Resensi ; Ibn Rushd, 7 Perdebatan Utama Teologi Islam 32


TUGAS INDIVIDU

RESUME & RESENSI BUKU

 

Nama    : M.Hafizh Dzulqarnain

NIM        : 20151553051

Prodi / Semester    : Perbankan Syariah / 2

Mata Kuliah    : Ilmu Kalam

 

  1. Identitas Buku

Judul buku    : Ibnu Rusyd, 7 Perdebatan utama Teologi Islam

Penulis    : Afrizal M.

Penerjemah (jika ada)    : –

Penerbit     : Erlangga

Tahun Terbit     : 2006

Tebal Halaman     : 174

Cetakan Ke     :

Cover Buku     :
7 rushd

  • Biografi Penulis

Afrizal M lahir di Tanjung Pauh Koto nan Empat Payakumbuh pada 15 Oktober 1959. Setelah lulus dari Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Kotopanjang Lampasi pada tahun 1979, dia menlanjutkan studinya di Fakultas Ushuluddin jurusan Akidah Filsafat IAIN Padang dan meraih gelar sarjana pada tahun 1986. Kemudian dia melanjutkan studinya di Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN) dan meraih gelar Magister pada tahun 1993 dan gelar Doktor pada tahun 1998. Saat ini dia berkhidmat sebagai dosen tetap pada Fakultas Ushuluddin UIN Sulthan Syarif Kasim Riau.

 

  • Resume Buku
  • Bab I Pendahuluan

Aqidah bagi setiap muslim merupakan salah satu aspek ajaran islam yang wajib diyakini. Dalam al-quran, aqidah disebut al-iman (percaya) yang sering digandengkan dengan al-‘amal al-shalih (perbuatan baik). Dalam kedua unsur tersebut menggambarkan suatu itegritas dalam ajaran islam.

Dasar-dasar aqidah islam telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW melalui pewahyuan al-quran dan kumpulan sabdanya untuk umat manusia. Generasi muslim awal binaan Nabi Muhammad SAW telah meyakini dan menghayati aqidah ini meski belum diformulasikan sebagai suatu ilmu lantaran rumusan tersebut belum diperlukan.

Pada periode selanjutnya, persoalan aqidah secara ilmiah dirumuskan oleh sarjana muslim yang dikenal dengan nama mutakallimin. Hasil rumusan mutakallimin disebut ilmu kalam. Ilmu kalam diartikan pembahasan tentang kalam Tuhan yaitu al-quran.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa pembahasan ilmu kalam adalah untuk mempertahankan aqidah. Pendekatan ilmu kalam berawal dari keyakinan bahwa al-quran sudah diyakini kebenarannya terlebih dahulu.

Pembahasan ilmu kalam bertujuan membantu memperoleh dan mempertahankan keyakinan. Ilmu kalam dan filsafat islam tidak bisa dibedakan karena keduanya mengandung unsur filosofis.

Mutakallimin mengkaji persoalan kalam dengan mendahulukan nash, sedangkan filsuf membahasnya tanpa melalui nash. Mutakallimin juga berpendapat bahwa akal mestinya berjalan dibelakang nash, namun filsuf berpendapat bahwa akal mampu berjalan sendiri tanpa harus merujuk kepada nash tetapi bukan berarti mengabaikan nash. Para filsuf merujuk kepada nash untuk menilai kebenaran pendapat mereka.

Tiga corak aliran kalam yang utama yaitu aliran rasional, tradisional dan rasionalis tradisional.

Mazhab kalm rasional diwakili oleh mu’tazilah. Dalam menjelaskan berbagai persoalan aqidah islam dengan pendekatan filsafat yang bersumber dari filsafat Yunani yang melalui proses penerjemahan buku filsafat. Menurut mu’tazilah akal memiliki kedudukan tinggi bagi manusia karena tingginya kedudukan akal itu dan akal mampu mengenal Tuhan.

Mu’tazilah membawa kepercayaan yang tinggi kepada fungsi akal itu ke tanah teologi islam. Maksudnya mu’tazilah banyak memakai akal dalam merumuskan keyakinan teologisnya dan karena itu mereka menjadi rasionalis tetapi tidak mengabaikan wahyu. Teologi rasional adalah keyakinan bahwa akal mempunyai kemampuan yang kuat untuk mengetahui empat unsur yang telah disebutkan.

Lawan teologi rasionalis adalah teologi tradisional. Menurut aliran kalam tradisional akal hanya mampu mengenal buku keberadaan Tuhan.

 

  • Bab 2 Ibn Rusyd dan Ilmu Kalam

Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordoba pada 520 H / 1126 M. Dia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang memiliki tradisi dan peran intelektual yang besar serta mempunyai keahlian yang diakui dan disegani dikalangan praktisi hukum.

