Prekognisi Dalam Kecelakaan Ngerong 6


Turut berduka cita kepada seluruh korban kecelakaan Ngerong, Pasuruan (24/8). Berita tadi pagi (net.tv) menyebutkan bahwa kecelakaan melibatkan lima kendaraan, 4 orang MD dan 3 orang LB.

Di balik peristiwa tersebut, ada kejadian “unik” yang barangkali dapat menjadi perhatian kita bersama. Dua hari sebelum peristiwa ini, tepatnya tanggal 22 Agustus 2015, sebuah akun facebook bernama “Kyto Keyko”  mengirim post pada akun Suara Surabaya (e-100) dengan isi yang sangat mengejutkan, yakni menghimbau masyarakat untuk berhati-hati dikarenakan pada tanggal 24 akan terjadi kecelakaan di desa Ngerong (Rumah Makan Putri Sunda).

Tepat setelah post tersebut, banyak orang yang menjadikannya bahan olokan. Mulai dari umpatan “sableng”, ocehan seolah akun tersebut mendoakan keburukan, dan ungkapan lain yang senada. Faktanya? tepat sesuai tanggal yang ada di postingannya, di lokasi yang tepat pula dengan tulisannya terjadi kecelakaan hebat dikarenakan rem blong dengan korban yang tidak bisa di katakan sedikit.

Mungkin sebagian orang akan langsung berdecak kagum atas kesamaan tersebut. Sebagian orang yang pernah mengumpat langsung mengapresiasi apa yang ia lakukan dan menarik ucapannya yang lalu. Entah apakah ada pembaca yang menghapus umpatannya yang lalu atau tidak. Bagi yang bijak menjadikan peristiwa ini sebagai bentuk keistimewaan dan berpesan kepada sang empunya untuk menggunakanya secara baik di jalan yang benar. Sebagian lain berusaha mempertanyakan kemampuan tersebut, apakah ia indigo, ataukah memiliki death note, bahkan ada yang nyeletuk bahwa bisa jadi kecelakaan tersebut by design. Sebagian lain yang suka mbanyol malah mempertanyakan prediksi untuk esok hari, bahkan ada yang tanya tentang nomor yang mungkin besuk akan tembus (iykwim).

Kebetulan semata? mungkin iya. Pegang death note? menurut saya tidak mungkin karena tidak mungkin malaikat pencabut nyawa meminjamkan buku catatannya. Memiliki kemampuan di luar batas? mungkin iya. Kemampuan ini yang menurut sebagian orang diistilahkan dengan indigo.

Kemampuan mengetahui apa yang akan terjadi, sejatinya bukan lagi hal baru untuk diperbincangkan. Khazanah jawa mengenal kemampuan “weruh sadurunge winarah” atau mengetahui sesuatu sebelum diberitahu/terjadi. Jongko Joyoboyo dan Ramalan Ronggowarsito merupakan perwujudan dari kemampuan tersebut. Dalam teori psikologi modern, dikenal istilah prekognisi, yakni kemampuan untuk mengetahui sesuatu pada masa mendatang yang sebenarnya tidak ada tanda-tanda yang mengarah pada kejafian tersebut. Berbeda dengan prediksi, dimana dalam prediksi telah terdapat tanda yang mengarah pada kejadian, misal ada pohon tua yang rapuh menjadi tanda bahwa pohon tersebut akan tumbang, maka muncul prediksi bahwa pohon tersebut akan tumbang sekian hari lagi, misalnya.

Pada peristiwa Ngerong, tidak ada satupun tanda yang mengarah pada peristiwa tersebut. Jalanan tempat kecelakaan-pun merupakan jalan yang biasa menjadi tempat lalu lalang setiap harinya. Kendaraan besar maupun kecil biasa melewati jalan tersebut karena merupakan akses utama Surabaya-Malang atau sebaliknya. Artinya, peristiwa tersebut merupakan bentuk Prekognisi, salah satu bentuk kemampuan tersembuyi yang dimiliki oleh seorang indigo.

Apakah kemampuan tersebut dapat di tes? Tentu tidak. Hal tersebut dikarenakan sifat dasar ilmu dimana tidak dapat diukur dengan parameter tertentu. Penilaian yang selama ini diajarkan kepada kita dalam bentuk ujian nasional, tes CPNS dan lain sebagainya tersebut bukan untuk mengukur ilmu yang dimiliki, namun sebatas memetakan kemampuan mayor pada cabang ilmu tertentu, bukan untuk mengukur luasnya total ilmu itu sendiri.

Apakah kemampuan tersebut dapat dilatih? Tentu bisa. Banyak pusat studi psikologi (sebagai lembaga modern) dan pusat studi kebatinan (sebagai lembaga konservatif) yang menyatakan mampu untuk mengasah kemampuan tersebut menjadi lebih tajam dengan berbagai metode. Metode yang biasa digunakan antara lain kontemplasi, pendekatan kepada tuhan, pendekatan terhadap makhluk tuhan (alam, lingkungan, dll) dan lain sebagainya.

Apakah kemampuan tersebut bertentangan dengan agama? Pada dasarnya tidak. Artinya, memiliki dan mengakui keberadaan kemampuan tersebut tidaklah bertentangan dengan ajaran agama. Yang tidak dibolehkan agama adalah sombong dengan ilmu yang dimiliki, muncul perasaan bahwa ilmu yang dimiliki menjadikannya layak menjadi tuhan, atau meyakini bahwa orang lain layak menjadi tuhan karena ilmu yang dimiliki orang lain tersebut. Dalam sudut pandang Agama, kita yakini bahwa tuhan sebagai zat yang Maha Mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi. Bagi-Nya seluruh ilmu langit dan bumi. Lantas bagaimana kemampuan prekognisi tersebut terjadi? Jawabnya adalah tidak ada yang tidak mungkin bagi tuhan. Bisa saja Ia membuka sedikit tabir keilmuan seseorang sehingga ia sekilas mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Boleh jadi juga tuhan membisikkan ilmu tertentu yang tidak dibisikkan kepada orang lain.

Untuk itulah kita diajari untuk banyak berdoa tentang ilmu. Salah satunya adalah doa “Allahumma infa’na maa ‘allamtana, wa ‘allimna maa yanfa’una,,,” Ya Allah, Berikanlah manfaat atas apa yang telah Kau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku,,,”

 

Leave a comment