Resensi ; Pemikiran Kalam (Teologi Islam), Sejarah, Ajaran dan Perkembangannya 40


Nama                           : Linda Eka Supratiwi

NIM                            : 20151553042

Prodi/semester             : Perbankan Syari’ah/ semester 2

Mata Kuliah                : Ilmu Kalam

 

  1. Identitas Buku

Judul Buku                  : Pemikiran Kalam ( Teologi Islam )

Sejarah, Ajaran. dan Perkembangannya

Penulis                         : Prof. Dr. K.H. Sahilun A. Nasir, M.Pd.I

Penerjemah                  : –

Penerbit                       : PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Tahun Terbit                : Oktober, 2010

Tebal Halaman            : 23 cm, 346 halaman

Cetakan Ke                 : Cetakan Ke-1

Desain Cover Buku     : Reka Studio Grafis

Cover Buku                 :

 

 

 

 

teologi

 

  1. Biografi Penulis

Prof. Dr. K.H. Sahilun A. Nasir, M.Pd.I lahir di Mejobo Waten Kudus, pada tanggal 12 Februari 1941. Pada 1954 ia menamatkan sekolah rakyat dan Madrasah Ibtidaiyah, di Mejobo Kudus. Pada 1959 tamat dari Madrasah Mu’alliman NU dan pondok Pesantren Raudhatut Tholibin Bendan, Kudus, asuhan K.H.R Asnawi. Selanjutnya ia melanjutkan ke sekolah persiapan Institut Agama Islam Negeri IAIN Yogyakarta, lulus tahun 1961. Lulus dari sana ia melanjutkan ke Fakultas ushuludin, Jurusan Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berhasil menyelesaikannya pada 1967. Terdaftar sebagai peserta Program Latihan penelitian Agama (PLPA Angkatan II) di Jakarta (1977-1978), selama satu semester. Penataran dosen-dosen senior pada Universitas jember diselesaikan dari 1995 hingga 1996, selama dua semester. Setelah mengikuti begitu banyak pendidikan dan pelatihan, ia melanjutkan S2 PPss Universitas islam Malang. Lulus pada ttahun 2002 dengan lulus Summa Cumlaude. Pada tahun 2008 judul disertsi : Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi ( Studi pemikiran kalam Seorang Ulama Perintis ), dengann lulus yudisial sangat memuaskan.

  • Orang tua : Sokram Surowardoyo al. H. Abd. Salam (w.1979), Suratmi, al.Hj.Umii Salamah (W.1954), Sukijah, ibu sambung, al. Hj. Khodijah (w.2006)
  • Istri : Hj, Liliek Istiqomah, S.H,M.H., Dosen Fakultas hukum Universitas jember
  • Anak, Menantu, dan Cucu : Achmad Faiz Sahly, S.Pr , Dyah Praptiwi S.Psy dan Afidah Faizatuz Zahro’. Yulia farichah Sahly,S.P. + Arief Dz. Karnain, S.P.MBA., Almira Naqiyah Arfa dan Achmad Andhmi Arfa. Achmad Fariz Sahly, S.TP.

  Berbagai jabatan pernah diamanahkan kepadanya antara lain :

  1. Wakil Dekan II pada Fakultas Tarbiyah Jember IAIN Sunan Ampel dari 1971 – 1973
  2. Dekan Fakultas Tarbiyah Jember IAIN Sunan Ampel dari 1984 – 1991
  3. Ketua Jurusan Dakwah pada STAIN Jember ( 1997 – 2004 )
  4. Ketua Remaja Masjid Indonesia ( 1979 – 1985 ) dan Ketua dewan Masjid Indonesia ( 1988 – 1997 ) serta Keua Forum kerukunan Umat Beragama ( 2006 – Sekarang )
  5. Dosen pada beberapa perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di wilayah Ex Karesidenan Besuki.
  6. Jabatan Guru Besar ( Prof. ) berdasarkan SK. Menteri Pendidikan nasional No.58165/A4.5/KP/2009, tertanggal 1 Juni 2009

Menulis beberapa buku diterbitkan  : Karya Anda, Bina Ilmu (Surabaya), Garuda Nusantara (Pasuruan), Al-Ma’arif (Bandung), Nur Cahya (Yogyakarta), Kalam Mulia Raja grafindo persada (Jakarta) dan beberapa artikel di berbagai jurnal lokal, nasional dan internasional. Beliau wafat pada tanggal 20 Januari 2011pada waktu siang hari pukul 12.00 wib.

