Unsur-Unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa 16


Motivasi belajar ada dalam diri siswa. Dalam kerangka pendidikan formal, motivasi belajar tersebut adal dalam jaringan rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar, pelaksanaan belajar-mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar. Sebaliknya jika dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar semakin meningkat pada tercapainya hasil belajar. Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis kematangan psikologis siswa.
Dimyati dan Mudjiono (2002:97-100) berpendapat bahwa terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa, hal-hal tersebut ialah sebagai berikut :
1. Cita-cita atau aspirasi siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan, makan makanan yang lezat, berebut permainan, dapat membaca, dapat menyanyi, dan selanjutnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan di kemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangan keperibadian.
2. Kemampuan siswa
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemapuan atau kecakapan mencapainya. Keinginan membaca perlu dibarengi dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan bunyi huruf. Dengan kemampuan tersebut anak tersebut akan dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangannya.
3. Kondisi siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar belajar. Sebaliknya, jika seorang siswa yang sehat, kenyang dan gembira akan mudah memusatkan perhatian.
4. Kondisi lingkungan siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar.
5. Unsur-unsur dinamis dan belajar dan pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan fikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya siswa yang berupa surat kabar, majalah, radio, televisi dan film semakin menjangkau siswa. Kesemua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar.
6. Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Upaya guru membelajarkan siswanya terjadi di sekolah dan di luar sekolah. Upaya pembelajaran di sekolah meliputi hal-hal berikut: (i) menyelenggarakan tertib belajar di sekolah, (ii) membina disiplin belajar dalam tiap kesempatan, (iii) membina belajar tertib pergaulan, dan (iv) membina belajar tertib lingkungan sekolah.
Upaya pembelajaran guru di sekolah tidak terlepas dari kegiatan luar sekolah. Pusat pendidikan luar sekolah yang terpenting adalah keluarga, lembaga agama, pramuka dan pusat pendidikan pemuda yang lain.
Jamaludin (2001:36-52) menyebutkan beberapa faktor yang dapat memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar siswa yaitu:
1. Guru
Guru merupakan elemen terpenting dalam sebuah sistem pendidikan. Ia merupakan ujung tombak. Proses belajar siswa sangat dipengaruhi oleh bagaimana siswa memandang performance guru mereka (Halsall, 1973). Keperibadian guru seperti memberi perhatian, hangat dan suportif (memberi semangat), diyakini bisa memberi motivasi yang pada gilirannya meningkatkan prestasi siswa.
2. Harapan yang tinggi
Seseorang akan sukses jika ia merasa yakin bahwa ia akan sukses, demikian juga ia akan mengalami kegagalan jika ia menyangka bahwa ia akan gagal. Dalam proses belajar, Tomlinson (1999) dalam studinya yang mendalam menunjukkan bahwa keyakinan atau harapan sangat membantu siswa berkembang bahkan melampaui apa yang biasa mereka capai.
Harapan atau keyakinan tidak harus datang dari diri sendiri tapi juga dari orang lain; dari harapan-harapan, doa-doa dan keyakinan orang lain baik orang tua, teman, guru atau siapa saja.
3. Peer-group
Respon siswa terhadap sekolah juga memiliki hubungan dngan status keanggotaan siswa dalam kelompok mereka (peer group) (Wentzel 1999a). Hubungan yang baik dengan sesama teman akan mempengaruhi performance akademik dan kejiwaan siswa, melalui stimulasi dan kondisi belajar yang inklusif yang mendorong siswa untuk bisa berkonsentrasi dan memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan.
4. Kesehatan dan kondisi fisik sekolah
Kesehatan sekolah terdiri dari aspek psikis dan fisik. Aspek psikis berkenaan dengan hubungan-hubungan interpersonal yang hangat dan positif dalam komunitas sekolah, belajar secara bersamaan (cooperatif learning), kesempatan yang sama dan cara mengajar yang humanis.
Aspek fisik menyangkut nutrisi yang baik dan olah raga yang teratur yang bisa maningkatkan kebugaran tubuh dan fungsi kognitif yang pada gilirannya akan memberikan siswa motivasi untuk belajar sehingga akan dapat meningkatkan performance akademik siswa..
5. Keterlibatan orang tua
Peran orang tua dalam pembentukan motivasi dan penguasaan diri (self-regulatory) anak sejak dini memebrikan modal-modal dasar bagi kesuksesan anak di sekolah. Argumentasinya adalah bahwa kualitas hubungan orang tua-anak membentuk sikap otonom yang sehat, kompetensi dan hubungan (releatedness) dengan lingkungan sekitar pada diri anak.

Beberapa peneliti lain menemukan tersedianya fasilitas belajar mengajar, bangunan sekolah yang mamadai merupakan faktor lain yang mempengaruhi motivasi belajar siswa

Leave a comment