Fiqh Mudik 16


 

FB_IMG_1467423504521

 

Lebaran sebentar lagi tiba. Salah satu tradisi masyarakat Indonesia saat lebaran datang adalah pulang kampung, alias Mudik. Dalam kajian linguistik, istilah Mudik berasal dari kata Udik dengan imbuhan “me” di awalnya, sehingga kata Mudik dapat diartikan Mengudik. Udik bermakna desa, kampung, lama, tradisional, atau frasa lain yang senada.

Dalam praktek mudik di negeri ini, berbagai permasalahan muncul baik dalam hal ekonomi, politik, budaya, dsb. Dalam.hal ekonomi misal tentang pemindahan aliran dana yang selama ini berputar di kota menjadi di desa, dimana warga kota membawa uangnya ke kampung untuk belanja selama mudik. Dalam hal politik misal tentang pembelajaran politik yang selama ini hanya diterima warga kota dapat ditransformasikan kepada warga desa melalui diskusi warung kopi. Secara budaya misal tentang tren fashion warga desa yang seakan mendapat inspirasi dari apa yang dipakai oleh warga kota saat mudik.

Bagaimana dengan permasalahan dalam hukum Islam? Apakah tidak ada masalah fiqh seputar mudik? Tentu ada, bahkan banyak. Sebagian besar merupakan pengembangan dari persoalan klasik yang perlu dibaca ulang menggunakan kacamata yang lebih kontemporer. Permasalahan fiqh seputar mudik antara lain :

1. Hukum _jama’ qoshr_ saat mudik jika jaraknya dekat tetapi perjalanannya macet total hingga melampaui dua waktu shalat (Dzuhr dan Ashr)

2. Hukum shalat di surau kampung yang imamnya menggunakan qunut, padahal kita tidak menggunakannya, haruskah _iftiroq_?

3. Saat lebaran, kita terbiasa menggunakan baju baru, dengan maksud tahadduts bin ni’mah, tetapi oleh orang lain dianggap riya’. Sebenarnya, bagaimana hadd dan dlabith antara _Tahadduts bin Ni’mah_ dengan _Riya’_?

Dan pelbagai masalah lainnya. Pembahasan seputar permasalahan tersebut boleh jadi sudah ada dalam kajian terdahulu, namun barangkali masih terserak di berbagai kitab yang berbeda dan belum ada yang menyatukan dalam satu kajian yang utuh dan komprehensif seputar mudik saja.

Sebuah peluang bagi pengajar maupun pembelajar studi keIslaman untuk membahas hal tersebut dan menelurkannya dalam sebuah _majmu’ah_ dengan tema besar “Fiqh Mudik”.

Leave a comment