Belajar Tanggungjawab, Bukan Cari Kambinghitam 5


 

Setidaknya, ada tiga kasus terjadi belakangan ini yg menunjukkan hilangnya rasa tanggungjawab dari masyarakat dan lebih memilih untuk mencari kambinghitam.

Ketika para ilmuwan ditanya soal maraknya perkosaan, siapa yg salah? Bajunya. Solusi, pakai baju tertutup.

Saat para cendekiawan menyatakan akses porno meningkat, siapa yg salah? Medianya. Solusi, blokir gugel dan yutub.

Sekarang, orang2 banyak yg tidak puasa. Jika bertanya tentang siapa yg salah? Ada saja yg mnyalahkan warungnya. Solusi, razia oleh Pol PePe.

Selalu ada kambinghitam untuk menutupi keengganan dan ketidakmampuan melakukan pembenahan moral manusia, baik moral diri sendiri maupun moral lingkungan. Alih-alih mengakui keterbatasan kemampuan untuk merevolusi mental diri pribadi dan masyarakat serta merumuskan strategi jitu untuk perbaikan moral, banyak yang memilih menyalahkan pihak lain sebagai kambinghitam.

÷=#=÷
Saat ada anak kecil yang berlarian kemudian jatuh, orangtuanya mendatangi sembari berkata “wah, ada kodok ya, huh dasar kodok nakal,,” padahal jelas2 si anak terjatuh karena terlalu semangat berlari dan kurang hati2, dan tidak ada satupun kodok yang melintas.

Di sini, orang tua telah membiasakan mencari kambinghitam atas jatuhnya sang buah hati. Bahkan, tak jarang kambinghitamnya tidak ada alias mengada-ada. Kebiasaan ini kemudian menjadi karakter si anak, dimana ia akan terus terbiasa mencari kambinghitam atas kegagalannya, bahkan ia siap mengkambinghitamkan sesuatu yang tidak ada (mirip kisah mantan jendral yang mengkambinghitamkan sesuatu yg tidak ada utk menyalurkan nafsu politiknya).

Mari belajar bertanggungjawab, dan tidak gampang mencari kambinghitam atas ketidak mampuan diri kita.

Leave a comment