 

  1. Resume Buku

 

 

  1. BAB I

Pengertian Ilmu Kalam dan Masalahnya

  • Pengertian

Menurut Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905) Ilmu Tauhid yang juga disebut IlmuKalam, memberikan ta’rif sebagai berikut[1] , yang artinya :

“ Tauhid ialah ilmu yang membahas tentang wujud Allah sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz disifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali yang wajib ditiadakan (mustahil) daripdanya. Juga membahas tentang Rasul-Rasul Allah untuk menetapkan kebeneran risalahnya, apa yang wajib pada diri mereka, hal-hal yang jaiz dihubungkan (dinisbatkan) pada diri mereka dan hal-hal yang terlarang (mustahil) menghubungkannya kepada diri mereka”

Penamaan Ilmu Kalam disebabkan oleh : Peersoalan yang terpenting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan hijriyah ialah apakah kalam Allah (al-Qur’an) itu Qadim atau Hadits. Karena itu keseluruhan Ilmu Kalam ini dinamai salah satu bagiannya yang terpenting. Dan juga karena dasar Ilmu Kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil pikiran ini tampak jelas dalam pembicaraan dan mutakallimin. Mereka jarang mempergunakan dalil naqli ( Al-Qur’an dan Hadits), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan terlebih dahulu berdasarkan dalil-dalil pikiran.

  • Masalah Bahasannya

Al-Qur’an sebagai kitab suci menggariskan ajaran-ajarannnya di atas jalan yang terang., yang belum pernah dilalui oleh kita-kitab suci sbelumnya. Yaitu jalan yang memungkinkan orang di zaman ia diturunkan dan orang yang akan datang kemudian untuk melaluinya. Al-Qur’an  tidak cukup untuk membuktikan kenabian Muhammad Saw. dengan hanya memakai dalil yang telah dikemukakan olehpara Nabi sebelumnya. Tetapi ia mengemukakan dalil dan bukti kenabian Nabi Muhammad Saw. dengan turunya kitab suci Al-Qur’an  itu sendiri kepada beliau. Suatu kitab yang sangat indah bahsanya yang tidak memungkinkan para ahli sastra mencontoh dan menandingi suratnya walaupun yang paling pendek.

Disamping Al-Qur’an  merupakan sumber utama dari Ilmu Kalam, hadis Nabi adalah juga menjadi sumbernya. Keduanya menerangkan tentang wujud Allah SWT., sifat-sifatnya, af’al-Nya, para rasul serta sifat-siifatnya dan mmasalah-masalah keyakinan Islam lainnya. Nyatalah bahwa Islam bukan semata-mata kepercayaan iman saja dan bukan pula hanya bertugas mengatur hubungan antara manusia dengan Kahaliknya, akan tetapi Islam itu adalah kepercayaan iman dan peratura-peraturan yang mencakup segala segi hidup dan kehidupan manusia.

 

  1. BAB II

Perpecahan Umat Islam Sesudah Wafatnya Rasulullah Saw.

Hadits tentang terjadinya perpecahan Umat Islam

Sebelum Rasulullah Saw. meninggal dunia, beliau pernah bersabda bahwa umat Islam akan berpecah belah. Daan perpechan itu, akan terjafi sebanyak 73 firqoh. Di anttarra firqoh yang sekian banyak itu hanya satu golongan yang dianggap benar, dan dijamin bebas dari siksaan api neraka. Yaitu golongn “ahli sunnah wal jama’ah”. Sedang yyang 72 firqoh lainnya dimasukkan kedalam api neraka. Hadits dibawah ini menyyatakan yang artinya :

“… pada suatu hari ketika Nabi bangun dari tempat tidurnya dengan muka merah padam seraya bersabda: La ilaha illallah, celaka orang Arab ini, pada masa dekat akan timbul malapetaka yang buruk. Kemudian Nabi memberi isyarat, menggambarkan adanya perselisihan-perselisihan yang akan terjadi sesudah beliau wafat (HR Bukhari, dari Zainab Binti Jahasy).”

