Sumbangsih Ilmu Pengetahuan Terhadap Perkembangan Masyarakat 126


 

  1. Asal-Usul Ilmu Pengetahuan

Filsafat ilmu berkembang dari zaman ke zaman sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan realitas sosial. Dengan dimulai aliran rasionalisme-empirisme, kemudian kritisisme dan posisitivisme.

Rasionalisme adalam paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari “pencerahan” dimana timbul perlawanan terhadap gereja yang menyebarkan ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi daya pikir sebagai sumber dari segala pengabsahan, segala sesuatu harus diukur dan dinilai dengan berdasarkan logika yang jelas.[1] Pandangan ini sangat populer pada abad 17, tokoh-tokohnya adalah Rene Descarters (1596-1650 M), Benecdituz de Spinoza –biasa dikenal “Barukh Spinoza”- (1632-1677 M), G.W. Lebiniz (1646-1716 M), dan Blaise Pascal (1623-1662 M). Akan tetapi, sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum mereka. Orang-orang Yunani kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan.[2]

Sedang Empirisme adalah pencarian kebenaran dengan pembuktian-pembuktian indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran jika tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar, dan dirasa. John Locke (1632-1704 M) dalam bukunya yang berjudul “Essay Concerning Human Understanding” -Esai tentang Pemahaman Manusia- sebagaimana dikutip oleh Bertarnd Russell, bahwa pengetahuan didapat dari pengalaman indrawi. Tanpa mata tak ada warna, tanpa telinga tidak ada bunyi, dan sebagainya. Teori empirisme ini berasal dari pemahaman “Tabularasa” (blank, tablet, kertas catatan kosong) karya John Lacke. Menggambarkan keadaan jiwa. Yaitu jiwa ibarat kertas kosong, tak berisi apa-apa, pula tidak ada ide di dalamnya.[3] Tokoh-tokohnya seperti John Locke (1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Sehingga peran pengalaman menjadi acuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Hal ini mempengaruhi manusia hingga sekarang, khususnya dalam bidang HAM dan Hukum.

Kedua pemahaman di atas dapat dibedakan melalui caranya mencari kebenaran. Rasionalisme didominasi akal, sementara Empirisme didominasi oleh pengalaman dalam mencari kebenaran. Kedua aliran ini bahkan secara ekstrim sampai pada taraf tidak mengakui realitas di luar akal, pengalaman atau fakta. Superioritas akal akan menyebabkan agama keluar dari posisi semestinya, agama lebih banyak didasarkan pada doktrin yang tidak bisa diterima oleh rasio yang selanjutnya tidak akan diterima para pemegang paham rasionalisme dan empirisme. Bukan berarti dogma yang diajarkan agama itu tak benar, tapi rasio manusia kadang tidak sampai pada wilayahnya untuk bisa menguji kebenaran dogma Tuhan. Lalu muncullah aliran Kritisisme sebagai jawaban dari rasionalisme dan empirisme untuk menyelamatkan agama.

Kritisisme merupakan filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sebelum melakukan pencarian kebenaran. Tokoh yang terkenal dalam paham ini adalah Immanuel Kant (1724-1804), filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme. Menurutnya, pengetahuan manusia merupakan sintesis antara apa yang secara (apriori) sudah ada dalam alam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang didapat dari pengalaman (aposteriori).[4]

Adapun Filsafat Positivisme membatasi kajian filsafat pada hal-hal yang dapat diuji (justifikasi) secara empirik, dan itulah yang disebut hal-hal positif. Positivisme digunakan untuk merumuskan pengertian-pengertian mengenai realita sosial dengan penjelasan ilmiah, prediksi dan kontrol sebagaimana yang dipraktekkan pada fisika, kimia, dan biologi. Tahap penelitian positivisme dimulai dengan pengamatan, percobaan, generalisasi, produksi, manipulasi. Tokoh-tokohnya seperti: August Comte (1798-1857); John S. Mill (1806-1873); Herbert Spencer (1820-1903).

