Taufiq Kiemas dan Muhammadiyah 2


catatan ringan, source dari sini.

 

Satu saat saya dan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Mas Ahmad Rif’an masykur, SH. MH. Sekarang menjadi pimpinan Pengadilan Agama di surabaya diundang Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Dr. Muhadjir Efendi, M. Ap., ke kantornya untuk membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan Muhammadiyah ke depan. Pembicaraan kita memang tidak diprogram untuk membicarakan hal tertentu, tetapi sekedar kangen-kangenn karena sudah lama nggak bertemu, namun demikian pembicaraan kami lalu menyentuh banyak hal baik itu menyangkut Kebijakan PP Muhammadiyah, Kebijakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah yang kadang-kadang tidak pernah mengajak ngomong Pimpinan Daerah Muhammadiyah lalu jika ada peraturan dari pusat atau wilayah diberlakukan saja dan akhirnya berbenturan dengan kepentingan muhammadiyah di Daerah. Sehingga waktu itu rektor Universitas Muhammadiyah Malang meminta PDM kota Malang perlu menginventarisir segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kepentingan Muhammadiyah di daerah agar di sampaikan ke pada wilayah atau Pimpinan Pusat agar bisa dibicarakan di tingkat wilayah dan pusat sehingga ke depan tidak lagi ada aturan yang berbenturan dengan kepentingan daerah dan bisa dibangun hubungan yang lebih proporsional, profesional dan lebih bersifat fungsional.

Pembicaraan kita selanjutnya malah menyentuh persoalan politik.
Mas Hadjir selanjutnya berceritra, ketika Megawati Soekarno Putri terpilih menjadi Presiden untuk menggantikan Abdurahman Wahid menjadi Presiden melalui sidang Istimewa, maka pada saat itu Bang Taufiq Kemas menghubungi Pak Syafii Ma’arif untuk menyiapkan tenaga ahli dari Muhammadiyah untuk dijadikan menteri.
Setelah mendengar permintaan itu Pak Syafii menyupir sendiri mobilnya untuk menghubungi Pak Malik Fadjar mrnyiapkan Curriculum Vittaenya untuk, menjadi syarat menjabat sebagai menteri. Dan Alhamdulilah Pak Malik akhirnya terpilih menjadi menteri Agama, Menteri Pendidikan malah yang terakhir merangkap jabatan menjadi Menko Kesra.

Dari ceritra ini saya menilai Bang Taufiq Kemas ini walaupun sebagai Aktivis GMNI dan PDIP yang berideologi Nasionalis, tapi beliau tidak lupa akar sejarahnya dari keluarga Muhammadiyah yang orang tuanya aktivis partai Masyumi. Orang boleh bergabung dengan partai apa saja, dengan ideologi apa saja, tapi orang itu jangan sampai lupa bahwa ia beragama Islam maka sangat perlu membangun kolaborasi dengan organisasi keagamaan untuk membangun negeri ini.
Dalam kasus lain Pak Syafii Ma’arif selalu berceritra, ketika ada pertemuan di Wilayah Muhamamdiyah Jawa Timur atau di UMM Malang, betapa Bang Taufiq Kemas selalu meminta beliau dan Bang Din Syamsuddin untuk menghijaukan PDIP melalaui Baitul Muslimin. Bang Taufiq menyatakan, Muhammadiyah harus mampu menghijauan ideologi nasionalisme itu dengan semangat agama Islam, agar supaya tidak melenceng ke wilayah ideologi islam abangan atau ideologi islam ke kiri-kirian. Luar biasa Bang Taufiq Kemas ini.

Beliau juga selalu mencoba menjembatani adanya kemacetan komunikasi antara berbagai komponen bangsa, seperti dia melakukan komunikasi dengan SBY ketika Megawati merasa tersinggung ditelikung SBY ketika masih berkuasa. Hal yang sama juga dilakukan nya untuk Muhamadiyah ketika SBY tidak mengakomodasi Muhammadiyah dalam pemerintahannya maka Taufiq Kemas mengajak Muhammadiyah melakukan dakwah bersama melalui PDIP Perjuangan.
Saya melihat, sosok Taufiq Kemas adalah sosok yang bisa diteladani, karena

“KOMITMEN BERBANGSANNYA TIDAK MEREDUKSI KOMITMEN KEBERISLAMNYA, BEGITU PULA SEBALIKNYA KOMITMEN KEBERSILAMNYA TIDAK MEREDUKSI KOMITMEN KEBANGSAANNYA”.

Mudah-mudahan Allah SWT menerima segala amal baiknya dimaafkan segala khilafnya dan ditempatkan ditempat yang terpuji disisi Allah SWT.

Leave a comment