Latar belakang keluarganya itu membawa pengaruh yang tidak sedikit bagi Ibn Rusyd sendiri. Sebagai keluarga ilmuwan, dia mempunyai semangat besar untuk menuntut ilmu di berbagai bidang. Dengan semangat dan kecerdasannnya dia berhasil menguasai berbagai bidang ilmu.

Ilmu pengetahuan yang dia kuasai antara lain tafsir al-quran, hadits, fiqih, bahasa dan sastra arab. Dia pernah merevisi bukh al-muwathihd karya Imam Malik yang dipelajari dan dihafalnya bersama ayahnya Abu al-Qatim. Tetapi dia tidak merasa puas dengan ilmu fiqih, dia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan. Ibn Rusyd cukup menguasai ilmu kalam namun dia tidak mengikuti salah satu aliran kalam justu dia menulis Manahij al-adillah fi ‘aqa’id al-millah yang menguraikan pemikirannya di bidang kalam.

Didalam sejarah islam, mazhab kalam tidak lahir bersamaan dengan kemunculan islam, tetapi lahir jauh sesudahnya dan setelah melalui proses sejarah yang panjang. Pada masa Rasulullah saw, kaum muslim tidak mengalami masalah berat, khususnya di bidang aqidah karena setiap masalah yang muncul dapat dirujuk kepada Nabi Muhammad saw.

Setelah Rasulullah saw wafat pada 632 M, kaum muslim mulai menghadapi berbagai masalah, khususnya masalah suksesi. Siapakah pengganti rasul yang akan memimpin umat yang baru lahir ini. Dengan demikian timbul persoalan khilafah yang kemudian berkembang menjadi persoalan agama. Setelah itu lahirlah berbagai mazhub kalam dengan latar belakang yang berbeda.

Khawarij, kata khawarij adalah orang-orang yang keluar. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa setiap orang yang memisahkan diri dari pimpinannya disebut khawarij. Tetapi yang dimaksudkan disini memisahkan diri dari kelompok Ali ibn Abi al-Thalib sesudah terjadinya tahkim pada waktu perang Siffin. Dalam perkembangannya, aliran ini terpecah menjadi beberapa sekte. Setiap sekte hampir sepakat mengatakan bahwa orang yang berbeda pendapat dengan mereka adalah kafir. Sekte-sekte khawarij yaitu al-Muhakkimah, al-Azariqah, al-Najdah dan al-Ajaridah.

Murjiah, yaitu aliran yang mengemudiankan amal dari iman dan ada juga yang menunda persoalan dosa itu sampai hari kiamat. Bisa juga murjiah berarti suatu mazhab kalam yang mengharapkan agar dosa-dosa itu diampuni dan ditukar oleh Tuhan dengan kebaikan. Di dalam murjiah menganggap tetap mukmin dan pembalasan dosa besar mereka ditunda dan diserahkan kepada Tuhan pada hari kiamat kelak. Argumen yang mereka kemukakan adalah orang yang berbuat dosa besar masih tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasulNya. Orang seperti ini tetap mengucapkan syahadat sebagai dasar keimanan.

Jabbariyah, yaitu berkewajiban dalam pekerjaan. Bila dilihat kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan orang tidak mempunyai wewenang apa-apa. Dia berbuat hanya mengikuti perintah Tuhan. Inilah yang disebut sikap jabr (pasrah). Pemikiran dalam jabbariyah mengatakan bahwa manusia tidak menciptakan perbuatannya. Perbuatan itu hanya ada pada Allah. Manusia tidak mempunyai perbuatan karena dia tidak mempunyai kemampuan berbuat.

Qadariyyah, yaitu berkuasa. Maksud dari berkuasa yaitu mempunyai kekuasaan (qudrah). Tuhan disebut Qadir karena Dia mempunyai qudrah yang sangat besar dan dahsyat. Manusia bisa berbuat karena dalam dirinya juga terdapat qudrah.

Mu’tazilah, yaitu menjauhkan atau memisahkan diri dari sesuatu. Pemikiran mu’tazilah yaitu mengenai al-shalah wa ashlah. Tuhan yang Maha bijaksana mesti berbuat karena hikmah, oleh karena itu semua perbuatanNya selalu mengandung manfaat bagi manusia. Oleh sebab itu Tuhan selalu mewujudkan hal yang baik bahkan yang terbaik bagi manusia.

Asy’ariyyah, muncul sebagai reaksi terhadap aliran mu’tazilah.

Maruridiyyah, muncul sebagai reaksi terhadap pemikiran mu’tazilah. Menurutnya akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui baik dan buruk serta mengetahui wajibnya berbuat baik dan meninggalkan yang buruk hanya diketahui dengan wahyu.