 

  1. Pengertian Masyarakat

Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan, dan lain sebagainya manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat. Adapun mengenai pengertian masyarakat ada beberapa pendapat, diantaranya:

  1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
  2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
  3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif dari pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
  4. Menurut Paul B. Horton dan C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut.[5]

Dari beberapa pengertian di atas maka yang penulis anggap lebih tepat dalam sudut pandang yang lebih luas sebagaimana yang diungkapkan oleh Paul B. Horton dan C. Hunt. Lalu lahirlah beberapa syarat dalam sebuah masyarakat yang kemudian menunjukkan ke-eksistensi-annya, yaitu:

  1. Masyarakat haruslah kumpulan manusia dan banyak, bukan kumpulan binatang.
  2. Telah bermukim atau bertempat tinggal di suatu daerah dalam batasan waktu yang cukup lama.
  3. Adanya undang-undang atau aturan yang mengatur mereka untuk menuju pada visi dan misi bersama.

Terjadinya lapisan dalam sebuah masyarakat dikarenakan adanya beberapa faktor, ada yang lapisan tersebut dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat. Tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah tingkat umur (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, Dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu. Alasan-alasan yang dipakai berlainan bagi tiap-tiap masyarakat. Pada masyarakat yang hidupnya berburu hewan alasan utama adalah kepandaian berburu. Sedangkan pada masyarakat yang telah menetap dan bercocok tanam, maka dianggap sebagai orang yang menduduki lapisan tertinggi. Hal ini dapat dilihat pada masyarakat Batak, dimana marga tanah yaitu marga yang pertama-tama membuka tanah dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi. Secara teoritis semua manusia dapat dianggap sederajat, akan tetapi sesuai dengan kenyataan hidup, kelompok-kelompok sosial halnya tidaklah demikian.

  1. Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Yang dimaksud dengan desa  menurut Sukardjo Kartohadi adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Menurut Bintaro desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat di suatu daerah dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain. Sedang menurut Paul H. Landis : desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal-mengenal antara ribuan jiwa.
  2. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuan terhadap kebiasaan
  3. Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum dan sangat dipengaruhi oleh alam sekitar, adapun pekerjaan selainnya adalah bersifat sambilan.[6]

Mengenai masyarakat perkotaan pengertiannya lebih ditekankan pada sisi kehidupannya, serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan adalah:

  1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
  2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, lebih bersifat individu.
  3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
  4. Interaksi yang terjalin lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor yang lain.
  5. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.[7]

Perbedaan antara masyarakat desa dan kota pada hakikatnya bersifat gradual. Dapat dibedakan antara masyarakat desa dan kota yang masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri. Memiliki sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan tak jarang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:

Masyarakat Pedesaan Masyarakat Perkotaan
·      Perilaku Homogen

·      Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan

·      Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status

·      Isolasi sosial, sehingga statik

·      Kesatuan dan keutuhan kultural

·      Banyak ritual dan nilai-nilai sakral

 

·      Kolektivisme

·       Perilaku Heterogen

·       Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan

·       Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi

·       Mobilitas sosial, sehingga dinamik

·       Kebauran dan diversifikasi cultural

·       Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekuler

·       Individualisme

Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja.[8]

  1. Kontribusi Ilmu Pengetahuan Kepada Masyarakat

Suatu kenyataan yang tampak jelas dalam dunia modern yang telah maju ini, ialah adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagiaan orang dalam hidup. Kemajuan industri telah dapat menghasilkan alat-alat yang memudahkan hidup, memberikan kesenangan dalam hidup, sehingga kebutuhan-kebutuhan jasmani tidak sukar lagi untuk memenuhinya. Seharusnya kondisi dan hasil kemajuan itu membawa kebahagiaan yang lebih banyak kepada manusia dalam hidupnya. Akan tetapi suatu kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa kebahagiaan itu ternyata semakin jauh, hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran material berganti dengan kesukaran mental. Beban jiwa semakin berat, kegelisahan dan ketegangan serta tekanan perasaan lebih sering terasa dan lebih menekan sehingga mengurangi kebahagiaan.

Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih untuk mengatasi berbagai masalah hidupnya, namun pada sisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas (ahlak) yang mulia. Dunia modern saat ini, termasuk di indonesia misalnya ditandai oleh gejalah kemerosotan akhlak yang benar-benar berada pada taraf yang menghawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong dan kasih sayang sudah hampir tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal dan saling merugikan. Untuk memahami gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian itu, maka kehadiran filsafat ilmu berusaha mengembalikan ruh dan tujuan luhur ilmu agar ilmu tidak menjadi bomerang bagi kehidupan umat manusia. Disamping itu, salah satu tujuan filsafat ilmu adalah untuk mempertegas bahwa ilmu dan teknologi adalah instrumen bukan tujuan. Dalam konteks yang demikian diperlukan suatu pandangan yang komprehensip tentang ilmu dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Sedang kebudayaan di sini merupakan seperangkat system nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya.[9] Sebagaimana menurut Talcot Parson yang dikutip oleh Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan, ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung juga saling mempengaruhi. Pada satu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Adapun di pihak lain, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.[10]

Oleh sebab itu kemajuan sebuah masyarakat tergantung pada ilmu dan kebudayaan mereka. Sangatlah jelas akan keberadaan ilmu dan kebudayaan dalam memberikan kontribusi pada masyarakat, tentunya agar menjadi sebuah masyarakat yang memiliki ilmu dan kebudayaan yang tinggi. Namun di lain keadaan kontribusi ilmu pengetahuan dapat berdampak negatif bagi masyarakat, tidak hanya berdampak positif saja. Maka dari sini penulis mencoba menyampaikan bagaimana pengaruh positif dan negatif dari kontribusi ilmu pengetahuan terhadap masyarakat.

  1. Dampak Positif

Penerapan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan, apakah itu berupa teknologi, ataupun teori-teori emansipasi masyarakat, pasti memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai adat, dan sebagainya. Ini berarti ilmu pengetahuan tersebut sudah tidak bebas nilai. Karena ilmu sudah berada di tengah-tengah masyarakat luas dan masyarakat akan mengujinya.

Oleh karena itu, tanggung jawab lain yang berkaitan dengan teknologi di masyarakat, yaitu menciptakan hal yang positif. Namun, tidak semua teknologi atau ilmu pengetahuan selalu memiliki dampak positif. Di bidang etika, tanggung jawab seorang ilmuwan, bukan lagi memberi informasi namun harus memberi contoh. Dia harus bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar, dan berani mengakui kesalahan. Semua sifat ini, merupakan implikasi etis dari proses penemuan kebenaran secarah ilmiah. Di tengah situasi di mana nilai mengalami kegoncangan, maka seorang ilmuwan harus tampil kedepan. Pengetahuan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Hal yang sama harus dilakukan pada masyarakat yang sedang membangun, seorang ilmuwan harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan contoh yang baik.

Secara definitif, ilmu adalah pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Maka, patutlah dikatakan, bahwa peradaban manusia sangat bergantung kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini,  pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah.[11] Secara lebih spesifik, Eugene Staley menegaskan seperti yang dikutip oleh Siti Irene Astuti dalam bukunya –Ilmu Sosial Dasar– bahwa teknologi adalah sebuah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani.[12]

Pada tahap selanjutnya, seiring dengan perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan turunannya yang berbentuk teknologi ini, meluas bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia secara sempit. Pemanfaatan teknologi meluas pada upaya penghapusan kemiskinan, penghapusan jam kerja yang berlebihan, penciptaan kesempatan untuk hidup lebih lama dengan perbaikan kualitas kesehatan manusia, membantu upaya-upaya pengurangan kejahatan, peningkatan kualitas pendidikan, dan sebagainya.[13]

Bahkan secara lebih komprehensif, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan pemerintah dalam menunjang pembangunannya. Misalnya dalam perencanaan dan programing pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan sumber-sumber insani, dan teknik pembangunan dalam sektor pertanian, industri, dan kesehatan.[14]

