Hukum Islam ; Antara Kontinuitas dan Fleksibilitas 13


 

 

Seorang suami yang baru pulang dari Singapura membawakan oleh-oleh coklat kepada istrinya. Sang istri menerima dengan gembira sambil berkata “Terimakasih, Kau tahu kalau aku suka coklat. Lagian coklat itu bagus untuk perut”, katanya. Esoknya, suaminya pulang dari Swiss, yang merupakan pusat coklat dunia. Sayangnya, ia pulang dengan tidak membawa coklat sepotongpun. Mengetahui hal tersebut, sang istri tetap tersenyum sambil berkata “Sudah, tidak apa-apa. Lagi pula coklat itu tidak baik untuk gigi”, katanya.

“Jadi yang benar mana? Coklat itu baik apa tidak?” tanya suami yang bingung dengan jawaban istri. Dengan santai, sang istri menjawab “Tergantung coklatnya, ada atau tidak”.

 

(Diubah dari kisah Nasrudin Hoja)

_____________+=+_____________

 

Dialog imajiner di atas menggambarkan bagaimana hukum sesuatu hal dapat berubah, bahkan hingga seratus persen.Begitu pula dalam Hukum Islam, sebuah produk hukum Islam dapat berubah. Perubahan tersebut menunjukkan sisi dinamis Hukum Islam, atau dalam istilah lain disebut Fleksibilitas Hukum Islam. Fleksibilitas tersebut terjadi tentu bukan tanpa alasan. Alasan itu yang dalam Hukum Islam disebut ‘Illat. Salah satu Kaidah Fiqh menyebutkan :

الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا

“Hukum itu berputar bersama illat (sebab)-nya, ada dan tidaknya.”

Perputaran dan perubahan hukum merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dinafikan. Sebuah produk hukum yang dihasilkan oleh seorang mufti belum tentu dapat dipraktekkan sama persis oleh ummat yang berada pada daerah yang berbeda. Begitu pula pendapat mufti yang dikeluarkan beberapa abad silam, belum tentu dapat diterapkan saat ini. Hal tersebut berkaitan dengan berbagai faktor yang dapat memengaruhi perubahan hukum. Setudaknya ada lima faktor yang memengaruhi perubahan hukum, yakni perubahan (1) masa, (2) waktu, (3) keadaan, (4) kebiasaan dan (5) niat. Adanya perubahan pada salah satu dari lima hal tersebut dapat menjadi alasan (‘illat) berubahnya sebuah hukum.

 

Dalam shalat misalnya, berdiri hukumnya wajib, tetapi jika keadaannya tidak memungkinkan maka dapat dilaksanakan dengan duduk, berbaring dan seterusnya. Shalatnya tetap wajib, akan tetapi pelaksanaannya yang fleksibel dan dapat berubah sesuai keadaan. Begitu pula dalam hal menghilangkan nyawa orang, jika niatnya untuk mempertahankan diri dari kejahatan orang lain tentu bukan merupakan suatu kesalahan yang harus dihukum.

 

Oleh karenanya, sangat tidak mungkin sebuah hukum berlaku tetap selamanya tanpa ada perubahan sedikitpun. Mustahil nash dapat menyelesaikan permasalahan kontemporer yang terus berkembang. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan lain selain pendekatan naqli untuk menyelesaikan permasalahan yang pasti terus bermunculan. Sebuah kaidah menyebutkan al-qadhâya al-fiqhiyyah mutajaddidah wa mutazâyidah wa al-nushûsh tsâbitah wa mutanâhiyah, Permasalahan Hukum Islam itu terus diperbaharui dan terus bertambah, sementara nash itu tetap dan terbatas.

 

Adanya anggapan bahwa Hukum Islam bersifat tetap dan tidak mungkin berubah disebabkan ketidakmauan menerima kenyataan munculnya pendapat yang berbeda dengan apa yang selama ini diyakini. Selain itu, menolak fleksibilitas Hukum Islam, selain bertentangan dengan konsep Islam Rahmatan lil Alamin, serta tidak sesuai dengan konsep Islam yang Shalihun li kulli zaman, dapat diterapkan di segala masa. Bagaimana mungkin Islam dapat diterapkan di segala zaman, jika tidak mengikuti perkembangan zaman yang terjadi?.

 

Kisah lain dari Nasruddin Hoja menggambarkan perubahan yang berkaitan dengan niat pelakunya. Silahkah disimak.

Nasrudin menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali.

“Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?” tanya raja kepada Nasrudin.
“Teramat baik, Tuanku.”

Maka raja meminta dimasakkan sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk yang kesepuluh kali memasak masakan yang sama, raja berteriak:

“Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!”
“Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku.” ujar Nasrudin.
“Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik.”
“Memang benar. Tapi saya pelayan raja, bukan pelayan sayuran.”

 

 

Leave a comment