Malpraktik Hukum Islam 33


Di kampung sebelah utara, ada seorang dokter yang membuka praktek dengan metode yang ia yakini cukup keren. Ia mampu mendiagnosa penyakit sekaligus tahu obatnya hanya dengan menempelkan punggung tangan di jidat pasien. Seketika berduyun-duyun masyarakat mendatangi tempat prakteknya sembari menyodorkan jidat di hadapan sang dokter untuk didiagnosa penyakit dan obatnya.

 

Sementara itu, di kampung selatan, seorang dokter lain mulai ditinggalkan pasiennya. Menurut masyarakat, untuk mengetahui penyakit dan obat dari pasien, dokter ini butuh waktu yang lama. Mulai dari periksa suhu tubuh dengan termometer, cek tekanan darah, bahkan hingga pemeriksaan lain yang sangat mendetail. Rangkaian proses tersebut menurut masyarakat menjadi hal yang njelimet sehingga hasil dari diagnosanya tidak bisa “bim salabim” keluar, sebagaimana dokter kampung sebelah. Walhasil, berduyun-duyun pasien langganannya beralih ke dokter kampung utara yang hanya menggunakan metode “tempel jidat” sebagai cara ampuh untuk mendiagnosa penyakit sekaligus menentukan obatnya.

 

Fenomena tersebut tampaknya juga berlaku dalam permasalahan Hukum Islam. Dalam ber-istinbath hukum, tidak sedikit ulama yang menggunakan metode yang njelimet dan mendetail. Saat menilai suatu permasalahan, usai membaca teks, ia terlebih dahulu mencari asbab an nuzul (sebab diturunkannya suatu ayat Quran) maupun asbab al wurud (sebab diucapkannya suatu hadits) dari teks tersebut, dilanjut membaca berbagai tafsir, pendapat para imam mazhab, hingga perselisihan ulama salaf, baru kemudian melakukan istinbath hukum dengan sangat hati-hati dan melampirkan pertimbangan yang mendetail baik dilihat dari sisi kajian ushul fiqh hingga mashlahah-nya. Ia baca secara detail teks tersebut, hingga klasifikasinya mulai masalah lafaz ‘Am-Khash, Mujmal-Mubayan, Mutlak-Muqayyad, Nasikh-Mansukh, Manthuq-Mafhum, mukhalafah-muwafaqah, dan sebagainya. Untuk memutuskan satu masalah saja ia bisa menghabiskan waktu yang tidak sebentar dan lebih dahulu menengok beberapa referensi mulai dari Matan A, Syarah B, Hasyiyah C, dan sebagainya.

 

Sayangnya, ulama semacam ini di era modern ini tidak terlalu disukai. Setidaknya, produk hukum dari ulama kelompok ini tidak banyak dirujuk. Masyarakat lebih memilih ulama yang simpel. Membaca teks, merumuskan terjemah dari teks tersebut, lalu menetapkan terjemah tersebut sebagai hukum, titik. Tafsir yang berlembar sekalipun akan dikalahkan dengan sebait terjemah. Sangat sederhana, sesederhana dokter yang mendiagnosa penyakit hanya dengan menempelkan jari di jidat pasiennya. Padahal, metode dokter yang simpel tersebut tentu akan rawan terjadinya salah diagnosa, dan berujung pada malpraktek. Jika Hukum Islam ditetapkan dengan metode sesederhana itu, bukankah itu juga akan memicu adanya malpraktek Hukum Islam? Na’udzubillahi min dzalik…

 

screenshot_20161023-112304

Leave a comment