“ Akan tterjadi pada umatku, sebagaimana yang telah terjadi pada Bani Israil setapak demi ssetapak. Sesungguhnya Bani Israil itu telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan saja. Kemudian para sahabat bertanya: siapakah golongan itu, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: yaitu mereka yang mengikuti sunnahku dan sunnah sahabatku (HR Al-Hakim dari Ibnu Umar).

Perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam yang diterangkan dalam hadits – hadits tersebut sebanyak 73 golongan, dalam kitab Al-Farqu Baina I-Firaq oleh Syaikh Al-Bagdadi diterangkan secara rinci. Kemudian satu dari 73 golongan ialah golongan yang selamat dari siksaan api neraka, yang disebut golongan Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Jadi bilangan 73 itu, bukan menunjukkan arti bilangan sesungguhnya,tetapi betapa banyaknya perpecahan-perpecahan itu terjadi, sehingga menimbulkan golongan-golongan yang sulit dihitung satu per satunya. Contoh : Golongan golongan yang belum disebutkan di atas, antara lain golongan Ahmadiyah, Baha’iyah dan sebagaimana. Belum lagi dihitung aliran-aliran kepercayaan di Indonesia yang sebagaimana mengaitkan ajaran-ajaran dengan agama Islam.

 

  1. BAB III

Firqoh-firqoh dalam Ilmu Kalam

Disini perlu kami jelaskan terlebih dahulu perbedaan pengertian firqoh dan mahzhab.

Firqoh ialah perbedaan pendapat dalam soal-soal akidah (teologi) atau masalah-masalah ushuliyah. Dalam Islam kita kenal adanya firqoh-firqoh Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, jabariyah, Murji’ah, dan Ahlus Sunnah. Dalam kristen, misalnya Khatolik dan Protestan. Firqoh bisa diartikan sekte. Dalam pembahasan ini selanjutnya dipergunakan istilah golongan.

Sedangkan Mahzab ialah perbedaan masalah-masalah hukum atau furu’iyah. Dalam fikih kita ketahui ada empat mazhab: mazhab Hanafi (penderinya, Imam Abu Hanifah An-Nu’man Ibnu tsabit, 70-150 H), mazhab maliki (pendirinya Imam malik Ibnu Anas, 90-179 H), mahzab Syafi’i (pendirinya Abu Abdullah Muhammad Ibnu Idris Ibnu Utsman Ibnu Syafi’i, 150-204 H), mahzab Hambali (pendirinya , Ahmad Ibnu Hambal Ibnu Asy-Syaibani Al-Bagdadi, 164-241 H). Dengan perkataan lain bahwa firqoh itu mengenai masalah tauhid sedangkan mengenai fiqh.

  • Firqoh Syi’ah

Syi’ah menurut bahasa bermakna pengikut, pendukung, partai atau kelompok. Golongan syi’’ah adalah suatu golonggan dalam Islam yang mempunyai pendrian bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keturunannya itu llebih berhak menjadi khalifah daripada orang lain. Ali.ra. lebih berhak daripada Abu Bakar ra., Umar ra.,, dan ustman ra. Sebab menurut anggapan mereka, Nabi Muhammad Saw. sendiri telah menjanjikan demikian. Perbedaan yang terpenting antara golongan Syi’ah dengan golongan-golongan lainnya ialah mengenai masalah khilafah.

 

  • Firqoh Khawarij

Kaum Khawarij kadang-kadang menamakan diri mereka sebagai kaum Syurah. Artinya orang-orang “yang mengorbankan dirinya” untuk kepentingan keridhaan Allah Swt. mereka mendasarkan pada ayat:

Yang artinya:

“ dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Baqarah[2]:207).

Mereka disebut Khawarij ialah karena telah keluar dari golongan Ali.ra.. Ajaran Khawarij tentang dosa yang ada hanyalah dosa besar saja, tidak ada pembagian dosa besar dan dosa kecil. Latar belakang Khawarij menetapkan dosa itu hanya satu macamnya, yaitu dosa besar saja, agar orang Islam yang tidak sejalan dengan pendiriannya dapat diperangi dan dapat dirampas harta bendanya, dengan dalih mereka berdosa dan setiap yang berdosa kafir.