Ranah kajian ilmu kalam yang termasuk dalam masalah kalam adalah segala persoalan yang berkaitan dengan aqidah yang diperdebatkan oleh mutakallimun. Pada bagian ini, setiap persoalan itu tidaklah mungkin dapat dijelaskan secara menyeluruh. Oleh sebab itu, penulis hanya akan mengemukakan beberapa persoalan yang dianggap penting dan sering dibicarakan oleh mutakallimin yaitu akal dan wahyu, iman dan kufur, sifat-sifat Tuhan, perbuatan Allah dan perbuatan manusia, keadilan Tuhan.

 

  • Bab 3 Pemikiran Kalam Ibn Rusyd

Sebelum menguraikan metode pembahasan kalam versi Ibn Rusyd terlebih dahulu penulis memberikan penegasan pendapat mutakallimin bahwa dasar-dasar aqidah itu sudah ada dalam nash. Oleh sebab itu mutakallimin terlebih dahulu merujuk kepada nash kemudian memahami dan memikirkannya.

Terkait dengan pemikiran kalam Ibn Rusyd, pembicaraan tentang metode disini tidak akan keluar dari lingkup ilmu kalam. Pertama, metode filosofis oleh para filsuf. Kedua, metode yang dipakai mu’tazilah. Ketiga, metode yang dipakai oleh maruridiyyah.

Kemudian penulis membicarakan beberapa materi kalam yang disinggung Ibn Rusyd, argumentasinya dan solusi yang disodorkan. Dari materi itu diketahui bagaimana sejatinya pemikiran kalam Ibn Rusyd. Beberapa masalah pokok kalam yang dianggap penting antara lain wujud Allah, keesaan Allah, sifat-sifat Allah, perbuatan Allah dan perbuatan manusia, keadilan Tuhan, hari kiamat, Rasul dan wahyu

 

  • Bab 4 Kesimpulan

Sebagaimana dijumpai dalam karya-karya dibidang kalam, mutakallimin banyak memulai pembahasan kalam dengan mengemukakan pikirannya sendiri. Selanjutnya, mereka menaruh komentar atas pendapat mazhab lain. Namun, Ibn Rusyd tidak mengikuti cara itu. Sebaliknya, dia mulai dengan melakukan kritik atas pemikiran orang lain. Kesesuaian pemikirannya dengan mutakallimin sudah melalui pembahasan yang mendalam. Hal itu menunjukkan bahwa Ibn Rusyd adalah seseorang pemikir yang kritis dan independen. Alasan Ibn Rusyd menggunakan metode kritik yaitu karena dia bermaksud secara mendasar mengungkapkan sejauh mana kebenaran, ketepatan, kelemahan dan kekurangan pemikiran mutakallimin dalam membahas berbagai persoalan kalam. Kemudian, dia mencari jalan keluar dan kekurangan yang ditemukan.

 

  • Resensi Buku

Dalam buku ini, penulis menyampaikan gagasannya secara baik dan teratur. Akan tetapi, dalam buku ini penggunaan beberapa tulisan di dalam buku ini ada yang menggunakan kalimat tidak baku atau tidak pas dalam kalimatnya.

 

  • Catatan Kaki

Lihat Al-quran, Surat Al-Qiyamah : 23

Ibn Rusyd, op. Cit., h. 81

Ibid., h.149

Ibn Rusyd, Manahij, h. 23. Qasim, Ibn Rusyd, h. 93

Ibid, h, 24

Ibid

Qasim, Ibn Rusyd, h. 83

Ibid, h. 87

Ibid

Ibn Rusyd, Manahij, h. 87

Al-‘Iraqi, Manhaj, h. 206

Ibn Sina, Al-Najah fi Al-Hikmah Al-Manthiqiyyah, (Kairo : Musthafa Al-Babi Al-Halabi, 1938), h.224-225

Al-‘Iraqi, Manhaj, h. 215

Ibid,. h. 209. Ibn Rusyd, Manahij, h. 23 & 144

Ernest Renan, Ibn Rusyd wa Al-Rusydiyyah. Terjemahan ke bahasa Arab oleh ‘Adil Zu’aytir, (Kairo : Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1957), h. 127

Kritik Ibn Rusyd terhadap Ibn Sina yang agak tajam adalahtentang teori emanasi, bahwa yang muncul dari pembuat pertama hanyalah satu. MenurutIbn Rusyd pemikiran ini kurang tepat karena bisa menimbulkan arti bahwa alam ciptaan yang pertama (akal pertama) lebih kuasa dari Tuhan, sebab dari akal pertama itu yang keluar dari satu. Al-‘Iraqi, Manhaj, h.220

 

  • Daftar Pustaka

Afrizal M. 2006. Ibn Rusyd : 7 Perdebatan Utama dalam Teologi Islam. Erlangga

Leave a comment