Terjebak Dalam Postingan 5


 

Era “medsos” saat ini mendorong informasi untuk melesat secepat kilat menyebar kepada seluruh lapisan masyarakat. Budaya berbagi (share) yang ada pada masyarakat kita mempercepat penyebaran info tersebut.

readcwbooks.com

readcwbooks.com

Sayangnya, tidak sedikit pelaku share yang tifak meneliti terlebih dahulu perihal apa yang ia bagikan. Jika sebelumnya kita sering menemui bahwa informasi yang dibagikan ternyata info palsu atau hoax, akhir-akhir ini kita juga menemukan kasus dimana informasi yang disebarkan benar dan berdasarkan referensi yang valid, hanya saja apa yang disebar tersebut bertentangan dengan perilaku yang membagikan.

Alih-alih tampak ingin berbagi nasehat kepada orang lain, dalam hal ini yang terjadi adalah bagai menepuk air di selokan, maksud hati menampar orang lain, apa daya muka sendiri yang terciprat airnya.

Misal dalam share info kisah Buya Hamka yang ditanyai perihal keberadaan pelacur di Makkah. Intisari kisah tersebut adalah seseorang akan menemukan (dan mengungkapkan) apa yang ia cari. Jika ia mencari hal buruk ya yang akan ia bawa sebagai oleh-oleh adalah keburukan tersebut. Jika ia memang berniat mencari kebaikan maka itulah yang akan didapat.

Banyak kawan yang membagi kisah tersebut melalui media sosial, bahkan tak jarang ada yang berbagi secara privat. Untuk yang terakhir ini, sebagian besar saya balas dengan ucapan terimakasih teriring doa semoga kita dapat meneladaninya. Namun sebagian yang lain butuh perlakuan khusus hingga saya jawab “Lha kalau selama ini kau selalu mencaci pemimpin A kafir dholim, kelompok B sesat jahannam, golongan C liberal antek asing aseng, apa kau memang berniat mencari keburukan dari mereka? kok kau begitu paham tentang keburukan mereka. Apa bedanya kau dengan orang yang menemukan pelacur di kota Makkah al Mukarromah?”

Leave a comment