BERISLAM SECARA KAFFAH (Menjadi Sarjana Islam Seutuhnya Pasca PMA No 33 Tahun 2016) 6


BERISLAM SECARA KAFFAH

(Menjadi Sarjana Islam Seutuhnya Pasca PMA No 33 Tahun 2016)

 

Pak Fulan adalah seseorang yang ingin masuk Islam secara “kaffah.” Ia merasa sudah melakukan Islamisasi terhadap semua yang ada dalam kehidupan dirinya. Hanya satu yang belum. Mobil Kijangnya! Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum karena mendapat ide. Ia masuk ke garasi, mengambil gergaji dan memotong knalpot mobil itu. Ketika ditanya istrinya tentang apa yang ia lakukan, Pak Fulan dengan santai menjawab bahwa ia sedang menyunat (khitan) mobilnya.

Cerita dari Bakdi Sumanto, dikutip oleh Kuntowijoyo.

–=+=–

Kisah di atas merupakan sentilan terkait bagaimana penerapan idiom “ber-Islam secara Kaffah” pada masyarakat. Islamisasi yang dimunculkan berhenti pada wilayah simbol, dan terkadang sama sekali tidak menyentuh wilayah substansial. Karena proses Islamisasi tersebut berputar pada wilayah simbol, maka yang penting untuk di-Islam-kan adalah tampilan luarnya. Masalah isinya apakah sesuai dengan Islam ataukah tidak itu tidak (atau belum) menjadi persoalan. Dalam hal keilmuan tampaknya tak jauh berbeda. Tidak sedikit masyarakat yang mengutamakan polesan daripada isi. Sebuah lembaga pendidikan berlabel Islam dianggap lebih “islami” daripada yang tidak menggunakan label tersebut. Dikotomi keilmuan tersebut merupakan “oleh-oleh” dari diferensiasi dan otonomisasi ilmu dari agama pada masa aufklarung di barat. Padahal, dikotomi seperti ini pada dasarnya tidak dikenal dalam Islam.

Upaya untuk melebur dikotomi tersebut terlihat dari paradigma keilmuan di berbagai Universitas Islam Negeri yang terlihat memiliki spirit yang sama, yakni tentang bagaimana ber-Islam secara Kaffah dilaksanakan.UIN Sunan Ampel Surabaya dengan paradigma keilmuan Integrated Twin Tower (Menara Kembar Tersambung) memandang pertumbuhan ilmu Keislaman dan ilmu yang lain berkembang sesuai dengan karakter dan obyek spesifik yang dimiliki, tetapi dapat saling menyapa, bertemu dan mengaitkan diri satu sama lain dalam suatu pertumbuhan yang terkoneksi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggunakan paradigma integrasi keilmuan Dialogis Universal dengan tagline Knowledge, Piety, Integrity. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggunakan paradigma Integratif Universal. UIN Sunan Kalijaga mengangkat paradigma Integratif-Interkonektif. Kesemuanya memandang adanya hubungan antara ilmu umum dan ilmu agama yang kemudian dihubungkan secara substantif, tidak hanya pada wilayah kulit.

Dalam Peraturan Menteri Agama no 33, ditetapkan berbagai gelar akademik pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Hal yang tampak pada peraturan tersebut dibandingan dengan peraturan sebelumnya (no 36 tahun 2009), adalah penghilangan kata “Islam” dalam setiap gelar. Lulusan program studi Pendidikan Islam yang awalnya mendapat gelar S.Pd.I. diubah menjadi S.Pd. Begitu pula sarjana keagamaan yang lain. Dalam hal ini, terlihat dihapuskannya dikotomi keilmuan tersebut dan gelar tersebut benar-benar diberikan sesuai bidang ilmu yang ada, antara lain Ilmu Pendidikan, Ilmu Hukum, Ilmu Sosial dan sebagainya, tanpa memandang itu berasal dari fakultas umum maupun fakultas agama. Dalam hal ini, ber-Islam secara kaffah dapat dilaksanakan dengan membawa dan mengaplikasikan gelar tersebut sepenuhnya dengan didasari pengetahuan dan spirit ke-Islaman. Kulitnya sama sekali tidak menampakkan kata “Islam” sebagaimana gelar yang diberikan dalam PMA sebelumnya, namun isinya dalam hal ini perilaku sarjana tersebut dapat menunjukkan wajah Islam yang sebenar-benarnya. Islam substantif, bukan Islam simbolis.

Sebuah anekdot lain (meski terdapat logical fallacy di dalamnya) tentang pertentangan simbol dan substansi terkandung dalam pertanyaan, “mana yang anda pilih untuk dikonsumsi, minyak babi cap onta atau minyak onta cap babi?”.

 

 

Leave a comment