Arti Perhatian Dalam Dunia Pendidikan 12


  1. Pengertian Perhatian

Sebelum penulis membahas lebih jauh membahas tentang perhatian, maka terlebih dahulu kita harus memahami atau mengetahui apa dan bagaimana perhatian itu. Sehubungan dengan maksud tersebut, maka penulis akan mengemukakan beberapa pendapat para ahli tentang pengertian perhatian sebagai berikut.

Menurut Slameto (1987) dalam bukunya “Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya” menjelaskan bahwa perhatian adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan pemilihan rangsangan yang datang dari lingkungan. Jika seorang berjalan di jalan besar, ia sadar akan adanya lalu lintas di sekelilingnya. Jika seorang berjalan di jalan besar, ia sadar akan adanya lalu lintas di sekelilingnya. Dalam keadaan seperti ini kita tidak mengatakan bahwa ia menaruh perhatian atau perhatiannya tertarik, tetapi jika kemudian kita lihat ia bertemu dengan seseorang yang ia kenalnya yang kemudian ia bercakap-cakap dengannya, maka kita dapat mengatakan bahwa orang tersebut berada dalam keadaan sedang memperhatikan, yaitu ia mengarahkan indera atau sistem persepsinya untuk menerima informasi tentang sesuatu, dalam hal ini tentang orang yang dikenalnya, dalam tingkat yang lebih terinci. Tingkat yang lebih tinggi dari menaruh perhatian adalah menaruh minat. Dalam terap ini orang tidak lagi hanya bersedia untuk mendengarkan sesuatu misalnya, tetapi ia juga bersedia untuk memberi tanggapan mengenai apa yang didengarnya. Sehingga dengan demikian perhatian dan minat walaupun berbeda namun erat hubungannya.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia “Perhatian” berarti hal (perbuatan dan sebagainya) memperhatikan minat (Depdikbud,1989). Dengan melihat pengertian di atas, maka dapatlah dipahami bahwa keterkaitan antara perhatian dan minat memang sangat erat, sebab menaruh perhatian terhadap sesuatu obyek berarti ada kecenderungan untuk memperhatikannya. Sehingga tidak menimbulkan pemusatan perhatian terhadap sesuatu.

Perhatian adalah merupakan penyelesaian terhadap stimulus yang diterima oleh individu yang bersangkutan, dengan demikian dapat dipahami bahwa apa yang diperhatikan itu betul-betul disadari oleh individu, sehingga antara perhatian dan kesadaran merupakan korelasi positif. Artinya makin diperhatikan sesuatu obyek, maka akan makin disadari obyek itu sehingga dengan sendirinya akan menimbulkan minat terhadap obyek tersebut.

Semua persoalan hidup bagaimanapun keadaannya, pasti diperoleh dengan perhatian. Oleh karena itu setiap kita menggunakan perhatian, baik secara terpusat maupun secara terbagi-bagi sangat dipengaruhi oleh stimulus dan keadaan atau suasana yang bersangkutan. Sehingga untuk dapat menyadari sesuatu haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Adanya obyek yang diamati.
  2. Harus ada lat indera cukup baik sebagai alat untuk mengangkap stimulus yang mengenainya.
  3. Harus ada pula saraf sensoris yang baik sebagai alat untuk meneruskan stimulus itu ke pusat susunan saraf pusat yaitu otak.

Berdasarkan dari penjelasan tersebut di atas, maka dapatlah dipahami bahwa perhatian adalah merupakan sifat selektif yang khas pada kehidupan mental terhadap stimulus.

Dalam pada itu test yang penulis maksudkan dalam pembahasan skripsi ini adalah sesuai dengan apa yang dilaksanakan dalam sistem proses belajar mengajar di SDN Labuang Baji I Makasar.

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perhatian.

Berbicara dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian, maka kita akan diperhatikan pada pertanyaan apakah yang menarik perhatian seseorang? Dalam keadaan bagaimana dan dimana ia tinggal.

Dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang tidak membedakan antara minat dan perhatian, walaupun dasarnya keduanya berbeda, tetapi memang antara minat dan perhatian sangat erat hubungannya keduanya berbeda, tetapi memang antara minat dan perhatian sangat erat hubungannya sehingga orang yang tidak mempunyai minat terhadap mata pelajaran biologi misalnya, maka dengan sendirinya perhatian mereka tidak ada. Dalam pada itu dengan melihat uraian tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa berdasarkan realitas yang ada perhatian itu timbul disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :

  1. Adanya Kecenderungan Menarik Untuk Perhatian.

Dalam hal ini dapat kita lihat pada seorang yang pada saat ia berada dalam kesendirian, sangat malas untuk menjalankan tugas misalnya belajar. Jika tidak ada yang melihatnya ia akan malas, tetapi karena adanya kecenderungan untuk diperhatikan tadi akhirnya ia rajin belajar dengan tendensi untuk mendapat perhatian. Namun demikian hal-hal seperti ini harus juga diakui bahwa tidak sedikit juga membawa dampak positif oleh karena secara tidak langsung hal yang dilakukan orang-orang seperti ini, adalah termasuk dalam kategori pembiasaan yang tentunya dengan kebiasaan-kebiasaan yang tadinya hanya dimotivasi oleh adanya kecenderungan untuk mencari perhatian, sehingga penulis merasa berkeyakinan bahwa lambat atau cepat nantinya akan dapat menjadikan kebiasaan itu sebagai suatu kewajiban. Walaupun tadinya pelaksanaannya hanya karena ada tendensi lain.

  1. Adanya Kecenderungan Untuk Meniru Orang Lain.

Dalam hal ini barangkali dapat dirasakan atau akan dapat kita lihat realitas yang ada bahwa melihat orang sukses pada sekolah umum misalnya. Sehingga oleh kita timbul perhatian itu untuk meniru tanpa lebih banyak berfikir, apakah kita akan berhasil atau hanya memperoleh kegagalan jika ambisi yang lahir tiba-tiba itu akan dituruti. Sebaliknya tidak adanya perhatian pada sekolah kejuruan misalnya, sebab tidak pernah melihat sesuatu keberhasilan dalam realitas kehidupannya.

Orang seperti yang digambarkan di atas, tidak dapat kita bayangkan bilamana melihat suatu keberhasilan pada orang-orang yang bersekolah pada sekolah kejuaraan, yang tentunya akan membuat tragedi baru dalam proses kehidupannya. 4. Sebagai salah satu bahan referensi bacaan yang dapat dijadikan sumber informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya dan penelitian pada khususnya.

Hal ini tidak lain disebabkan karena perhatian orang tersebut semata-mata karena meniru keberhasilan orang lain.

Barangkali perlu dipahami bahwa untuk terjadinya suatu proses peniruan terhadap satu macam kelakuan maka harus ada dua macam cara pula, yaitu: adanya keinginan untuk meniru dan adanya kemampuan untuk meniru. Adapun meniru itu mempunyai dua unsur yaitu: keinginan atau dorongan dan kemampuan atau kesediaan. Disamping itu ada unsur ketiga yang biasanya bertemu dengan kedua unsur tersebut yaitu tujuan. Sebab tujuan daripada meniru bagi seseorang itu ialah tidak lain untuk mencapai tujuan.

  1. Adanya rasa ingin tahu atau rasa ingin mengenal.

Sebagaimana diketahui bahwa semua orang yang bernama manusia selalu mempunyai keinginan-keinginan, atau ringkasnya tidak seorangpun manusia di dunia ini yang hanya tinggal diam saja. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang samar-samar, ia ingin tahu. Dan dari rasa keingintahuan itulah memotivasi manusia untuk berusaha mempelajari hal yang samar-samar tadi sampai kemudian mendapat jawaban dari hal yang menjadi pertanyaan atau keraguan dalam jiwanya. Kebutuhan akan mengenai itulah yang menimbulkan perhatian.

Selanjutnya, seperti yang telah penulis uraikan tadi bahwa salah satu penyebab timbulnya perhatian adalah dengan pengalaman. Pengalaman disini yang penulis maksudkan adalah baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini biasanya terjadi setelah anak melalui masa pertumbuhannya yang pertama dalam keluarga dimana setelah didapatinya pengalaman yang akan terjadi pada bagian pribadinya yang bertumbuh itu.

Dengan uraian di atas maka tidaklah mengherankan, manakala guru di sekolah mendapatkan tugas yang sangat berat. Sebab dengan berbedanya pengalaman yang diterima anak dalam keluarga, dengan sendirinya akan menuntut guru di sekolah untuk menghadapi anak didiknya di dalam proses transfer nilai-nilai pendidikan kepada muridnya.

Bertolak dari pemikiran tersebut di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa jika seorang pendidik ingin sukses haruslah memperhatikan ketiga faktor tersebut di atas. Pemahaman seorang guru terhadap faktor-faktor tersebut di atas yang dapat mempengaruhi perhatian, maka dengan sendirinya tentu dapat diperoleh suatu alternatif untuk menerapkan metode yang dianggap kondisional dalam proses belajar mengajar. Sudah tentu pula guru dalam hal ini harus memahami benar-benar eksistensinya, dimana seorang guru dituntut untuk memiliki kompetensi serta memahami bagaimana kode etik guru itu sendiri, agar di dalam proses belajar mengajar dapat tercipta suasana yang wajar. Atau dengan kata lain tujuan pendidikan itu dapat terwujud.

Leave a comment