Pengertian & Karakteristik Bank Konvensional & Syariah 9


a. Definisi

Pengertian bank menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004) adalah lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memilki dana dan pihak-pihak yang memerlukan dana, serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.

Pengertian bank menurut UU no. 7 tahun 1992 tentang perbankan adalah: “bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, sedangkan bank umum adalah bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran”. Siamat (2005) mengemukakan bahwa  perbankan syariah pada dasarnya adalah sistem perbankan yang dalam usahanya didasarkan pada prinsip-prinsip hukum atau syariah Islam dengan mengacu kepada al-Qur’an dan al-Hadits,  beroperasi dengan mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya menyangkut tata cara bermuamalat misalnya dengan menjauhi praktik-praktik yang mengandung unsur-unsur riba dan melakukan kegiatan investasi atas dasar bagi hasil pembiayaan.

b. Karakteristik

1. Karakteristik bank konvensional

Anonimous  (2001) menjelaskan bahwa karakteristik bank konvensional meliputi beberapa hal:

a. Merupakan industri yang kegiatan usahanya mengandalkan kepercayaan masyarakat sehingga tingkat kesehatan bank perlu dipelihara.

  1. Pengelola bank dalam usahanya dituntut untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara pemeliharaan likuiditas yang cukup dan pencapaian rentabilitas yang wajar serta pemenuhan kebutuhan modal yang memadai sesuai dengan jenis penanamannya.
  2. Bank sebagai lembaga kepercayaan masyarakat dan bagian dari sistem moneter mempunyai kedudukan yang strategis sebagai penunjang pembangunan ekonomi.

2. Karakteristik bank syariah

Ikatan Akuntan Indonesia (2004) menyebutkan bahwa karakteristik bank syariah adalah:

  1. Berdasarkan prinsip syariah
  2. Implementasi prinsip ekonomi Islam dengan ciri:
    1. Pelarangan riba dalam berbagai bentuknya
    2. Tidak mengenal konsep time-value of money
    3. Uang sebagai alat tukar bukan komoditi yang diperdagangkan
  1. Beroperasi atas dasar bagi hasil
  2. Kegiatan usaha untuk memperoleh imbalan atas jasa
  3. Tidak menggunakan “bunga” sebagai alat untuk memperoleh pendapatan
  4. Azas utama : kemitraan, keadilan, transparansi dan universal
  5. Tidak membedakan secara tegas sektor moneter dan sektor riil, dapat melakukan transaksi-transaksi sektor riil.

Perbedaan antara bunga dan bagi hasil

Bagi seorang muslim, sumber nilai dan sumber hukum adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi. Konsekuensinya, apapun nilai yang dibutuhkan dalam analisis dan perilaku ekonomi harus bersandar pada kedua sumber nilai tersebut. Ini tercermin dari pandangan Islam mengenai bunga. Uniknya, di kalangan ulama dan cendekiawan Islam masih terjadi polemik apakah bunga sama dengan riba.

Riba menurut bahasa arab berarti tambahan, peningkatan, ekspansi atau pertumbuhan. Menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan (premium) sebagai syarat yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman selain pinjaman pokok. Dalam hal ini, riba memiliki arti yang sama dengan bunga sebagaimana konsensus para fuqaha (Kuncoro 2002:588).

Antonio (2004) menjelaskan bahwa menurut Al-Quran, pandangan Islam mengenai riba dapat dilihat pada kutipan 4 surat dengan beberapa ayat, yang diturunkan dalam empat tahap berikut ini: Surat Ar-Rum ayat 39 menyatakan ”Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”. Tahap pertama ini menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati taqarrub kepada Allah.

Masih menurut Antonio (2004), ia menyatakan bahwa dalam tahap kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk. Allah SWT mengancam akan memberi balasan yang keras kepada orang yahudi yang memakan riba, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 160-161: “Maka disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”.

