Pengertian, Model dan Karakteristik Pembelajaran PAIKEM 7


  1. Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan perilaku peserta didik secara adaptif maupun generatif. Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya belajar peserta didik (learning style) dan gaya mengajar guru (teaching style).[1] Menurut Soekanto, dkk. Mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.[2] Menurut Trianto, model pembelajaran adalah kerangkakonseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.[3] Dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan brtujuan yang tertata secara sistematis.

  1. Pengertian Model Pembelajaran PAIKEM[4]

Pengertian PAIKEM, secara bahasa dan istilah dapat dijelaskan secara singkat, ia merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).

Istilah aktif, maksudnya pembelajaran adalah sebuah proses aktif membangun makna dan pemahaman dari informasi, imu pengetahuan maupun pengalaman oleh peserta didik sendiri. Istilah inovatif, dimaksudkan dalam proses pembelajaran diharapkan ide-ide baru atau inovasi-inovasi positif yang lebih baik.

Istilah kreatif memiliki makna bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses mengembangkan kreatifitas peserta didik, karena pada dasarnya setiap individu memilki imajinasi dan rasa ingin tahu yang tidak pernah berhenti.

Istilah efektif, berarti bahwa model pembelajaran apapun yang dipilih harus menjamin bahwa tujuan pembelajaran akan tercapai secara maksimal. Sedangkan istilah menyenangkan dimaksudkan bahwa proses pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan mengesankan.

  1. Karakteristik Model Pembelajaran PAIKEM
  2. Berpusat pada siswa (student-centered );
  3. Belajar yang menyenangkan (joyfull  learning);
  4. Belajar yang berorientasi pada tercapainya kemampuan tertentu (competency-based learning);
  5. Belajar secara tuntas (mastery learning);
  6. Belajar secara berkesinambungan (continuous  learning);
  7. Belajar sesuai dengan ke-kini-an dan ke-disini-an (contextual  learning).

Sesuai dengan singkatan PAIKEM, maka pembaljaran yang berfokus pada siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks kehidupan dan lingkungan ini memiliki 4 ciri yaitu: mengalami, komunikasi, interaksi dan refleksi.

  1. Mengalami (pengalaman belajar), antara lain:
  • Melakukan pengamatan
  • Melakukan percobaan
  • Melakukan penyelidikan
  • Melakukan wawancara
  • Siswa belajar banyak melalui berbuat
  • Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera.
  1. Komunikasi, bentuknya antara lain:
  • Mengemukakan pendapat
  • Presentasi laporan
  • Memajangkan hasil kerja
  • Ungkap gagasan
  1. Interaksi, bentuknya antara lain:
  • Diskusi
  • Tanya jawab
  • Lempar lagi pertanyaan
  • Kesalahan makna berpeluang terkoreksi
  • Makna yang terbangun semakin mantap
  • Kualitas hasil belajar meningkat
  1. Kegiatan refleksi yaitu memikirkan kembaliapa yang diperbuat atau dipikirkan.
  • Mengapa demikian?
  • Apakah hal itu berlaku untuk?
  • Untuk perbaikan gagasan/ makna
  • Untuk tidak mengalami kesalahan
  • Peluang lahirkan gagasan baru

Dari karakteristik PAIKEM tersebut, maka guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar, memang berada pada diri siswa, tetapi guru bertanggung jawab dalam meberikan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi dan transoer dalam belajar, sebagai bentuk tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan ketika pendidik menerapkan PAIKEM adalah sebagai berikut [5]:

  1. Memahami sifat peserta didik.
  2. Mengenal peserta didik secara perorangan.
  3. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganissasian belajar.
  4. Mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif serta mampu memecahkan masalah.
  5. Menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik.
  6. Memanfaatkan lingkungan sebagai lingkungan belajar.
  7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan.
  8. Membedakan aktif fisik dengan aktif mental.

Ada beberapa setting kelas yang variatif dan dinamis dalam penerapan PAIKEM [6]. Setting atau formasi kelas ini tidak dimaksudkan untuk menjadi susunan yang permanen, Namun hanya sebagai alternatif dalam penataan ruang kelas. Jika meja dan kursi di ruang kelas dapat dengan mudah dipindah-pindah, maka sangat mungkin menggunakan beberapa formasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang diinginkan pendidik. Berikut ini formasi-formasi dalam penerapan PAIKEM yaitu :

 

  1. Formasi Huruf U

Formasi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik dapat melihat guru atau media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena guru dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi.[7]

  1. Formasi Corak Tim

Guru mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran di ruang kelas agar memungkinkan peserta didik untuk melakukan interaksi tim. Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika hal ini dilakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru, papan tulis atau layar.[8]

  1. Meja Konferensi

Formasi ini paling baik dilakukan jika meja berbentuk panjang. Susunan ini dapat mengurangi peran penting peserta didik. Jika guru duduk di tengah-tengah sisi yang luas, para peserta didik di ujung merasa tertutup. Guru juga dapat membentuk sebuah susunan meja konferensi dengan menggabungkan beberapa meja kecil (di tengahnya biasanya kosong).[9]

 

  1. Formasi Lingkaran

Para peserta didik duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk melakukan interaksi berhadapan-hadapan secara langsung.

  1. Pengelompokkan Terpisah

Jika kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, guru dapat meletakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar didasarkan pada tim. Guru dpat menempatkan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hendaknya dihindari penempatan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas,sehingga hubungan diantara peserta didik sulit dijaga[10].

  1. Susunan Chevro (V)

Susunan V mengurangi jarak antara para peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain dari pada baris lurus.

  1. Kelas Tradisional

Format atau setting kelas ini banyak digunakan dilembaga pendidikan manapun karena paling mudah dan sederhana.[11]

  1. Auditorium / Aula

Formasi auditorium atau aula merupakan tawaran alternatif dalam menyusun ruang kelas. Meskipun bentuk auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas belajar aktif , namun hal ini dapat dicoba untuk dilakukan guru guna mengurangi kebosanan peserta didik yang terbiasa dalm penataan ruang yang konvensional (tradisional).[12]

[1] Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana. Konsep Strategi Pembelajaran. (Bandung : Refika Aditama. 2009). Hal. 41.

[2] Trianto, M.pd. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. (Jakarta : Prestasi Pustaka. 2009). Hal. 74.

[3] Trianto, M.pd.Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori Dan Praktek. (Jakarta : Prestasi Pustaka. 2007). Hal. 3.

 

[4] Ismail. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. ( Semarang : Rasail, 2009 ),47

[5] Ibid,48

[6] Ibid,49

[7] Ibid,50

[8] Ibid,51

[9] Ibid,52

[10] Ibid,53

[11] Ibid,54

[12] Ibid,55

Leave a comment