Al-Ka’bi menerangkan:[2]

“ Mengkafirkan Ali, Utsman, dua orang hakam (juru runding), orang-orang yang terlibat dalam perang Jamal dan orang-orang yang rela terhadap tahkim dan mengkafirkan orang0orang berdosa besar dan wajib berontak terhadap penguasa yang menyeleweng.”

 

  • Firqoh Qadariyah

Muncul tahun 70 H/689M,dipimpin oleh Ma’bad al-Junhi al-Basri dan Ja’ad Dirham di ke khalifahan Abdul Malik bin Marwan. Orang Qadariyah mengatakan bahwa semua perbuatan manusia yang baik berasal dari Allah Swt., sedangkan perbuatan manusia yang jelek itu manusia sendiri yang menciptakannya, tidak ada sangkut pautnya dengan Allah Swt.

 

  • Firqoh Jabariyah

Jabariyah berpendapat bahwa hanya Allah Swt. sajalah yang menentukan dan memutuskan segala amal perbuatan manusia. Semua perbuatan itu sejak semula telah diketahui Allah swt. dan semua amal perbuatan itu adalah berlaku dengan kodrat dan iradat-Nya. Manusia tidak mencmpurinya sama sekali.

Akan tetapi paham Jabariyah ini melampaui batas, sehingga mengiktikadkan bahwa tidak berdosa kalau berbuat kejahatan, karena yang berbuat itu hakikatnya Allah Swt. pula. Kesesatannya, mereka berpendapat bahwa orang itu mencuri, maka Tuhan pula yang mencuri, bila orang shalat maka Allah Swt. pula yang shalat. Jadi kalau orang berbuat buruk atau jahat lalu dimasukkan ke dalam neraka, maka Tuhan itu tidak adil. Karena yang diperbuat manusia, kebaikan atau keburukan, tidak satupun terleppas dari qodrat dan iradat-Nya.

 

Jaham bin Shofwan berpendapat mengenai firqoh jabariyah adalah:[3]

“manusia tidaak mempunyai qodrat untuk berbuat sesuatu, dan dia tidak mempunyai “kesenggupan” Dia hanya terpaksa dalam semua perbuatannya. Dia tidak  mempunyai qodrat dan ikhtiyar, melainkan Tuhanlah yang menciptakan perbuatan—perbuatan pada dirinya, seperti ciptaan-ciptaan Tuhan pada benda mati. Memang perbuatan itu dinisbatkan kepada orang tersebut, tetapi itu hanyalah nisbahh majazi, secara kiasan, sama halnya kalau kita menisbahkan sesuatu perbuatan kepada benda mati. Misalnya dikatakan: “pohon itu berbuah”, atau “air mengalir”, “batu bergerak”, “matahari terbit dan tenggelam”, dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, dan lain-laion sebagainya. Pahala dan siksa adalah paksaan, sebagaimana halnya dengan perbuatan-perbuatan” jaham berkata “Apabila paksaan itu telah tetap maka taklif adalah paksaan juga”.

 

  • Firqoh Murji’ah

Golongan ini mula-mula timbul di Damaskus, pada akhir abad pertama hijriah. Dinamakan “Murji’ah” karena golongan ini menuda atau mengembalikan tentang hukum orang mukmin yang berdosa besar dan belum bertobat sampai matinya, orang itubelum dapat dihukum sekarang. Ketentuan persoalannya ditunda atau dikembalikan kepada Allah Swt. di akhir nanti.

Al-Bagdadi menerangkan:[4]

“ Mereka dinamakan Murji’ah, karena mereka mengakhirkan amal daripada iman. Irja’ artinya mengakhirkan.”

 

  • Firqoh Mu’tazilah

Berasal dari kata i’tazala, artinya menyisihkan diri. Pendirian Mu’tazilah bahwa Al-Qur’an itu makhluk adalah berkaitan dengan pendiriannya bhawa Allah Swt. itu tidak bersifat. Hal ini berbeda denggan pendirian golongan Ahlus Sunnah bahwa Al-Qur’an itu Qadim bukan Hadits. Allah Swt. bersama siffatnya adalah qadim, tidak bermulaan adanya. Kalam Allah itu qadim diperdengarkan kepada Malaikat jibril as. Olehnya dijadikan bersuara dan berhuruf. Malaikat Jibril membawakannya kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai wahyu. Kemudian nabi Muhammad membacakannya kepada para sahabat, kemudian ditulis pada kulit-kulit binatang, pelepah kurma, tulang, batu, dan sebagainya.