Sebagai puncaknya barangkali, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Bendungan, kalkulator, mesin cuci, kompor gas, kulkas, TV, tape recorder, telephon, komputer, satelit, pesawat terbang, merupakan produk-produk teknologi yang bukan saja membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi membuat hidup manusia semakin mudah.[15]

Manfaat-manfaat inilah yang mula-mula menjadi tujuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan hingga menghasilkan teknologi. Mulai dari teknologi manusia purba yang paling sederhana berupa kapak dan alat-alat sederhana lainnya. Sampai teknologi modern saat ini, yang perkembangannya jauh lebih pesat dari perkembangan teknologi sebelumnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini sanggup membawa berkah bagi umat manusia berupa kemudahan-kemudahan hidup, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan dalam benak manusia.

  1. Dampak Negatif

Perlahan tapi pasti, tujuan mulia ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, mengalami pergeseran. Teknologi yang sejatinya hanyalah sarana dan alat bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, berubah menjadi sesuatu yang diberhalakan. Padahal, seharusnya ilmu dan teknologi hanya sebagai alat dalam kehidupan, bukan sebagai gantungan atau andalan dalam kehidupan.[16] Amien Rais menggambarkan, bahwa ada kecenderungan manusia modern untuk mengagung-agungkan atau menyembah ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pandangan manusia modern, Iptek adalah –means everything- segala-galanya. Seolah-olah, di tangan Iptek-lah kesejahteraan manusia masa depan akan digantungkan.[17]

Akibatnya, ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bumerang bagi manusia sebagai penggunanya, senjata makan tuan. Akibat penggunaan iptek yang salah kaprah dan tidak terkendali, teknologi hanyalah menciptakan alienasi, dehumanisasi, dan konsumerisme dalam kehidupan manusia.[18] Tentang proses dehumanisasi akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Jujun S. Suriasumantri, mengatakan bahwa Iptek bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Tetapi, Iptek malah menciptakan tujuan hidup itu sendiri.[19]

Sementara itu, proses alienasi tercipta karena teknologi modern dengan sendirinya menghasilkan tatanan sosial, dengan pranata dan pelembagaannya, yang juga teknikalistik. Dalam keadaan seperti itu, manusia terasing dari dirinya sendiri dan dari nilai kepribadiannya, karena ia menjadi tawanan sistem yang melingkari kehidupannya.[20] Akibatnya terjadilah goncangan, yang dengan gocangan ini akan terjadi ancaman serius bagi eksisnya nilai-nilai yang dianut masyarakat. Berbarengan dengan statistik kriminalitas yang makin meningkat, anak-anak yang kehilangan orang tua, terbatasnya akses dan kesempatan memperoleh pandidikan, saling tidak percaya, dan berbagai krisis kemanusiaan lainnya.

Untuk menggambarkan dampak negatif perkembangan Iptek bagi kehidupan dunia sekarang, Anthony Giddens, seorang sosiolog terkenal, sengaja menulis sebuah buku yang cukup apresiatif, berjudul Runaway World. Giddens menjelaskan, bahwa proses globalisasi merupakan anak dari kemajuan ilmu dan teknologi. Tetapi, bukannya menciptakan kebahagiaan bagi manusia, globalisasi malah mencipatakan penyakit dan siap mengantarkan manusia menuju lembah kehancurannya. Globalisasi menciptakan berbagai resiko hidup dan ketidakpastian hidup yang melampaui kemampuan manusia untuk mengantisipasinya. Globalisasi juga menciptakan perubahan super dahsyat yang merombak dan memporak-porandakan tradisi, dimana nilai-nilai penyangga kehidupan manusia terbentuk. Tidak berhenti di situ saja, proses penghancuran ini pun merambah keluarga, komunitas terkecil tempat manusia hidup. Akibatnya, manusia semakin kehilangan tempat berpijak bagi kehidupannya.[21]

Selanjutnya, Nurcholish Madjid menyebutkan, bahwa peningkatan hidup material manusia modern akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan berarti peningkatan kualitas kemanusiaan secara moral dan spiritual. Biarpun manusia sekarang itu lebih modern, namun mereka tetap “primitif” dalam nilai-nilai kemanusiaan dan “buas” dalam tingkah lakunya. Hal ini bisa dilihat dari munculnya Naziisme Jerman yang cukup mrngerikan dan jatuhnya bom atom oleh Amerika di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, serta Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang sempat menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan.[22] Kejadian ini tidak lepas dari pengaruh kemajuan di bidang Iptek.

