Menjadi Muslim Yang Cerdas Dalam Ber-Sosial Media, Sulitkah? 29


Penggunaan sosial media sebagai alat branding telah dilakukan oleh berbagai pihak baik swasta maupun pemerintahan, baik secara individu maupun secara kolektif. Branding sebagai dimaksud boleh jadi berupa branding memperkenalkan produk, memublikasikan diri maupun memasyarakatkan ide dan gagasan tertentu. Salah satu ide atau gagasan yang biasa dibranding dalam sosial media adalah gagasan seputar agama.

Ide seputar agama menjadi makanan empuk dalam kancah sosial media dimana apabila gagasan tersebut diamini maka akan cepat mendapat respon yang positif, namun apabila gagasan tersebut dinilai negatif maka respon penolakannya-pun akan sangat cepat dan bahkan tak jarang memunculkan bullyan hingga cacian dalam berbagai tingkatan.

Psikolog dari University of Melbourne, Australia, Brent Coker yang juga pakar perilaku di dunia maya mengatakan ada beberapa alasan mengapa berbagi dan menyukai postingan di Facebook. “Mengapa bisa menyebar dan menjalar, itu karena membangkitkan emosi yang kuat dan menciptakan sesuatu yang kita sebut gairah kognitif yang memotivasi orang untuk bertindak,” kata Dr Coker. “Dengan mendapatkan ‘Likes’ atau ketika postingan kita di-share, ada ganjaran psikologis yang besar.” Sayangnya, tidak jarang ide yang beredar tersebut tidak sepenuhnya benar. Beberapa di antaranya merupakan kabar palsu, atau gabungan antara berita fakta yang tafsirkan sedemikian rupa sehingga memunculkan interpretasi sebagai berita palsu.

Melihat hal tersebut, bagaimana seorang muslim mampu memposisikan diri sebagai muslim yang cerdas dalam ber-sosial media? Apakah hal tersebut sulit? Sebenarnya menjadi muslim yang cerdas di sosial media bukanlah hal yang mustahil. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan, tentu dengan memenuhi beberapa persyaratan. Apa saja persyaratannya? simak beberapa hal berikut :

1. Tidak membuat berita palsu. Sebagai seorang muslim, larangan untuk berbohong tentu telah diajarkan semenjak kecil. Sifat Rasul “Shiddiq” ditanamkan semenjak dini untuk diamalkan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya dalam sosial media. Mutlak, membuat berita palsu adalah “haram jaddah” bagi seorang muslim yang cerdas.

2. Selalu melakukan klarifikasi terhadap setiap informasi yang didapat, sebelum membagikan kepada orang lain. Dalam islam, kita senantiasa diajarkan untuk “tabayyun” atau melakukan klarifikasi atas setiap berita yang sampai kepada kita, sebelum kita mengedarkan berita tersebut. Apabila ternyata berita tersebut benar maka tentu pahala yang diperoleh, namun apabila tidak benar? memang reward dari niat berdakwah sudah didapat, namun tentu diimbangi dengan ancaman punishment akibat menyebarkan berita yang tidak benar. Bagaimana jika terlanjur menyebarkan berita dan setelah dilakukan klarifikasi ternyata berita tersebut palsu? Maka sudah menjadi tanggungjawabnya untuk melakukan klarifikasi bila perlu ditambah permohonan maaf karena telah menyebarkan info yang tidak benar tersebut.

3. Memahami isi berita secara menyeluruh. Sebagai seorang muslim, membaca merupakan aktifitas yang tersurat dalam firman Allah yang pertama diturunkan. Tentu hal tersebut mengindikasikan bahwa seorang muslim harus mampu membaca sebuah permasalahan dan berita secara utuh, tidak secara parsial, apalagi hanya terjebak dengan judul atau headline saja. Apabila masih ada seorang muslim yang hanya karena membaca judul atau berita secara parsial kemudian menyimpulkan seolah-olah ia mengetahui berita tersebut secara penuh maka tentu ia bukanlah seorang muslim yang baik dalam bersosial media.

4. Meggunakan sosial media untuk bersilaturrahim dan berbagi hal yang informatif dan inspiratif, bukan hal yang provokatif. Isu yang memiliki nuansa provokatif termasuk hal yang berbau SARA merupakan pembahasan yang mutlak perlu dihindari bersosial media. Daripada mengisinya dengan hal yang dapat menyulut provokasi, maka lebih baik mengisinya dengan hal yang dapat melahirkan inspirasi dan bermanfaat bagi sesama.

5. Tidak mudah terpancing emosi. Dalam bersosial media, kita akan bertemu dengan berbagai macam manusia dengan sifat dan karakter yang berbeda. Apabila terdapat pembahasan yang kurang disetujui, maka hendaklah menyampaikan ketidaksetujuan tersebut secara santun, tenang dan tidak memunculkan amarah. Apabila sudah disampaikan semaksimal mungkin namun tetap tidak ada perubahan maka di media sosial tentu terdapat fitur blokir. Ini yang menjadi representasi dari ungkapan “berkatalah yang baik, atau diamlah”.

6. Tidak menjadikan media sosial sebagai ajang ghibah, fitnah, namimah dan kejelekan lainnya. Tidak sedikit masyarakat yang menjadikan media sosial sebagai ajang “rasan-rasan” atau berghibah. Biasanya mereka bergibah di dalam sebuah grup tertutup. Tentu hal tersebut bukanlah hal yang baik dilakukan oleh seorang muslim pengguna sosial media. Tidak jarang pula masyarakat yang menjadikan media sosial sebagai tameng untuk menghina atau melecehkan orang lain. Misalnya, ia sakit hati dengan seseorang namun tidak berani mengungkapkan langsung di depan mata, akan tetapi di media sosial dia berbuat ganas dengan memaki lawannya secara terang-terangan. Hal tersebut tentu bukan perilaku muslim yang cerdas dalam bersosial media.

7. think before you tweet. Sosial media biasanya berbasis karakter (kata), gambar, video dan audio. Sebelum anda menggunakan sosial media dan membagikan konten tersebut kepada rekan sosial media anda, maka berfikirlah sebelum mengklik enter. Salah satu hal yang difikirkan adalah bagaimana perasaan anda apabila anda dikirimi konten tersebut oleh rekan anda. Apabila anda merasa tidak suka, maka bisa jadi itu pula yang akan dirasakan oleh orang lain, maka sebaiknya urungkanlah niat anda untuk membagikan konten tersebut.

Sobat, barangkali ada banyak tips lain untuk menjadi muslim yang cerdas dalam bersosial media. Apabila berkenan, mari turut serta berbagi tentang apa sih tips dari anda untuk menjadi muslim yang cerdas dalam bersosial media?

Terimakasih.

Leave a comment