 

  • Firqoh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Secara istilah bersal dari kata-kata : Ahl (Ahlum) berarti “golongan” atau “pengikut”. Al Sunnah bberarti “tabiat”, perilaku, jalan hidup, perbuatan yang mmencakup ucapan, tindakan dan ketetapan Rasulullah Saw. Wa, huruf ‘athf yang berarti “dan” atau “serta”. Al-Jama’ah berarti jama’ah, yakni jama’ah para sahabat rasul Saw. maksdunya ialah perilaku atau jalan hidup para sahabat.

Paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah paham Islam secara menyeluruh. Para ulama tidak ada yang berbeda pendapat tentang Islam dalam liingkup makro yang meliputi lingkup-lingkup aqidah, ibadah (fiqh), dan akhlaq (tasawuf). Maka dengan mengacu batasan Ahlus Sunnah Wal Jamaah secara formal di atas, ruang lingkup paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah meliputi tiga lingkup aqidah, ibadahh, dan akhlaq. Dan dalam makna yang mikro, ia hanya meliputi lingkup akidah saja.

 

 

  1. RESENSI BUKU

Ketika agama lebih dipahami dari sisi dogmatis, tekstual-formalistik, ritualistik, dan simbolik, maka ia akan mudah memicu konflik dan kekerasan, apalagi bila berbenturan dengan peradaban lain. karena itu menurut Yusuf Qardhawi, konflik bernuansa agama lebih bisa terjadi akibat ekstriminisme agama, yaitu fanatisme dan intoleransi, salah satunya antara lain akibat dari prasangka , kekuatan, dan kepicikan pandangan. Kemudian berlebih-lebihan atau melampaui batas.

 

 

Gerakan-gerakan yang dimaksud sering dikaitkan dengan banyaknya golongan-golongan dalam ppemikiran dan pemahaman Islam, seperti Khawarij, Syi’ah, Mu’azilah, Qadariyah, kemudian Ahlus Sunnah Wal Jamaah yaitu golongan yang “menengahi” berbagai perbedaan dari golongan-golongan tersebut. Ada lagi faham transnasionalisme yang sedang marak di negeri kita dibawa dari kawasan Timur tengah oleh keolmpok fundamentalisme yang merupakan “sayap kanan” dan kelompok liberlisme yang merupakan “sayap kiri”. Keduanya telah melahirkan “militansi, tetapi dengan gaya gerakan yang berbeda dari golongan-golongan sebelumnya.

Buku ini mengupas dan menjelaskan aliran-alitan pemikiran yang ada dalam Islam, yang lebih dikenal dengan firqoh, baik dari sisi sejarah, ajaran, dan perkembangannya.

Menurut saya buku ini sangat baik dan layak untuk dibaca dan dijadikan referensi untuk tugas ilmiah yang mencangkup Ilmu Kalam. Buku ini menyajikan metode yang bagus dalam penyampaiannya di dalam penulisannya. Penulis juga tidak lupa menambhakan Hadits ataupun Ayat Al-Qur’an  sebagai tambahan atau penjelas dalam materi yang bi bahas dalam buku ini.

Namun, ada kalanya saya menjumpai antara ketidakseimbangan materi dengan Hadits yang tidak ada penjelas mengenai Hadits tersebut . dan ini sedikit dapat membingungkan serta adanya kata-kata yang masih awam untuk di pahami lebih detail.  Tetapi, saya berharap kehadiran buku ini dapat memberi dan menambah wawasan dan semakin mempertajam daya analisis umat terhadap kehadiran aliran firqoh-firqoh di sekeliling-nya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Nasir. A. Sahilun. 2010. Pemikiran Kalam (Teologi Islam). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

 

[1] Syaikh Muhammad Abduh, Risalah al-tauhid, (kairo:tt), hlm. 7.

[2]Al-Bagdadi, Al-farq, hlm. 73.

[3] Asy-Syahrastani, Al-Milal, Juz I, hlm. 87.

[4] Al-Bagdadi. Al-Farq, hlm. 202

Leave a comment