Buruk Muka, Cermin Dibelah. Filosofi ICMI dalam kasus Blokir Google & Youtube 5


Blokir GUGEL dan YUTUB, katanya. Diketik lewat hape ANDROID, yang biasanya dipakai kirim pesan lewat GMAIL, chattingan pake TALK, kenalan lewat GOOGLE+, dan nyari alamat pakai GMAPS.

Lagi2, sama seperti kasus perkosaan yg terjadi beberapa saat lalu, selalu ada yang dijadikan kambinghitam. Kali ini, yg harus diblokir adalah medianya. Hmm, bukankah sudah menjadi rahasia umum jika media itu punya dua sisi bagai uang koin, satu sisi berupa dampak negatif, sisi lain adalah dampak negatif?

Jika yang disalahkan adalh medianya, maka alih-alih dapat menghilangkan sisi negatif, yang ada adalah orang yang bermaksud mencari sisi positif-pun terkena dampaknya, yakni tidak dapat mengakses media tersebut. Lagipula, jika memang bermaksud menutup media yg bisa menjadi jalan menuju pornografi, maka tentu bukan hanya Google dan Youtube. Bahkan, youtube telah menerapkan sistem penyaringan yg cukup ketat sehingga kontennya tidak terlalu “panas”. Facebook juga menjadi sarana yg cukup efektif dlm penyebaran konten pono. Banyak group dan page dewasa dg mudah dapat anda like hanya dalam sekali klik. Twitter malah lebih dahsyat, banyak aktris porno punya akun resmi di twitter dan akun tsb adalah akun resmi. Bahkan, konten dewasa di twitter seperti nyaris tanpa penyaringan.

Atau kalaupun masih memaksakan kehendak menutup Google dan Youtube, maka saat ini bertebaran trik untuk membuka blokir tersebut, baik menggunakan addons, vpn, dan lain sebagainya. Intinya, pemblokiran kedua situs tersebut bukan menjadi solusi yang cemerlang khas bagaimana selayaknya seorang cendekiawan. Lantas, mengapa yang dijadikan sasaran tembak adalah Google dan Youtube?

Kemungkinan pertama, karena pelakunya adalah cendekiawan lapuk yg hanya mengenal perkembangan internet pada masanya. Google dan seluruh layanan yg terikat dengannya telah memiliki nama sejak bertahun-tahun silam, dan mereka mengenalnya ya hanya itu. Mereka tidak membaca bagaimana perkembangan teknologi dari google, bahkan perusahaan apa saja yang telah diakuisisi olehnya.

Kedua, sedikit agak politis, ini adalah dalam rangka mencegah mengudaranya Google Balon untuk memudahkan akses internet di Indonesia. Beberapa bulan yang lalu terdengar kabar bahwa Pemerintah bekerjasama dg Google akan menerbangkan balon internet dalam rangka mencerdaskan kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai penjuru. Barangkali opsi blokir Goigle dan Youtube tersebut secara politis hendak men-counter wacana yg dihembuskan oleh pemerintah. Bukankah perilaku semacam ini sudah biasa dihembuskan pasca pilpres 2014?

Haruslah diakui secara gentle bahwa pengakses konten negatif itu tak berkepribadian, bejat moral, rusak akhlak, dan sebagainya. Lalu tugas para cendekiawan merencanakan strategi jitu bagaimana merekonstruksi pemikiran masyarakat agar akhlaknya lebih tertata, lebih bermoral, dan sebagainya. Ini yang barangkali tepat diistilahkan dg revolusi mental. Hal ini tentu lebih menunjukkan ke-cendekiawan-an daripada mengambinghitamkan media.

Pada arus bawah, masyarakat-pun menanggapi dengan aneka macam. Ada yang melawan karena merasakan dampak positif dari situs yg hendak diblokir tersebut, ada pula yang mengamini apa yang dikata oleh para cwndekiawan tersebut. Biasanya mereka mengamini karena terplhipnotis dengan label cendekiawan, dilengkapi dengan imbuhan Islam. Gabungan dua kata yg menunjukkan kekuatan akademik dan transendental tersebut telah memukau banyak orang hingga apapun yang mereka kata, halah diiyain aja deh.

Lagi-lagi, salahkan manusianya, bukan korbannya, bukan alatnya, bukan medianya. Jika tidak mau secara gentle menyatakan perlu adanya rekonstruksi akhlak dan revolusi mental, maka perlu dipertanyakan ke-cendekiawan-annya, bisa jadi bukan cendekiawan yang mereka maksudkan namun cendawan. Bahkan, jika terus menerus mencari kambing hitam, maka barangkali kelompok itu sudah alih nama, menjadi Ikatan Cocoklogi Maksa Ih..

Salam.

Credit gambar
Nophie Kurniawati
Aldi Bhumi

Nb.
* katanya skrg ada search engine yg berlabel halal (halalgoogling). Sayangnya, saat mengetikkan “enny arrow” serta “mia khalifa” masih menampilkan hasil yg ternyata tak jauh beda dg yg tidak berlabel halal.

** beberapa pekan lalu beredar catatan internet yg berbunyi “semakin kecanduan porno, semakin relijiuslah ia”. Ya, kalau dia bisa tobat sih.

Leave a comment