Klarifikasi Perihal Isu Vaksin Polio Berbahan Babi 9


Klarifikasi Perihal Vaksin Polio Yang “Katanya” Mengandung Bahan Babi

Akhir-akhir ini beredar foto yang menyebar secara viral melalui sosial media yang menyebutkan bahwa terdapat vaksin polio yang berbahan Babi. Anehnya, foto tersebut beredar menjelang Pekan Imunisasi Nasional 2016. Isu yang diangkat-pun tidak tanggung-tanggung, yakni dengan isu bahan babi yang secara keagamaan merupakan salah satu hal yang haram dikonsumsi dan merupakan Najis Besar (mughalladhah) dalam agama Islam.

Benarkah isu tersebut? Jawabannya adalah TIDAK BENAR. Klarifikasinya kami salin sebagaimana di bawah. Yang perlu dianalisa adalah, apa yang melatarbelakangi beredarnya isu tersebut?

Sependek pembacaan penulis, setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi alasan penyebaran isu tersebut. Pertama, upaya untuk menggagalkan atau setidaknya menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah. Sebagaimana kita ketahui bahwa pasca pilpres 2014, kondisi perpolitikan bangsa dipenuhi berbagai gonjang-ganjing. Kelompok yang fanatik tethadap tim yang gagal dalam kontestasi tersebut akan berupaya sedemikian rupa mewujudkan citra negatif dari kelompok yang menang. Boleh jadi isu vaksin polio berbahan babi tersebut sengaja dibuat oleh para fanatis tersebut, lalu disebarkan secara viral, khususnya melalui jejaring masyarakat yang seideologi politik dengannya. Capaian yang diinginkan adalah agar masyarakat antipati dengan program pemerintah, khususnya program Pekan Imunisasi Nasional, 8-15 Maret 2016.

Kedua, upaya untuk menunjukkan bahwa sedang terjadi desakralisasi agama yang dikomandoi oleh non muslim, sehingga tidak terdapat jaminan bahwa makanan yg kita konsumsi tidak dapat dijamin kehalalannya. Hal tersebut tentu tidak benar, karena setiap makanan yang diedarkan secara luas dan terdapat stempel halal tentu terlebih dahulu melalui uji sertifikasi kehalalan MUI. Jika terdapat stempel halal MUI namun ditengarai mengandung bahan babi, maka tentu ada yang tidak wajar, apakah MUI yang salah dalam memberikan label halal, ataukah pihak produsen yang curang dengan memberi campuran bahan babi setelah menerima label halal, atau tukang edit foto yang lalai. Ketiga, adalah penggabunganalasan pertama dan kedua, dimana kebencian terhadap kelompok politik tertentu ditambahi dengan bumbu sensitifitas agama. Karena muatannya politik maka masyarakat yang tidak sejalan dg pemerintah akan dengan senang hati menyebarkan info tersebut dg maksud membuka apa yang selama ini mereka sebut sebagai kebobrokan.

Sebagaimana isu palsu yang lain, isu inipun sangat mudah menyebar, apalagi melalui tangan masyarakat yang kurang aktif untuk melakukan klarifikasi atas sebuah berita yang tersebar, atau tabayyun. Tidak salah ada meme yang berbunyi, HOAX itu dibuat oleh orang IRI, disebar oleh orang DENGKI, dipercaya oleh orang IDIOT.

÷÷÷===÷÷÷
Salinan klarifikasi perihal isu vaksin polio berbahan babi.

http://sehatnegeriku.com/14361-2/

Vaksin Polio Pekan Imunisasi Nasional 2016 Tanpa Bahan Bersumber Babi

Terkait beredarnya gambar bungkus vaksin polio yang bertuliskan “pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi” di media sosial, perlu kami sampaikan klarifikasi sebagai berikut:

1. Bungkus vaksin polio yang beredar di medsos dengan tulisan “pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi” adalah vaksin polio suntik. Sedangkan yang digunakan pada Pekan Imunisasi Nasional 2016 adalah Vaksin Tetes.

2. PIN Polio 2016 menggunakan vaksin dengan bungkus bertuliskan “Oral Polio Vaccine” produksi Biofarma. Tidak ada tulisan apapun terkait bahan bersumber babi.

3. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendukung program imunisasi di Indonesia, termasuk PIN Polio 2016 sebagaimana tercantum dalam fatwa MUI Nomer 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang ditetapkan pada 23 Januari 2016.

4. Pemerintah menghimbau kepada masyarakat Indonesia agar membawa anak-anaknya usia 0 sd 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8-15 Maret 2016. PIN Polio 2016 bertujuan mencegah anak-anak Indonesia tertular virus Polio. Dengan imunisasi polio masyarakat akan mendapatkan kekebalan yang tinggi sehingga dapat mempertahankan status Indonesia Bebas Polio.

Jakarta, 5 Maret 2016
Kepala Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat Kemenkes
OSCAR PRIMADI

Leave a comment