Lebih lanjut, pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan mengancam kelestarian bumi sebagai tempat pijak manusia. Perlombaan senjata nuklir yang belakangan ini semakin marak makin menambah daftar negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan senjata nuklir yang semula untuk tujuan mulia kemanusiaan, malah menciptakan ancaman maha besar bagi kelanjutan peradaban manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi ibarat pisau belati. Jika dipakai orang baik, akan menciptakan kemakmuran bagi manusia. Sebaliknya jika dipakai orang jahat, akan menciptakan bencana kemanusiaan yang lebih dahsyat. Jenis kedua inilah yang sekarang tengah terjadi pada dunia. Akhirnya, ilmu pengetahuan yang seharusnya membebaskan manusia dari pekerjaan yang melelahkan spiritual, malah menjadikan manusia sebagai budak-budak mesin.

Maka alangkah baiknya jika kita menyimak pesan Einstein kepada mahasiswa California Institute of Technology, pesan itu disampaikan pada tahun 1938 atau satu tahun sebelum ia menulis surat Historis yang melahirkan bom atom. Dia berkata bahwa “tidak cukup bagi kita hanya memahami ilmu agar hasil pekerjaan kita membawa berkah bagi manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis.[23]

[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), 127.

[2] Ibid., 25

[3] Bertarnd Russell, Sejarah Filsafat Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), Cet. III, 173.

[4] Konrad Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011), 58-60.

[5] “Pengertian Masyarakat, Unsur dan Kriteria Masyarakat dalam Kehidupan Sosial Antar Manusia”, dalam www.organisasi.org (10 Juni 2008).

[6] Deto Nugraha, “Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan”, dalam ditpk.bappenas.go.id/artikel (24 Pebruari 2011).

[7] Ibid.

[8] Rr. Tjahjani Busono, MS Barliana, dan Johar Maknun, “Perubahan Sosial di Desa Asal Migran Tenaga Kerja Wanita”, Pemberdayaan Perempuan, Vol. 3 No. 2 (Desember 2003), 8.

[9] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Total Grafika, 2003), 272.

[10] Ibid.

[11] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Total Grafika, 2003), 229 dan 254.

[12] Siti Irene Astuti, Ilmu Sosial Dasar, (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2001), 142.

[13] A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), 136-137.

[14] Siti Irene Astuti, Ilmu Sosial Dasar, (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2001), 142.

[15] Ibnu Mas’ud dan Joko Paryono, Ilmu Alamiah Dasar, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 162-163.

[16] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), 249.

[17] M. Amien Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan, (Bandung: Mizan, 1998), 153.

[18] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban; Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusian, dan Kemodernan, (Jakarta: Paramadina, 2000), 530.

[19] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Total Grafika, 2003), 231.

[20] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban; Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusian, dan Kemodernan, (Jakarta: Paramadina, 2000), 534-535.

[21] Anthony Giddens, Runaway World; How Globalisation is Reshaping Our Lives, (London: Profile Books, 1999) Diterjemahkan Oleh: Andry Kristiawan S. dan Yustina Koen S. Dengan Judul: Runaway World; Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, (Jakarta: Gramedia, 2001), 45-47.

[22] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban; Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusian, dan Kemodernan, (Jakarta: Paramadina, 2000), 532-533.

[23] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Total Grafika, 2003), 252.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib Diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

126 thoughts on “Sumbangsih Ilmu Pengetahuan Terhadap Perkembangan Masyarakat