Logika Rombongan Kereta Api (Bandwagon) 81


Naik kereta api, tuut tuut tuut,
Siapa hendak turut,
Ke Bandung, Surabaya,
Dst… Dst..

p_20160726_161043

Masa kanak-kanak kita mungkin akan sangat indah ditemani lagu tersebut. “Bocah” saya sering mendendangkannya dalam senandung lirih saat jalan-jalan menikmati asrinya suasana pedesaan. Mungkin, ia bernyanyi sambil mengingat ulang beberapa kali saya ajak naik kereta api ketika pulang kampung.

 

Dipandang dari sudut pandang transportasi, penggunaan Kereta Api tentu sangat bermanfaat dalam mengurai kepadatan lalu lintas. Masyarakat yang biasanya memenuhi jalan dengan kendaraan pribadi dapat berpindah ke kendaraan umum yang mampu menampung hingga ratusan orang dalam satu rombongan. Tentu keberadaan Kereta Api yang nyaman sangat diharapkan oleh banyak orang.

 

Namun dalam penalaran, Logika “Rombongan Kereta Api” (Bandwagon) menjadi suatu penalaran yang tak diharapkan, dianggap salah, bahkan masuk dalam logical fallacy (kesalahan penalaran). Dalam logika ini, kebenaran tidak diukur dari kekuatan argumen yang melatarbelakanginya, namun dari banyak atau tidaknya orang yang mempercayai hal tersebut sebagai kebenaran. Jika kesalahan penalaran ini dibiarkan, maka ini akan menjadi benih bangkitnya hukum rimba pada masyarakat kita.

 

Cukup banyak contoh penerapan bandwagon pada masyarakat kita. Pelanggaran lalu lintas misalnya. Jika ada seseorang yang naik ke trotoar, maka perlahan di belakangnya akan muncul berderet pelanggar lain karena merasa ada pembiaran terhadap kesalahan yang awal sehingga pelanggar yang di belakang tidak merasa bersalah.

 

Dalam berbagai skala, kriminalitas bermula dari kesalahan berfikir ini. Mengambil patok batas tanah sepuluh senti dianggap wajar, lalu lama kelamaan ambil ambil sepuluh senti lagi dan seterusnya hingga patok batas tanah lari dari tempat sewajarnya.

 

Menggelapkan anggaran seharga sepuluh ribu dianggap normal, lalu banyak orang yang juga melakukan, hingga perlahan meningkat pada jumlah yang lebih besar. Mengambil satu singkong dianggap normal, lalu banyak orang yang datang ke sawah untuk mengambil, hingga ludeslah seisi sawah itu. Seekor kecoa masuk rumah dianggap wajar, lama-lama beranak-pinaklah kecoa tersebut hingga rusaklah seisi almari. Mereka memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama melakukan penalaran ala rombongan kereta. Menganggap suatu kesalahan dapat menjadi legitimasi bagi kesalahan yang datang kemudian.

 

Coretan di meja sekolah menjadi dalil untuk memberikan coretan-coretan lain, pembakaran masjid menjadi legitimasi bagi pembakaran rumah ibadah yang lain. Politisasi mimbar gereja oleh JE Sahetapy menjadi pembenaran kampanye di Masjid, penggunaan budaya pop menjadi seolah meninggalkan kebudayaan asli nusantara itu benar, serta berbagai contoh “kejahatan” lain yang diinspirasi dari kejahatan serupa. Kesemuanya sama-sama salah, dan sama-sama tidak dapat menjadi legitimasi bagi kejahatan-kejahatan yang lain.

 

Terakhir, semoga kita diberi kekuatan untuk duduk bersama rombongan yang benar, romongan tersebut berjalan di atas jalur yang benar dan berhenti pada stasiun yang benar.

 

Salam.

 

Gambar hanya pemanis, bukti dari kesalahan akibat “bandwagon”.

Leave a comment