Pelatihan Berkelanjutan Pasca Ramadhan ; Materi Khutbah Idul Fitri 1437 H 36


 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا فمن يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أرسله بالحق بشيرا ونذيرا وهاديا إلى صراطا مستقيما. وصلى الله على محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا.
الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.
أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.
قال الله تعالى في كتابه الكريم. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون.
الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر ، ولله الحمد

Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Gema takbir, tahlil dan tahmid kita kumandangkan dalam rangka mengagungkan keagungan ilahi rabbi, mengesakan-Nya dan memuji kuasa-Nya. Kita hadir di sini dengan wajah berseri pertanda manusia yang berbahagia telah menunaikan puasa selama bulan Ramadhan. Kita berbahagia karena telah mengalahkan musuh kita berupa hawa nafsu di bulan Ramadhan. Tiada yang lebih menggembirakan bagi seorang mukmin selain mampu mengalahkan hawa nafsu, karena hawa nafsu merupakan musuh terbesar dalam kehidupan seorang manusia yang beriman.
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Namun kebahagiaan atas kemenangan tersebut sejatinya tidaklah berarti apa-apa jika pada sebelas bulan di luar bulan ramadhan kita masih saja menuruti hawa nafsu. Apa yang terjadi selama satu bulan kemarin ibaratnya ada pada sebuah arena latihan, dimana praktek riil-nya baru akan kita tempuh pada sebelas bulan yang akan datang, lalu kemudian dilatih lagi pada bulan Ramadhan yang akan datang. Pada bulan ramadhan kita dapat dengan mudah mengalahkan hawa nafsu selain karena faktor internal berupa ketaatan terhadap Allah, juga karena faktor eksternal berupa lingkungan yang mendukung. Mayoritas masyarakat berpuasa, lantunan ayat Allah dibacakan dari setiap masjid dan musholla, bahkan aktifitas di balik layar kaca diisi kegiatan yang mendukung kita untuk mengalahkan hawa nafsu. Tapi di luar bulan puasa?
Untuk itulah perlunya pelatihan yang berkelanjutan (sustainable exercise) agar latihan yang kita laksanakan selama bulan ramadhan dapat terus dilaksanakan pada sebelas bulan yang akan datang. Ibarat seorang atlit yang baru keluar dari pelatihan, harus tetap menjaga latihannya agar siap bertarung melawan musuhnya kapan saja. Jika latihan tersebut tidak dilanjutkan, maka tentu kita akan tergolong manusia yang tidak membawa oleh-oleh apapun dari bulan puasa kecuali lapar dan dahaga, sebagaimana sabda Rasul :
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ – رواه أحمد والدارمي
Berapa banyak orang yang berpuasa, yang diperolehnya dari puasa itu hanyalah lapar belaka dan berapa banyak orang yang bangun malam untuk beribadah, namun yang diperolehnya dari bangun malam itu hanyalah keletihan tidak tidur belaka [HR Ahmad dan ad-Darimi].
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Ada beberapa dimensi yang telah kita capai selama bulan Ramadhan yang menjadikan kita layak dinobatkan sebagai pemenang. Dimensi pertama adalah dimensi intelektual. Hal tersebut mengingat bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan (syahr al tarbiyah). Intelektualitas kita benar-benar diasah selama bulan ramadhan. Kajian keagamaan tersebar sepanjang waktu, mulai kajian sahur, kajian subuh, kajian dhuha, dan sebagainya. Bahkan pada saat-saat tertentu kita disuguhi tayangan televisi berupa perlombaan ceramah sebagai salah satu sarana kita untuk belajar keagamaan. Tentu hal tersebut membantu kita untuk meningkatkan kualitas kita di hadapan Allah dan mengalahkan hawa nafsu. Firman Allah
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan. (QS Al Mujadilah 11)
Salah satu pertanda meningkatnya dimensi intelektual kita adalah kita semakin jeli dalam mengolah informasi apapun yang disampaikan kepada kita. Pada era modern ini arus informasi mengalir sangat deras. Tanpa ada kontrol yang kuat maka kita akan tergelincir karenanya. Sebagai bukti meningkatnya dimensi intelektual kita, maka kita harus bertabayyun atas setiap informasi yang disampaikan kepada kita. Tidak kemudian menelan info tersebut mentah-mentah tanpa melakukan klarifikasi. Selama bulan Ramadhan kemarin kita dilatih untuk jeli menerima informasi. Ketika terdengar sayup-sayup suara adzan maghrib, kita tidak langsung berbuka, namun terlebih dahulu melakukan klarifikasi, dari mana adzan tersebut terdengar. Apakah benar itu adzan dari masjid sekita atau dari televisi yang disiarkan dari stasiun daerah lain. Jangan sampai kejelian tersebut hilang setelah bulan Ramadhan.
Firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia
Dimensi yang kedua adalah dimensi sosial. Selama bulan ramadhan, sensitifitas sosial kita benar-benar diasah. Kita terbiasa berbagi dengan masyarakat dalam bentuk pembagian takjil, kita sisihkan sebagian harta kita dalam bentuk zakat, infaq dan shodaqoh, serta kita akhiri bulan ramadhan dengan membayar zakat fitrah. Kesemuanya kita laksanakan dengan ikhlas tanpa mengharap apapun selain keridhaan Allah Ta’ala. Terdapat sebuah kisah yang menggambarkan tingginya dimensi sosial yang dimiliki shahabat Utsman ibn Affan. Pada suatu masa datang musim paceklik yang dialami masyarakat Madinah. Hanya satu sumber yang mengeluarkan air yakni sumur milik seorang yahudi bernama Raumah. Ia mengambil keuntungan dengan menjual air dari sumur tersebut dengan harga yang sangat tinggi. Kemudian Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa mampu membebaskan sumur tersebut maka akan dibalas surga oleh Allah. Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya.
“Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.
“Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.
Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.
Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham (kurang lebih setara dengan Rp. 600 Juta), maka sumur Raumah menjadi milik Utsman secara penuh.
Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya. Dari sumur tersebut tumbuhlah di sekitarnya ladang kurma yang hingga saat ini dikelola oleh pemerintah dan keuntungannya dibagi separuh untuk masyarakat tidak mampu, serta anak-anak yatim, kemudian sisanya ditabung di rekening atas nama Utsman ibn Affan.

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia
Dimensi ketiga sebagai penentu kemenangan kita adalah dimensi spiritual. Ini dibuktikan dengan meningkatnya ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala. Seseorang yang bertaqwa kepada Allah maka niscaya kehidupannya akan selalu dimudahkan oleh Allah. Ketaqwaan kepada Allah tidak hanya bermanfaat bagi diri kita saja, namun juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar kita.
Allah berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS AL A’raf 96)
Allahu akbar, Allahu akbar. Laa Ilaha Illallah, Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd.
Jamaah Idul Fitri yang berbahagia,
Akhirnya marilah kita menundukkan kepala memohon kepada Allah semoga Allah senantiasa memberi kekuatan bagi kita untuk berlatih mengasah ketiga dimensi tersebut di luar bulan Ramadhan, dan semoga puasa yang telah kita laksanakan selama sebulan kemarin dapat membawa dampak positif bagi kita pada sebelas bulan yang akan datang, baik dari dimensi intelektual, dimensi sosial dan dimensi spiritual.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات ، إنك سميع قريب مجيب الدعوات،
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب،
ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين . اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه، اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى،
. ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما . ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار . ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم . وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم . والحمد لله رب العالمين .
والسلام عليكم لارحمة الله وبركاته

IMG-20160705-WA0000

 

 

Leave a comment