 Tahap ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Para ahli tafsir berpendapat bahwa pengambilan bunga dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktikkan pada masa tersebut. Allah berfirman dalam surat Ali imran ayat 130: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. Ayat ini turun pada tahun ke-3 Hijriah. Secara umum, ayat ini harus dipahami bahwa kriteria berlipat ganda bukanlah merupakan syarat dari terjadinya riba (jikalau bunga berlipat ganda maka riba, tetapi jikalau kecil bukan riba), tetapi ini merupakan sifat umum dari praktik pembungaan uang pada saat itu (Antonio,2004).

Antonio (2004) mengemukakan bahwa pada tahap terakhir, Allah SWT dengan jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Ini adalah ayat terakhir yang diturunkan menyangkut riba yaitu Surat Al-Baqarah 278-279:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.

 

            Sekali lagi, Islam mendorong praktik bagi hasil serta mengharamkan riba.  Keduanya sama-sama memberi keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya mempunyai perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan itu dapat dijelaskan dalam tabel berikut:

TABEL 1

PERBEDAAN ANTARA BUNGA DAN BAGI HASIL

BUNGA

BAGI HASIL

  1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung
  1. Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi
  1. Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.
  1. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh
  1. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.
  1. Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak
  1. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang “booming
  1. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.
  1. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama, termasuk Islam.
  1. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

Sumber: M. Syafi’i Antonio (2004)

 

2.2.2 Perbedaan bank konvensional dan bank bagi hasil

            Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan, dan sebagainya. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan-perbedaan itu dapat disimpulkan dalam tabel di bawah ini:

TABEL II

PERBEDAAN BANK SYARIAH DAN BANK KONVENSIONAL

 

 

Permasalahan

Bank syariah

Bank konvensional

Risiko akad

  1. akad jual-beli
    • al murabahah
  2. akad bagi hasil
    • al musyarakah
    • al mudharabah
  3. akad sewa
    • ijaroh mutlaq
    • ijaroh muntahiyah bitamlik

Sesuai dengan akadnya sehingga angsuran akan selalu tetap, sesuai dengan kesepakatan di muka

  1. akadnya adalah kredit / pinjam uang sehingga angsuran tidak bisa dijamin akan tetap

Landasan operasional

  • tidak bebas nilai (berdasarkan prinsip syariah islam)
  • uang sebagai alat tukar bukan komoditi
  • bunga dalam berbagai bentuknya dilarang
  • menggunakan prinsip bagi hasil dan keuntungan atas transaksi riil
  • bebas nilai (berdasarkan prinsip materialistis)
  • uang sebagai komoditi yang dipertahankan
  • bunga sebagai instrument imbalan teradap pemilik uang yang ditetapkan dimuka

Fungsi dan peran

  • agen investasi/manajer investasi
  • investor
  • penyediaan jasa lalu lintas pembayaran (tidak bertentangan syariah)
  • pengelola dana kebajikan, ZIS
  • hubungan dengan nasabah adalah hubungan kemitraan
  • penghimpun dana masyarakat dan meminjamkan kembali kepada masyarakat dalam kredit dengan imbalan bunga
  • penyedia jasa/lalu lintas pembayaran
  • hubungan dengan nasabah adalah hubungan debitur kreditur

Risiko usaha

  • dihadapi bersama antara bank dengan nasabah dengan prinsip keadilan dan kejujuran
  • tidak mengenal kemungkinan terjadinya selisih negatif (negative spread) karena sistem yang digunakan
  • risiko bank tidak terkait langsung dengan debitur, dan sebaliknya
  • kemungkinan terjadi selisih negatif antara pendapatan dan beban bunga

Sistem pengawasan

Adanya Dewan Pengawas Syariah untuk memastikan operasional bank tidak menyimpang dari syariah disamping tuntutan moralitas pengelola bank dan nasabah sesuai dengan akhlakul karimah

Aspek moralitas seringkali terlanggar karena tidak adanya nilai-nilai religius yang mendasari operasional

 

The Sharia Banking Training Center Yogyakarta

Leave a comment