berikhtiar, dan tidak pantas pula setiap muslim mempunyai kemampuan untuk berusaha mencari karunia Allah tetapi mereka hanya mengharap sedekah dan belas kasihan dari oarang lain. Mencari rezeki yang halal adalah suatu perintah dari Allah dan Rasullah yang harus di sikapi dengan bersungguh-sungguh dan serius untuk mengamalkanya. Sama halnya dengan kesungguhan untuk mengamalkan setiap rukun dalam islam. Landasnnya adalah bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berbisnis, adalah suatu keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Aktivitas bisnis yang tidak di dasari keimanan adalah kedzaliman.[1]

Dalam hadits qudsi, Allah swt berfirman, “sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan mengharamkannya di antara kalian. Maka janganlah saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-ku, kalian semua sesat kecuali orang yang aku beri petunjuk.  

Berikhtiar memperoleh karunia dari Allah secara baik dan halal jauh lebih mulia dari pada kita meminta-minta, sekalipun pekerjaan itu rendah dalam pandangan manusia. Hadist menerangkan, “seseorang yang meraih tali, lalu datang membawa seikat kayu bakar di pundaknya kemudian menjualnya sehingga Allah menutupi wajahnya (memuliakannya) itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang-orang, di mana mereka itu adakalanyaa memberi dan adakalanya tidak memberi.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

وقل اعملوا  فسير ي الله عملكم ورسوله والمؤ منون وسثردون الى عالم الغيب والشهادة فينبئكم يما كنثم ثعملو ن

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kalian, maka Allah Dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan di kembalikan kepda (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang yata, dan di beritakanya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan’.” (Q.S. At-taubah (9):105).

Para Nabi juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Muhammad Saw, selain pernah menjadi pengembala, pernah juga menjadi pedagang sukses. Saib bin Abdullah, adalah salah satu seorang mitra dagangnya beliau. Pernah berkata  kepada nabi, Engkau (Muhammad) adalah sbaik-baik mitra (business partner) tidak membedakan dan tidak juga berdebat.[2]

 

I.2 NILAI IBADAH DAN JIHAD DALAM BERBISNIS

       Ibadah merupakan pilar bagi eksistensi Agama, sebagaimana Islam menganggap bahwa muammalah begitu erat dengan agama. Adanya ungkapan “agama adalah Muamalah” karena muamalah adalah termasuk bisnis dan tolok ukur yang menunjukan hakikat keimanan kepada seseorang. Dalam islam, bekerja atau berbisnis bukan sekedar kegiatan ekonomi, melainkan cermin keimanan, menifestasi tauhid, dan bukti ketinggian akhlak ketakwaan kepada Allah SWT. Bisnis bernilai ibadah, apabila bisnis itu di niatkan untuk mempeoleh keridhaan Allah. Sesuai sabda Rasulullah Saw. Setiap amal perbuatan harus diiringi dengan niat, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang sudah diniatkan”[3]

Berbisnis dapat disejajrkan dengan jihad, jika dalam pelaksanaannya dilakukan secara istiqamah dan sesuai dengan syariat islam. Kemampuan untuk mengendalikan diri adalah unsur dasar yang harus dimiliki seorang pebisnis agar bisnis yang dijalankan tidak berlawanan dengan larangan Allah SWT sehingga dapat membedakan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat dan bisa berjalan secara sinergis. Ketika sukses dengan meraih banyak keuntungan maka pebisnis islam akan bersyukur dengan cara membelanjakan hartanya dijalan Allah SWT. Dan ketika dalam kesusahan mereka bersabar dan tidak berputus asa.

