Permainan-pun Jadi Obyek Penyesatan Informasi, Indonesia Darurat “Hoax”? 5


 

Media sosial tak dapat dinafikan memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satunya terkait penyebaran informasi yang sangat cepat dan tanpa batas. Sebuah informasi yang beredar dalam satu kelompok (group) tertentu dapat dengan mudah beredar kepada kelompok lain hanya dalam hitungan detik. Namun hal tersebut bukan berarti tanpa sisi negatif. Salah satunya adalah berita apapun sangat mudah tersebar tanpa memperdulikan validitas berita. Apabila berita yang beredar tersebut adalah benar, maka tentu akan membawa dampak positif dan dapat mencerdaskan masyarakat. Namun apabila ternyata berita yang tersebar tersebut adalah berita palsu maka tentu sama saja dengan membodohkan masyarakat.

Akhir-akhir ini, berita palsu atau dalam bahasa gaul ala medsos disebut berita Hoax sangat mudah ditemukan, baik yang berlatar belakang pendidikan, politik, sains, agama, kuliner bahkan hiburan. Pada bidang pendidikan misalnya ada penyesatan informasi berupa kabar “katanya” sertifikasi guru akan dihapus. Kabar tersebut sontak mengagetkan para “pahlawan tanpa tanda jasa”. Bahkan, sebagian lain mengutuk para pengambil kebijakan tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi kebenaran info tersebut. Beberapa saat kemudian, terbukti bahwa informasi tersebut adalah tidak benar dan info tersebut dihembuskan oleh pihak yang anti dengan pemerintah agar mendapat dukungan dari guru (sebagai salah satu profesi yang banyak digeluti masyarakat) untuk bersama mengutuk pemerintah.

Pada bidang politik misal kabar terbaru tentang kedatangan puluhan juta imigram dari cina dalam rangka “menjajah” Indonesia. Bahkan, kabar tersebut didorong oleh seorang profesor bidang hukum. Sayangnya, kabar tersebut dikarenakan merupakan kabar palsu dengan niat yang kotor, maka tentu banyak celah yang dapat mematahkan kabar tersebut. Misalnya, tentang penyebutan angka 10 juta imigran. Para pecinta hoax menyangka angka tersebut adalah imigran yang direncanakan masuk ke Indonesia. Padahal, angka tersebut adalah angka total kunjungan turis China ke Indonesia mulai ditandatanganinya perjanjian kerjasama bidang pariwisata hingga tahun 2019. Selain itu, beberapa info menunjukkan bahwa pembuat hoax tersebut mengarang secara asal-asalan, misal mengatakan bahwa imigran china tersebut masuk menggunakan pesawat dengan kode tertentu, yang setelah ditelusuri ternyata itu adalah kode penerbangan dari Arab Saudi. Jauh sekali bukan?.

Pada bidang sains, pertarungan antara bumi datar dan bumi bulat yang akhir-akhir ini kembali mencuat menunjukkan bahwa para pecinta hoax senantiasa mendiskusikan hal yang telah dibahas ratusan tahun silam. Kabar hoax lain misal tentang seorang yang dikeluarkan dari NASA karena menyembunyikan rahasia malam lailatul qodar yang itu sebenarnya dapat dilihat dari luar angkasa. Dalam berita hoax tersebut dikisahkan akhirnya astronot tersebut berpindah keyakinan akibat keajaiban yang ia saksikan tersebut. Pada bidang agama, lebih parah lagi. Betapa banyak informasi palsu seputar agama yang beredar di masyarakat. Misal, tentang larangan membuka situs tertentu pada hari tertentu karena situs tersebut dianggap telah melakukan penghinaan terhadap sosok yang ditokohkan dalam agama tertentu. Hal tersebut adalah berita tidak benar yang sampai saat ini masih saja ada yang mengedarkan melalui media sosial.

Pada bidang kuliner, masyarakat sempat dihebohkan berita hoax tentang beberapa minuman yang katanya menggunakan gula berlebih. Agar tampak meyakinkan, hoax tersebut mendompleng nama seorang dokter. Setelah ditelurusi, ternyata dokter tersebut tidak pernagh merilis data minuman yang dalam berita hoax tersebut disebut sebagai minuman berbahaya. Dalam hal hiburan, yang terbaru ada game Pokemon-Go yang tidak luput dari kejaran pecinta hoax. Dengan membawa nama akademisi bidang psikologi, ada pecinta hoax yang menjelekkan game tersebut dan mengatakan kalau game tersebut adalah upaya asing memata-matai indonesia. Parahnya, ada pecinta hoax yang lain mengatakan bahwa Pokemon berasal dari bahasa syriac berarti Yahudi, dan ungkapan lain yang senada. Ngawur kebablasan !

Mengapa masyarakat kita menjad “sasaran empuk” bagi penyebar berita hoax? Jawabnya adalah karena hilangnya budaya klarifikasi atau tabayyun dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah budaya kagetan dan nggumunan yang ada di masyarakat, membuat berita palsu mudah beredar melalui sosial media. Solusinya adalah dengan membiasakan diri untuk menjadi muslim yang cerdas dalam ber-sosial media.

 

Selengkapnya ada di catatan saya yang ini

Leave a comment