Mashlahat dan Muslihat 27


Sebuah pertanyaan paling dasar bagi pembelajar Hukum Islam adalah, apa tujuan dari Hukum Islam? Pertanyaan ini menjadi sangat penting, karena seorang pembelajar wajib tahu tentang tujuan dari apa yang sedang ia pelajari. Seorang traveller akan tersesat jauh jika tidak mengetahui ke mana tujuan dari kendaraan yang sedang ia naiki.

Tujuan yang paling mendasar dari Hukum Islam adalah terciptanya “Mashlahat”. Dalam Muwaffaqat, Al Syathibi menyatakan “الاحكام مشروعة لمصالح العباد”, Hukum-hukum ditetapkan untuk mencapai ke-mashlahat-an hamba. Apa yang disampaikan oleh Al Syathibi tersebut memiliki kesesuaian dengan alasan diturunkannya Rasulullah SAW ke muka bumi, yakni sebagai Rahmatan lil Alamin. Firman Allah :

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya : Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiyaa: 107)

pelajaran-dari-buku-tulis

Mashlahat memiliki padanan kata Manfa’at, yakni tercapainya kebaikan hidup bagi manusia. Kebaikan inilah yang senantiasa kita harapkan dalam doa “sapu jagat”, yakni memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. (Rabbana aatina fiddunya hasanah, fa fil aakhirati hasanah).

 

Untuk mencapai tujuan utama yakni Mashlahat, maka ditetapkan lima unsur misi Hukum Islam, yang menurut Al-Ghazali dalam Mustashfa berisi 1) Memelihara agama (hifz al-dîn), 2) Memelihara jiwa (hifz al-nafs), 3) Memelihara akal (hifz al-‘aql), 4) Memelihara keturunan (hifz al-nasl), dan 5) Memelihara harta dan kehormatan (hifz al-mâl wa al-‘ird). Maka seluruh produk Hukum Islam harus mempertimbangkan satu atau lebih dari kelima hal tersebut. Larangan membunuh misalnya, berkaitan dengan misi ke dua, yakni memelihara jiwa. Begitu juga produk hukum yang lain, misalnya perintah bekerja, larangan mencuri, anjuran menikah, kewajiban belajar, dan sebagainya. Tanpa mempertimbangkan hal tersebut, maka produk hukum yang dikeluarkan akan menjadi seperti ruh tak bernyawa, karena tidak menyentuh maksud dari penetapan Hukum Islam, karena lima hal tersebut sebagai indikator ada atau tidaknya unsur kemashlahatan dalam Hukum Islam.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan Mashlahat sebagai sesuatu yang mendatangkan kebaikan (keselamatan dan sebagainya); faedah; guna:

 

Sayangnya, tidak sedikit yang beristinbath (menetapkan) Hukum Islam bukan dengan tujuan kemashlahatan. Para penjual produk tertentu, misalnya. Agar produknya semakin laris, maka dibuat alibi yang berdasarkan Hukum Islam, misal produk yang ia jual sunnah hukumnya untuk dikonsumsi. Tentu ini tidak berasas Mashlahat, tetapi atas dasar Muslihat.

Leave a comment