35 Logical Fallacy dalam Diskusi Keagamaan di Sekitar Kita (Jenis dan Contohnya) Part 1 8


Apa Itu Logical Fallacy?
Logical Fallacy adalah kesalahan dalam melakukan penalaran. Dalam berbagai diskusi, kita sering menemukan adanya penalaran yang tidak tepat, meskipun sekilas tampaknya hal tersebut benar. Misalnya jika ada seseorang yang meneliti tentang hubungan antara ukuran sepatu dengan tingkat perceraian, kemudian meneliti pelaku perceraian memiliki ukuran sepatu apa saja, kemudian ditabulasi dan dipresentasikan. Seolah hal tersebut benar karena berbasis data, namun dalam hal ini ada kesalahan penalaran sehingga hasil penelitian tersebut layak untuk diabaikan.
Logical fallacy ini terjadi ada yang disengaja, ada pula yang tidak. Secara umum, ada tiga penyebab terjadinya logical fallacy, yakni :
(1) untuk membungkam lawan diskusi. Banyak pelaku diskusi yang bermain logical fallacy dimana ia memainkan kesalahan penalaran dengan sengaja agar lawan diskusinya tidak lagi menyerangnya.
(2) Karena Tidak Tahu. Tidak sedikit masyarakat mengeluarkan argumen dalam diskusi, yang ujungnya secaratidak sadar ia melakukan kesalahan penalaran
(3) Kehabisan argumentasi. Seringkali diskusi diakhiri dengan kebuntuan sehingga harus melakukan logical fallacy agar diskusi tetap menghangat
Berikut contoh Logical Fallacy dalam diskusi keagamaan di sekitar kita :
1. Argumentum Ad Hominem. Argumentasi disusun bukan dengan menyerang argumen lawan tetapi menyerang pribadi lawan. Dapat pula dengan maksud justifikasi bukan dengan menguatkan argumentasi sendiri namun dengan menonjolkan kekuatan pribadinya di bandingkan lawan.
Contoh 1 : (A) Menurut tafsir blablabla dijelaskan blablabla, (B) Halah, tau apa kau tentang tafsir, lulusan teknik elektro penggemar drama korea, tiap hari mainan game mulu, sok tau tafsir.
Contoh 2 : (B) Jangan ragu dengan pendapat saya, saya itu orangnya biasa diminta mengisi pengajian di sana sini, jamaah saya banyak, dsb, dsb.
Dalam kedua contoh tersebut, si (B) telah melakukan Logical Fallacy
2. Strawman, membuat interpretasi yang salah tentang argumen agar mudah dipatahkan.
Contoh : (A) Seorang muslim harus penuh kasih sayang, meniru sifat Allah yakni Arrahman dan Arrahim. (B) Tidak ada yang bisa menyamai Allah, laitsa kamitslihi syaiun,..
Dalam contoh tersebut, si (B) telah melakukan Logical Fallacy
3. Appeal to Emotion, mengedepankan sisi emosi daripada kenyataan.
Contoh : (A) Kamu mengaji sana biar hidupmu tenang, (B) Jadi kau fikir selama ini hidupku gak tenang?
4. Masked Man, yakni seakan kita mengetahui banyak perihal sesuatu padahal ada sisi lain yang tidak kita tahu.
Contoh, si A tersangka terorisme, (B) Tidak mungkin!, ia orangbaik, rajin beribadah, suka membantu sesama, bla bla bla.
Dalam contoh tersebut, si (B) telah melakukan Logical Fallacy
5. Guilt by Association, Melakukan generalisir terhadap sesuatu hal yang pada dasarnya tidak berkaitan. Dikenal juga dengan Hasty of Generalization (penggeneralisiran yang terburu-buru)
Contoh 1, si A mendapat tawaran beasiswa di Amerika, (B) Pasti itubeasiswa untuk mencetak antek asing, beasiswa zionis, dsb, dsb.
Contoh 2, si A muslim taat, dan memiliki pandangan toleran, si X muslim begajulan, dan memiliki pandangan toleran pula. Si B menyimpulkan bahwa yang hobi toleransi adalah muslim begajulan karena melihat profi si X, (si A disamakan dengan si X)
Contoh 3, Mayoritas teroris beragama Islam, kesimpulannya Islam mengajarkan terorisme.
6. Fallacy of Fallacy, adalah kesimpulan mengambil kesimpulan yang salah dari penalaran yang salah pula.
Contoh : 1. Mayoritas teroris yang ditangkap beragama Islam, berarti Islam adalah agama teroris. (Ini fallacy pertama) Kalau begitu, agama selain Islam bukan agam teroris (ini fallacy kedua, atau fallacy of fallacy)
7. Slippery Slope, yakni membayangkan efek yang melebar dari sebuah argumen
Contoh : toleransi itu haram, kalau sekarang kita baikan dengan orang kafir, lama-lama anak kita menjadi kafir, generasi penerus kita menjadi kafir, bla bla bla.
8. Argumentum Ad Verecundiam, yakni meyakini kebenaran berdasar orang di balik argumen, hampir mirip ad hominem
Contoh : Ulama A, B, C, D telah memfatwakan seperti ini, kamu kok berfikir berbeda, saya jelas lebih percaya mereka daripada kamu yang lulus kuliah saja belum.
9. To Quoque, menjawab sebuah kritikan dengan kritikan lain, bukan dengan argumen. Dikenal juga dg Appeal to Hipocrisy,
Contoh 1 : (A) Sebagai seorang muslim, kita harus berbuat ihsan, amar makruf, bla bla bla, (B) Halah, situ aja subuh sering kelewatan sok nasehatin orang.
Contoh 2 : (A) Kalau baca Quran harus dg suara yang bagus (B) Halah, suara adzan kau cempreng tapi kau keraskan juga
Dalam contoh tersebut, mungkin keduanya punya kesalahan, tetapi secara penalaran, si (B) telah melakukan Logical Fallacy
10. Personal Incredulity, Menganggap sesuatu itu tidak ada karena sulit dibuktikan keberadaannya
Contoh : (B) Mana ada orang bekerja tapi ikhlas begitu saja, palingan juga dia dibayar.

 

Selanjutnya

Leave a comment