Kondisi bisnis dimasa sekarang dan masa Rasulullah SAW jauh berbeda pada saat ini telah banyak orang yang mencari penghidupan ekonomi dengan kemaksiatan Kolusi, korupsi dan tipu-menipu merajalela. Tetapi pada saat ini banyak masyarakat yang tidak sadar dengan hal tersebut sebab kemaksiatan dalam bisnis telah dikemas dengan rapi oleh pelaku bisnis.[4]

I.3 MEMAHAMI TUJUAN BERBISNIS ATAU BEKERJA

 Memahami tujuan bisnis atau pekerjaan dalam tinjauan ibadah dan jihad,berkenan dengan suatu tujuan-tujuan yang dicapai. Menurut Maqsood (2003) menguraikan perihal tujuan yang dimaksud:

  1. Berbisnis (bekerja) sebagai bagian dari kewajiban yang diperintahkan Allah SWT. Seseorang yang menghabiskan seluruh waktunya melaksanakan ritualitas ibadah dan menyandarkan kebutuhan sehari-hari kepada kemurahan orang lain bukan termasuk seorang muslim yang baik begitu pula sebaliknya jika orang menghabiskan waktunya untuk bekerja saja.
  2. Bekerja sangat menetukan martabat manusia. Rasulullah SAW. Menekankan pentingnya martabat, nilai pribadi, dan harga diri. Martabat seseorang dapat diraih dengan cara bekerja dengan halal dan mampu memenuhi kebutuhannya maupun orang lain.
  3. Bisinis yang halal merupakan sumber penghasilan yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara bekerja untuk mendapatkan penghasilan secara halal. Apabila kita mendapat penghasilan dengan cara yang buruk maka hal tersebut juga akan memberikan keburukan bagi kehidupan kita dan kita akan menempati bumi bukan sebagai pemakmur dan penjaga yang baik tetapi sebagai perusak misalnya korupsi, over fishing, penggundulan hutan, dll.
  4. Bekerja atau berbisnis merupakan sarana untuk melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat. Islam memandang manusia sebagai susunan ekonomi dan sosial yang esensial. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk bekerja secara jujur, berkualitas, dan mandiri karena hal tersebut akan memberikan keuntungan bagi kita dan masyarakat.
  5. Bekerja tidak hanya ikhtiar demi memajukan standar ekonomi dan sosial seseorang tetapi juga bertujuan untuk memajukan seluruh masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan kerja sama dan hasil usaha yang telah diperoleh dikeluarkan haknya kepada yang berhak dan memberdayakan potensi yang mereka miliki agar perekonomian mereka juga membaik.

Islam tidak hanya mengenal konsep kerja dan pekerjaan yang jelas, islam juga menunjukan etika kerja yang gamblang dan praktis. Agar mendapatkan tujuan yang baik, keimanan serta ketaatan seorang muslim terhadap Allah Swt dipancarkan dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Setiap pekerja muslim harus memiliki etika atau pun moral yang tinggi sehingga dapat direfleksikan dalam  berbagai cara, seperti berikut ini:

  1. Seorang pekerja muslim harus selalu termotivasi dengan keinginannya agar mendapatkan keridhaan Allah, ini sangatlah penting agar usahanya diterima sebagai bagian dari kesalehan terhadap Allah Swt. karena niat seperti ini dapat mencegah tingkah laku yang bermoral. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Setiap amal perbuatan harus di iringi dengan niat dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang sudah di niatkan.”
  2. Berbisnis atau bekerja harus dalam ruang lingkup yang diperbolehkan
  3. Bisnis harus dalam kolidorprinsip islam dan ketentuan syari’ah islam.
  4. Pekerjaan tidak boleh melalaikan seorang muslim dari menjalankan kewajibannya.
  5. Seorang muslim harus bertanggung jawab dan peduli dengan semua orang yang kerja sama dengannya. Jika dia memperkerjakan orang lain untuk bekerja padanya, maka dia harus membayarnya dengan upah yang layak, dan memperhatika kesejahteraan mereka. Jika ia bekerja  untuk orang lain maka dia harus bekerja dengan penuh bertanggung jawab.
  6. Dan seorang muslim dianjurka untuk bekerja sama secara profesional sehingga menghasilkan pelayanan atau produk yang berkualitas tinggi.[5]
 


[1] M.Syafii Antonio, bisnis dan kewirausahaan,(jakarta: publishing, 2011), 40

[2] M.Syafii Antonio, Bisnis dan Kewirausahaan,42-43

[3] M. Syafii Antonio, Bisnis dan Kewirausahaan,44

[4] M. Syafii Antonio, Bisnis dan Kewirausahaan, 45

[5] M. Syafii Antonio, Bisnis dan Kewirausahaan,46-47

Leave a comment